BUMI Bakal Akuisisi Loyal Metals Asal Australia, Cermati Rekomendasi Analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berencana mengakuisisi perusahaan tambang asal Australia, Loyal Metals (LLM). 

Rencana tersebut dinilai menjadi langkah bagus untuk meningkatkan kinerja perseroan dalam jangka panjang. Meskipun begitu, kinerja BUMI masih akan terganjal masalah utang dan kas dalam jangka pendek. 

Loyal Metals disebut telah menandatangani Scheme Implementation Deed (SID) atau Perjanjian Implementasi Skema dengan BUMI.


Melalui perjanjian tersebut, BUMI mengajukan penawaran akuisisi Loyal Metals senilai kisaran US$ 79 juta atau dengan harga US$ 0,45 per saham.

Baca Juga: Bumi Resources (BUMI) Dikabarkan Bakal Akuisisi Loyal Metals Asal Australia

Dilansir dari situs industryqld.com, pihak Loyal Metals merekomendasikan agar pemegang saham memberikan suara mendukung skema tersebut, selama tidak ada proposal yang lebih baik dan dengan syarat penilaian indenpenden yang menyatakan bahwa penawaran tersebut sesuai dengan kepentingan perusahaan.

“Sejak pencatatan saham perusahaan pada tahun 2021, kami selalu fokus pada misi kami untuk memberikan nilai bagi para pemegang saham,” kata Founder & Chairman Loyal Metals, Peretz Schapiro, Senin (27/4/2026).

Sebagai informasi, LLM tengah mengembangkan proyek tembaga dan emas Highway Reward yang berlokasi 37 kilometer (km) dari selatan Charters Towers, Queensland Utara. 

Loyal Metals memulai eksplorasi di Highway Reward. Selama beroperasi dari 1987 sampai 2005, Highway Reward mencatatkan total produksi sebesar 3,65 juta ton dengan kadar tembaga 5,7% dan sekitar 260.000 ton dengan kadar emas 4,5 g/t.

Dari proses pengeboran baru-baru ini, telah dikonfirmasi bahwa Loyal Metals memiliki komoditas tembaga, emas, dan perak yang berada di bawah dinding timur bekas tambang terbuka di lokasi tersebut. Di samping itu, Loyal Metals juga memiliki dua proyek lithium di Kanada.

Baca Juga: Proyek Danantara Bakal Jadi Ancaman Bagi Emiten Poultry, Simak Rekomendasi Analis

Dalam pemberitaan KONTAN sebelumnya, BUMI memang tengah fokus merambah bisnis pertambangan non-batubara. Pada November 2025, BUMI mengakuisisi 100% saham perusahaan tambang asal Australia, Wolfram Limited senilai Rp 698,98 miliar. 

Lalu, pada 18 Desember 2025, BUMI mengakuisisi tambang lain di Australia, yakni Jubilee Metals Limited dengan porsi 5,73 juta saham atau setara 64,98%.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai, rencana BUMI untuk mengakuisisi LLM merupakan strategis bisnis yang tepat. Langkah diversifikasi bisnis dari batubara ke emas dan tembaga juga sejalan dengan tren global. 

 
BUMI Chart by TradingView

Namun, dampak diversifikasi bisnis tersebut ke kinerja keuangan tidak akan instan. Efek akuisisi baru akan terasa sepanjang 2026–2027 ketika produksi sudah stabil.

Sementara, dalam jangka pendek kinerja BUMI masih tergantung harga batubara dan struktur utang. “Nilai akuisisi LLM juga cukup besar di tengah beban utang yang masih ada,” ujarnya kepada Kontan, Senin (27/4/2026).

Baca Juga: Bea Ekspor Diproyeksi Jadi Beban Tambahan Emiten Batubara, Cek Rekomendasi Analis

Di tahun 2026, katalis positif untuk kinerja BUMI berasal dari harga emas masih tinggi. Wafi bilang, komoditas tembaga juga punya permintaan struktural yang tinggi dari industri electric vehicle (EV).