Bulog bidik omzet 2017 senilai Rp 51,4 triliun



JAKARTA. Perum Bulog akan fokus mengembangkan bisnis komersial pada tahun ini. Hal ini dilakukan seiring peningkatan penugasan kepada BUMN pangan ini untuk menjadi stabilisator harga pangan nasional, bukan hanya untuk komoditas beras, tapi juga komoditas pangan lainnya seperti gula, jagung, daging, minyak goreng dan kedelai.

Bahkan, dalam kondisi tertentu, Bulog juga harus menyerap bawang merah dan cabai.

Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti mengatakan, fungsi Bulog akan diperluas selain mendistribusikan komoditas pangan, juga akan membangun branding untuk produk-produknya. Upaya ini didukung dengan infrastruktur yang dimiliki Bulog yang tersebar di seluruh Indonesia.


"Ke depan Bulog akan masuk pada era pengenalan barang yang lebih baik, kami mulai membangun branding. Seperti menjual beras dengan merek Beras Kita, Daging Kita, Gula Kita dan sejumlah komoditas lainnya yang pakai branding Kita," ujar Djarot, Selasa (31/1).

Menurut Djarot, pihaknya akan mengembangkan fungsi komersial Bulog dengan menjaga kualitas produk yang dijual. Ia juga menjamin mutu produk yang dijual tetap terjaga dengan baik sama dengan produk-produk yang dijual pihak swasta. Bulog juga akan membuat tingkatan kualitas produk yang dijual ke konsumen dengan harga yang lebih murah ketimbang produk serupa yang dijual swasta tapi kualitas terbaik.

Dengan memperluas fungsi komersial Buog, Djarot optimistis Bulog dapat meraup omzet tahun 2017 sebesar Rp 51,4 triliun, dengan laba bersih sebesar Rp 1,1 triliun. Target itu lebih tinggi dari realisasi laba bersih 2016 sebesar Rp 841,67 miliar.

Untuk pengadaan beras dan gabah saja, Bulog menganggarkan modal sebesar Rp 37 triliun yang berasal dari pinjaman perbankan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News