KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani memastikan tidak ada kenaikan harga beras meskipun ada peningkatan biaya produksi imbas kenaikan harga kemasan plastik. Rizal mengatakan hal itu telah disepakati bersama dalam Rapat Bersama Presiden Prabowo Subinato di Istana Negara beberapa waktu lalu. "Sesuai dengan arahan Presiden saat rapat di istana kemarin memang sudah diputuskan tidak ada kenaikan pangan termasuk harga beras," kata Rizal dalam konferensi pers di Kantornya, Senin (13/4/2026).
Baca Juga: Panen Raya, Bulog Siapkan Anggaran Rp 68,6 Triliun Untuk Serap Gabah Petani Rizal menegaskan bahwa hal ini menjadi komitmen pemerintah untuk menjaga kebutuhan dasar masyarakat di tengah kondisi gejolak dunia yang tidak menentu. Rizal mengakui kenaikan harga plastik ini menjadi salah satu isu di seluruh industri termasuk beras. Untuk itu, pihaknya telah meminta kepada Kementerian Perindustrian untuk diberikan keringanan agar produksi beras tetap berjalan tanpa mengorbankan kualitas dan meningkatkan harga di tingkat konsumen. "Kita juga sudah rapat direksi, HPS-nya (Harga Perkiraan Sendiri) disesuaikan dengan kondisi sekarang, namun dengan harga yang betul-betul ditekan supaya
cost tidak terlalu tinggi," lanjut Rizal. Sebelumnya, Menteri Perdagangan Budi Santoso menjelaskan, kenaikan harga plastik terjadi karena terganggunya pasokan bahan baku biji plastik yang selama ini banyak diimpor dari kawasan Timur Tengah. Gangguan tersebut dipicu situasi konflik yang mempengaruhi rantai pasok global. "Kan memang kita itu impor bahan bakunya untuk biji plastik itu kan nafta yaitu dari Timur Tengah selama ini. Karena imbas perang sehingga terganggu," ujar Budi kepada awak media di Kantor Kemenko Perekonomian, Senin (13/4/2026).
Baca Juga: Laju Pertumbuhan Investasi RI Melambat, Terdampak Memanasnya Konflik Geopolitik Sebagai langkah antisipasi, Kementerian Perdagangan telah menjalin komunikasi dengan sejumlah produsen di negara lain untuk mencari sumber pasokan baru. Beberapa negara yang sedang dijajaki antara lain India, Amerika Serikat, dan sejumlah negara di Afrika. Menurut Budi, proses pengadaan dari negara alternatif tersebut sudah berjalan. Namun, pengalihan sumber pasokan membutuhkan waktu karena berkaitan dengan proses pengiriman dan penyesuaian distribusi. "Jadi pada prinsipnya kita cari solusi negara lain yang menyuplai bahan baku," katanya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News