Bunga KPR Bank Konvensional Masih Tinggi, KPR Bank Syariah Jadi Primadona



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah pasar properti yang masih menghadapi tantangan dan tingginya suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) konvensional, pembiayaan KPR syariah masih mencatatkan pertumbuhan positif. Sejumlah bank syariah menilai kepastian cicilan tetap hingga lunas menjadi daya tarik utama yang mendorong masyarakat beralih ke skema pembiayaan syariah.

PT Bank BCA Syariah menjadi salah satu bank yang mencatatkan pertumbuhan tinggi pada segmen tersebut. Hingga semester I-2026, pembiayaan KPR BCA Syariah tumbuh 26,1% secara tahunan menjadi Rp 1,72 triliun, dari Rp 1,36 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Direktur BCA Syariah Pranata mengatakan, meski pasar KPR nasional belum sepenuhnya pulih, perseroan tetap agresif mengembangkan bisnis karena pangsa pasar KPR BCA Syariah masih relatif kecil sehingga ruang pertumbuhannya masih terbuka lebar.


Baca Juga: Pembiayaan UMKM Tembus Rp1.948,72 Triliun hingga Juni 2026, Naik 2,16%

"KPR kami skalanya masih kecil. Jadi walaupun market sedang lesu, KPR BCA Syariah tidak boleh lesu. Justru karena basis kami masih kecil, kami harus terus gaspol untuk mengejar pertumbuhan," ujar Pranata saat paparan kinerja perseroan, Selasa (11/8/2026).

Untuk mendongkrak penyaluran pembiayaan, BCA Syariah memperkuat kerja sama dengan pengembang (developer) dan agen properti (broker). Perseroan juga terus meningkatkan efektivitas proses pemasaran agar potensi kerja sama yang telah terjalin dapat dikonversi menjadi pembiayaan.

Selain memperluas jaringan pemasaran, BCA Syariah mengandalkan keunggulan produk berupa kepastian angsuran tetap hingga pembiayaan lunas.

Pranata mengatakan, KPR BCA Syariah menawarkan equivalent financing rate (EFR) sekitar 7,7% dengan cicilan tetap hingga tenor 15 tahun.

"Kalau di bank konvensional mungkin bunga awal rendah, tetapi setelah beberapa tahun bisa berubah mengikuti kondisi pasar. Di BCA Syariah, nasabah memperoleh kepastian cicilan sampai lunas. Itu yang menjadi daya tarik utama produk kami," katanya.

Sementara itu, kualitas pembiayaan perseroan tetap terjaga meski rasio pembiayaan bermasalah (non-performing financing/NPF) mengalami kenaikan tipis seiring ekspansi pembiayaan.

Baca Juga: Askrindo Pertahankan Peringkat idAA+, Fundamental Bisnis Tetap Solid

"NPF memang sedikit naik karena pembiayaan juga bertambah, tetapi masih bisa kami kontrol dan tetap berada di bawah target yang kami tetapkan," ujar Pranata.

Optimisme serupa juga disampaikan PT Bank CIMB Niaga Tbk melalui Unit Usaha Syariah (UUS). Direktur Syariah Banking CIMB Niaga Pandji P. Djajanegara mengatakan, penyaluran pembiayaan KPR syariah perseroan hingga Juni 2026 tumbuh sekitar 60% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Menurutnya, KPR syariah masih menjadi kontributor utama pembiayaan konsumer dengan porsi sekitar 86%.

"Meski ada kenaikan suku bunga di pasar, pembiayaan KPR syariah masih menunjukkan kinerja yang positif. Permintaan rumah masih cukup besar dan nasabah membutuhkan kepastian angsuran," ujar Pandji.

Ia optimistis tren tersebut masih akan berlanjut hingga akhir tahun meski kondisi ekonomi belum sepenuhnya pulih.

"Kami optimistis kinerja KPR Syariah masih akan terus positif karena kebutuhan masyarakat terhadap rumah masih tinggi, terutama pembiayaan dengan cicilan yang pasti," katanya.

Senada, Direktur Utama Bank BJB Syariah Arief Setyahadi mengatakan, kenaikan suku bunga kredit di bank konvensional justru menjadi peluang bagi pembiayaan pemilikan rumah (PPR) syariah.

Baca Juga: Laba BCA Syariah Tumbuh 9,2% Capai Sebesar Rp109,4 Miliar per Semester I-2026

Menurutnya, masyarakat mulai mencari alternatif pembiayaan yang memberikan kepastian angsuran hingga masa pembiayaan berakhir.

"Sampai pertengahan tahun 2026, PPR bank bjb syariah tetap mencatatkan pertumbuhan positif. Tingginya suku bunga PPR di bank konvensional menjadi alasan masyarakat beralih ke pembiayaan syariah yang menawarkan cicilan tetap hingga lunas," ujar Arief.

Hingga Juni 2026, pembiayaan PPR iB Maslahah Bank bjb Syariah tumbuh 3,34% secara tahunan. Perseroan memproyeksikan portofolio pembiayaan tersebut masih akan meningkat sekitar 5,09% hingga akhir 2026.

Untuk mencapai target tersebut, Bank bjb Syariah akan memperkuat penetrasi ke segmen nasabah berprofil risiko rendah, terutama aparatur sipil negara (ASN), pegawai BUMN, BUMD, instansi pemerintah, serta kalangan profesional seperti dokter yang memiliki pendapatan tetap.

Selain itu, perseroan juga akan mengoptimalkan kualitas layanan dan mempercepat proses pembiayaan agar lebih adaptif terhadap kebutuhan calon nasabah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News