KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bundamedik Tbk (
BMHS) menatap prospek industri rumah sakit di
tahun ini akan tetap bertumbuh. Untuk itu, pihaknya optimistis dapat mencapai kinerja positif sepanjang 2026, yang didukung serangkaian strategi ekspansi dan penguatan layanan di jaringan rumah sakit perusahaan.
Direktur Utama Bundamedik Agus Heru Darjono, menyampaikan bahwa indikator pertumbuhan industri rumah sakit tidak lagi semata didorong oleh ekspansi kapasitas atau volume pasien, melainkan oleh peningkatan kompleksitas kasus dan kebutuhan layanan yang lebih spesialistik.
Menghadapi dinamika tersebut, BMHS pun berfokus memperkuat layanan unggulan, meningkatkan kapabilitas klinis, serta memanfaatkan inovasi teknologi.
Baca Juga: KAI Beri Refund Tiket 100% Imbas Pembatalan 13 Perjalanan KA Jarak Jauh “Sekaligus mengoptimalkan utilisasi aset yang ada untuk mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan,” ungkap Agus, kepada Kontan.co.id Kamis (23/4/2026) lalu.
Ia melanjutkan, fokus perusahaan tidak hanya pada pertumbuhan jangka pendek, tetapi juga pada keberlanjutan, dengan memastikan pengembangan layanan yang berkualitas serta pemanfaatan sumber daya yang optimal.
Untuk memantapkan prospek pertumbuhan tahun ini,
BMHS mengalokasikan dana belanja modal atau
capital expenditure (Capex) Rp 217 miliar. Agus menyebut, mayoritas dana
capex ini akan difokuskan pada penguatan aset eksisting. Secara rinci, dikatakan bahwa penggunaan dana
capex utamanya untuk memulai penambahan kapasitas tempat tidur di dua jaringan rumah sakit eksisting, serta renovasi dan peningkatan fasilitas rumah sakit.
“Kemudian untuk pengadaan alat medis guna mendukung pengembangan layanan unggulan, serta investasi pada sistem dan infrastruktur digital,” tuturnya.
Menurutnya, BMHS senantiasa memegang teguh tata kelola dan pendekatan yang
prudent, dengan fokus utama pada penguatan fundamental bisnis, baik dari sisi operasional, kualitas layanan, maupun kapabilitas klinis.
Baca Juga: Krakatau Steel (KRAS) Bangun Proyek Hilirisasi Baja, Nilai Investasi Rp 30 Triliun “Melalui alokasi ini, kami memastikan setiap investasi tidak hanya mendorong pertumbuhan, tetapi juga meningkatkan kualitas layanan dan efisiensi operasional secara berkelanjutan,” tambahnya.
Di sisi lain, BMHS tetap melihat beberapa tantangan utama yang akan mempengaruhi industri kesehatan, antara lain kenaikan inflasi medis yang berdampak pada biaya tenaga kesehatan, farmasi, dan alat medis impor hingga volatilitas nilai tukar. Untuk menghadapi hal tersebut, BMHS menjalankan sejumlah strategi mitigasi secara terintegrasi. Dari sisi operasional, perusahaan memperkuat
talent pipeline dan meningkatkan efisiensi tanpa mengurangi kualitas klinis, termasuk melalui strategi pengadaan terpusat dan optimalisasi aset yang ada.
Di sisi layanan, manajemen terus meningkatkan daya saing melalui pengembangan layanan
high-acuity dan
Center of Excellence, seperti penguatan layanan NICU,
high-risk pregnancy, IVF, hingga
robotic surgery. BMHS sendiri merupakan salah satu pionir
robotic surgery di Indonesia sejak sekitar 13 tahun lalu, dengan pengalaman lebih dari 800 pasien, sehingga menjadi salah satu keunggulan kompetitif perusahaan.
Sebagai informasi BMHS membukukan pendapatan neto sebesar Rp 1,61 triliun pada 2025, naik 3,87% dibandingkan Rp 1,55 triliun pada 2024. Dengan pertumbuhan laba bersih sebanyak 3,94% menjadi Rp 12,41 miliar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News