Buma Internasional Cetak Peningkatan Efisiensi dan Produktivitas



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Buma Internasional Group Tbk (DOID) menyebut mencatat perbaikan kinerja di kuartal I -2026. Performa didukung oleh peningkatan produktivitas, efisiensi biaya, dan disiplin operasional, termasuk pembentukan tim ahli terpusat. 

Direktur BUMA International Group, Iwan Fuad Salim, mengatakan pemulihan kinerja yang dibangun sepanjang 2025 berlanjut pada kuartal pertama 2026 meski menghadapi tantangan musiman. 

“Perusahaan telah menuntaskan pembentukan tim ahli terpusat untuk memperkuat keahlian di seluruh operasi dan kini fokus pada eksekusi yang solid menjelang periode operasional yang lebih kering,” kata Iwan dalam keterangannya, Sabtu (30/5/2026).


Dia memaparkan, di Indonesia, jam kerja tidak produktif turun 14% secara tahunan, sementara produktivitas meningkat 1% seiring perbaikan kondisi operasional dan berkurangnya waktu antre. 

Baca Juga: Fondasi Lebih Kuat, Buma Internasional (DOID) Targetkan Pemulihan Kinerja Tahun Ini

Biaya operasional per bank cubic meter (BCM) turun 1%, biaya tenaga kerja susu 4% berkat efisiensi penempatan operator, sedangkan kenaikan biaya bahan bakar 3% hanya dipicu oleh harga yang lebih tinggi karena tingkat konsumsi tetap stabil. Biaya perbaikan dan pemeliharaan naik 13%,

Iwan menambahkan, pemulihan operasional berlanjut hingga April 2026. Volume pengupasan lapisan tanah penutup gabungan Indonesia dan Australia meningkat dari 26,4 juta bank cubic meter pada Februari menjadi 34,3 juta BCM pada April. Sementara itu, produksi batu bara mencapai 5,9 juta ton pada April. 

Kedua capaian tersebut masing-masing sekitar 16% dan 22% lebih tinggi dibandingkan rata-rata bulanan pada kuartal pertama 2026, didukung oleh pelaksanaan operasional yang lebih baik dan kondisi cuaca yang membaik.

Volume pengupasan lapisan tanah penutup turun 12% secara tahunan menjadi 89 juta BCM, sementara produksi batu bara turun 20% menjadi 15 juta ton. Penurunan ini terutama disebabkan berakhirnya kontrak di lokasi Binungan dan Burton (Australia), serta pengurangan aktivitas di dua lokasi tambang di Indonesia sepanjang 2025. Di luar faktor tersebut, kinerja lokasi tambang yang masih beroperasi normal relatif stabil.

Baca Juga: BUMA Internasional (DOID) Raih Perpanjangan Kontrak di Tambang Blackwater

Sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, pendapatan perseroan turun 10% secara tahunan menjadi US$318 juta, seiring berkurangnya jumlah kontrak aktif dalam portofolio perusahaan. Tapi, harga jual rata-rata (Average Selling Price/ASP) bisnis kontraktor pertambangan naik 3% berkat meningkatnya porsi kontrak dengan mekanisme penyesuaian harga (rise-and-fall) serta kenaikan tarif yang mengikuti pergerakan harga batu bara.

Perbaikan efisiensi dan kualitas pendapatan turut mendorong kenaikan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) menjadi US$28 juta, hampir dua kali lipat dibandingkan US$14 juta pada kuartal pertama 2025. Margin EBITDA juga meningkat menjadi 11% dari sebelumnya 5%.  “EBITDA hampir dua kali lipat secara tahunan berkat disiplin biaya dan peningkatan produktivitas,” ujar Iwan.

Alhasil, kerugian bersih DOID menyusut menjadi US$ 24 juta dari US$ 70 juta pada kuataI I-2025 didukung  pemulihan kinerja operasional, adanya keuntungan US$ 12 juta dari penjualan aset lahan dalam program optimisasi portofolio ACG, berkurangnya kerugian investasi di 29Metals sebesar US$ 12 juta, serta tidak berulangnya pencadangan piutang sebesar US$ 4 juta di Australia yang tercatat pada kuartal pertama 2025.

Belanja modal mencapai US$20 juta, sementara arus kas bebas berbalik positif menjadi US$2 juta dari negatif US$19 juta pada kuartal pertama 2025. Perbaikan ini didorong oleh penjualan lahan senilai US$17 juta, pemulihan EBITDA, dan belanja modal yang lebih rendah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News