KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT BUMA Internasional Grup Tbk (
DOID) memangkas kerugian pada periode paruh pertama tahun ini. Rugi bersih DOID menyusut sebanyak 31,75% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi US$ 50,64 juta hingga Juni 2026. Sebagai perbandingan, DOID membukukan rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai US$ 74,20 juta pada semester I-2025. DOID memangkas kerugian di tengah penurunan pendapatan. Sepanjang enam bulan pertama 2026, pendapatan bersih DOID tercatat merosot 5,11% (yoy) dari US$ 730,20 juta menjadi US$ 692,84 juta.
Pada saat yang sama, DOID memangkas beban pokok pendapatan sebanyak 8,5% (yoy) dari US$ 743,90 juta menjadi US$ 680,67 juta. Hasil ini membalikkan rugi bruto US$ 13,69 juta pada semester I-2025 menjadi laba bruto senilai US$ 12,17 juta pada semester I-2026.
Baca Juga: IHSG Dibuka Menguat ke 6.251,2 di Pagi Ini (3/8), Top Gainers LQ45: NCKL, MAPI, DEWA Namun setelah dijumlah dengan beban usaha, pendapatan dan beban keuangan serta pendapatan dan beban lain-lain, DOID masih membukukan rugi periode berjalan senilai US$ 49,82 juta hingga Juni 2026. Rugi DOID menurun 37,49% dibandingkan semester I-2025, yang kala itu tercatat sebesar US$ 79,70 juta. Direktur BUMA International Group, Iwan Fuad Salim mengungkapkan bahwa penurunan rugi bersih DOID pada semester I-2026 mencerminkan pemulihan EBITDA serta adanya dampak positif dari faktor-faktor non-operasional. Faktor-faktor tersebut meliputi keuntungan sebesar US$ 12 juta dari penjualan aset lahan milik Atlantic Carbon Group, Inc. (ACG), penurunan depresiasi dan amortisasi sebesar US$ 19,3 juta akibat berkurangnya basis aset yang dapat disusutkan setelah pelepasan dan penurunan nilai aset. Faktor lainnya adalah peningkatan keuntungan selisih kurs bersih sebesar US$ 11 juta. Dampak positif tersebut sebagian diimbangi oleh dampak negatif sebesar US$ 14,5 juta terkait investasi Grup di 29Metals. Sementara itu, Iwan menyoroti bahwa DOID membukukan pertumbuhan EBITDA di tengah penurunan pendapatan dan biaya non berulang (one-off costs). Posisi EBITDA DOID mengalami kenaikan sekitar 8% (yoy) dari US$ 64 juta menjadi US$ 69 juta pada semester I-2026. Iwan mengungkapkan bahwa pertumbuhan EBITDA tersebut mencerminkan pemulihan margin serta peningkatan efisiensi biaya di seluruh lini bisnis. Jika tidak memperhitungkan dampak kenaikan harga bahan bakar, EBITDA akan mendekati US$ 78 juta, yang menunjukkan kemajuan operasional sebagian tertutupi oleh dinamika biaya yang di luar kendali Grup. "Peningkatan EBITDA, perbaikan margin, dan penguatan arus kas bebas menunjukkan bahwa berbagai langkah yang telah kami jalankan selama setahun terakhir di seluruh area operasional, optimalisasi tenaga kerja, dan pemeliharaan, telah memberikan hasil, bahkan di tengah penurunan pendapatan dan lonjakan harga bahan bakar yang signifikan," ungkap Iwan melalui keterbukaan informasi pada akhir pekan lalu.
Secara operasional, aktivitas pengupasan dan pemindahan lapisan tanah penutup (overburden removal) dan produksi batubara DOID mengalami penurunan sepanjang paruh pertama tahun 2026. Total volume overburden removal DOID turun sekitar 11% (yoy) menjadi 186 juta bank cubic meter (bcm), sementara total produksi batubara merosot sekitar 16% (yoy) menjadi 32 juta ton. Penurunan kinerja operasional tersebut antara lain disebabkan oleh berakhirnya kontrak di site Binungan milik Berau Coal dan site IBP milik Resource Alam Indonesia, serta site Burton milik Bowen Coking Coal di Australia. Berakhirnya kontrak di sejumlah site tersebut disertai ramp-down di sejumlah operasi lainnya. Iwan memastikan, di luar site yang kontraknya telah berakhir atau mengalami ramp-down tersebut, operasi inti BUMA Internasional Grup tumbuh sekitar 9% (yoy) pada overburden removal dan 4% (yoy) pada produksi batubara. Hal tersebut didukung oleh peningkatan keandalan armada serta kondisi cuaca yang lebih kering, dengan penurunan jam hujan di Indonesia sebesar 10% (yoy) dan jumlah hari hujan di Australia sebesar 4% (yoy). Sementara itu, average selling price (ASP) jasa kontraktor pertambangan pada semester I-2026 meningkat sekitar 8% (yoy) dibandingkan semester I-2025. Capaian tersebut didorong oleh kenaikan pada kontrak riseand-fall maupun tier-price.
Baca Juga: Rupiah Dibuka Menguat Tipis ke Rp 18.013 Per Dolar AS Hari Ini (3/8), Asia Perkasa Iwan menyatakan bahwa perbaikan kinerja DOID menguat sepanjang kuartal kedua 2026. Ditandai dengan keandalan armada yang lebih baik, produktivitas yang lebih tinggi, serta peningkatan produksi. "Memasuki semester kedua, prioritas kami adalah melanjutkan momentum operasional ini, menjaga disiplin biaya dan modal, serta mengelola eksposur harga bahan bakar seiring upaya kami memperkuat perolehan arus kas,” ujar Iwan. Dari sisi belanja modal, realisasi capital expenditure (capex) DOID tercatat sebesar US$ 37 juta pada semester I-2026. Serapan capex DOID turun sekitar 67% dibandingkan realisasi senilai US$ 111 juta pada periode yang sama tahun lalu. Sebagian besar belanja modal tahun ini dialokasikan untuk kegiatan pemeliharaan guna menjaga keandalan armada dan mendukung keberlanjutan operasional. "Efisiensi belanja modal meningkat melalui optimalisasi armada dan pengalihan aset dari site yang telah berhenti beroperasi," jelas Iwan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News