Buma Internasional (DOID) Perkuat Bisnis Eksisting, Analis Rekomendasi Buy



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Buma Internasional Grup Tbk (DOID) memilih menjaga stabilitas operasional dan memperkuat kinerja bisnis yang sudah berjalan di tengah dinamika industri tambang dan volatilitas harga komoditas global.

Direktur PT Buma Internasional Grup Tbk (DOID) Iwan Fuad Salim mengatakan, hingga saat ini perusahaan belum melihat dampak signifikan terhadap rencana bisnis maupun operasional perusahaan. Koordinasi dengan para klien juga menunjukkan belum ada perubahan strategi kerja yang telah disusun sebelumnya.

“Sejauh ini belum ada arahan dari klien untuk mengubah rencana yang sudah kami siapkan. Jadi kami masih menjalankan rencana operasional seperti biasa sambil terus memonitor situasi,” kata Iwan dalam Iftar Media Gathering, Selasa (24/2/2026).


Baca Juga: Tarif Trump Bikin Ketidakpastian Bagi Emiten CPO, Simak Rekomendasi Sahamnya

Menurutnya, fokus utama perusahaan saat ini adalah meningkatkan kinerja bisnis eksisting di Indonesia, Australia, dan Amerika Serikat. Penunjukan Ronald Sutardja sebagai Direktur Utama PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA) sejak awal tahun 2026 menjadi bagian dari komitmen memperbaiki performa operasional.

Dari sisi investasi, DOID merealisasikan belanja modal (capex) sekitar US$ 170 juta pada 2025, yang mayoritas digunakan untuk growth capex serta sebagian untuk maintenance capex, terutama guna mendukung kontrak baru di Indonesia.

Perusahaan ini juga menekankan disiplin pengeluaran sebagai strategi utama. Iwan menyebut realisasi capex lebih rendah dari panduan awal sekitar US$ 175 juta karena perusahaan menurunkan unit cost.

Pendanaan capex 2025 berasal dari kombinasi pinjaman bank, leasing, dan obligasi. Sekitar 40% berasal dari perbankan, sementara obligasi berkontribusi sekitar 10% hingga 15%. Iwan menambahkan, dukungan lembaga keuangan masih kuat, baik dari bank konvensional maupun syariah.

Di tengah kondisi harga komoditas yang cenderung fluktuatif, DOID memilih lebih selektif dalam ekspansi dan akuisisi. “Dalam kondisi pasar seperti sekarang justru banyak peluang, tapi kami tidak terburu-buru. Fokus kami memastikan bisnis yang ada semakin kuat,” jelasnya.

Perusahaan ini menargetkan laporan kinerja full year 2025 diumumkan pada akhir Maret 2026 setelah proses audit rampung.

Baca Juga: Ramai Emiten Ganti Pemegang Saham Pengendali, Begini Catatan Analis

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai DOID masih memiliki prospek pertumbuhan yang solid pada 2026, terutama didorong efisiensi struktural dan perbaikan struktur keuangan.

Menurutnya, langkah pelunasan utang dan refinancing membuat beban bunga berpotensi turun signifikan tahun ini.

“Pendapatan berpotensi tumbuh stabil, tetapi laba bersih bisa meningkat lebih tinggi karena efisiensi dan penurunan interest expense,” kata Wafi.

Ia menambahkan, strategi diversifikasi menjadi katalis utama. DOID mulai memperbesar eksposur ke batu bara metalurgi atau coking coal yang memiliki margin lebih tinggi serta permintaan lebih stabil. Selain itu, kontribusi operasi BUMA Australia dinilai semakin konsisten menopang pendapatan.

Secara operasional, volume overburden removal dan produksi batu bara diperkirakan tumbuh moderat pada kisaran satu digit hingga dua digit rendah. Namun pertumbuhan EBITDA dan laba bersih berpotensi melampaui kenaikan pendapatan.

Wafi juga melihat peluang dari peningkatan profil ESG perusahaan yang mengurangi ketergantungan pada batu bara termal. Meski demikian, risiko tetap berasal dari anomali cuaca serta fluktuasi harga batu bara global yang dapat memicu renegosiasi tarif kontraktor.

Baca Juga: Pergerakan Rupiah Dibayangi Sentimen Geopolitik, Cek Proyeksinya untuk Rabu (25/2)

KISI Sekuritas memberikan rekomendasi buy untuk saham DOID dengan target harga Rp450 per saham.

Sementara itu, Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menilai kinerja DOID pada 2026 berpotensi tumbuh moderat dibandingkan tahun sebelumnya.

Ia memperkirakan kenaikan pendapatan akan didorong kontribusi kontrak baru, backlog yang kuat, serta ekspansi ke sektor mineral dan pasar internasional. Namun pertumbuhan laba bersih dinilai lebih terbatas akibat normalisasi margin jasa tambang dan tekanan biaya operasional.

“Kinerja masih ditopang stabilitas produksi klien batu bara dan efisiensi operasional yang menjaga utilisasi alat,” ujar Sukarno.

Volume pekerjaan diproyeksikan meningkat moderat dengan margin EBITDA relatif stabil, meski tetap sensitif terhadap harga bahan bakar dan struktur kontrak baru.

Ke depan, diversifikasi komoditas dan ekspansi global menjadi peluang utama untuk memperkuat visibilitas pendapatan. Adapun risiko yang perlu dicermati meliputi volatilitas harga batu bara, tekanan biaya, serta tren dekarbonisasi global.

Kiwoom Sekuritas memberikan rekomendasi hold untuk saham DOID dengan target harga Rp 350 per saham.

Selanjutnya: WOM Finance Catat Total Aset Rp 7,37 Triliun per Akhir 2025

Menarik Dibaca: Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2026 Lengkap untuk Kota Padang, Jangan Salah Waktu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News