Bunga KPR Murah Mulai 2,75% Tak Dongkrak Properti, Expo Danantara Cuma Raih Rp 2 T



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Beragam promo pembiayaan perumahan yang ditawarkan bank-bank milik negara belum mampu mengangkat permintaan secara signifikan. Hal itu tercermin dari gelaran pameran perumahan perdana Danantara yang hanya membukukan transaksi sekitar Rp 2 triliun, atau 20% dari target Rp 10 triliun.

Analis Indo Premier Sekuritas, Halima Yefany dalam riset 7 September 2026 menilai pencapaian tersebut menunjukkan penurunan biaya pembiayaan saja belum cukup untuk mendorong masyarakat membeli rumah di tengah kondisi pasar properti yang masih lesu.

“Transaksi yang hanya mencapai Rp 2 triliun dibandingkan target Rp 10 triliun menunjukkan bahwa biaya pembiayaan yang lebih rendah saja mungkin belum mampu mengangkat permintaan,” tulis Halima dalam risetnya.


Baca Juga: Bencana Alam Jadi Katalis Jangka Pendek Bagi Emiten Kesehatan, Simak Prospek Sahamnya

Pameran perumahan Danantara digelar di NICE PIK 2 pada 27–30 Agustus 2026 dan diikuti lebih dari 130 pengembang, lembaga keuangan, serta perusahaan yang bergerak di sektor perumahan.

Pameran tersebut menawarkan hunian dari segmen subsidi hingga kelas atas. Dari sisi pembiayaan, bank-bank Himbara memberikan sejumlah skema menarik, antara lain uang muka atau down payment (DP) mulai 1%, bunga tetap bertahap mulai 2,75% per tahun, serta tenor hingga 30 tahun, dengan tetap memperhatikan kelayakan pembeli dan persyaratan bank.

Namun, kemudahan pembiayaan tersebut belum berbanding lurus dengan minat beli. Berdasarkan pengecekan Indo Premier Sekuritas terhadap sejumlah emiten properti yang menjadi cakupan analis, permintaan selama expo secara umum masih lemah dan cenderung selektif.

Empat pengembang yang berada dalam cakupan Indo Premier Sekuritas turut ambil bagian, yakni Pakuwon Jati (PWON), Ciputra Development (CTRA), Bumi Serpong Damai (BSDE), serta pengembang lainnya dalam ekosistem properti yang menawarkan promo pembiayaan Himbara.

PWON, misalnya, menawarkan apartemen Eluna dan Elora di kawasan perluasan Kota Kasablanka. Perseroan juga memberikan sejumlah insentif, termasuk hadiah emas 44 gram serta pembebasan biaya administrasi dan asuransi hingga Rp60 juta.

Sementara itu, CTRA meluncurkan klaster Lacewood di CitraGardenCity dengan harga mulai Rp1,8 miliar. Adapun BSDE memberikan diskon hingga 20% untuk produk tertentu serta voucher furnitur hingga 1,5% melalui program Royal Key.

Baca Juga: Musim Dividen Interim Dimulai, Saham Mana yang Menarik Dikoleksi?

Meski promonya agresif, transaksi yang terjadi tetap terbatas. Sebagian besar transaksi terkonsentrasi pada rumah dengan harga sekitar Rp2 miliar, termasuk proyek Izzi milik BSDE.

PWON tercatat hanya membukukan beberapa penjualan unit premium di Kota Kasablanka Extension dan Permata Hijau. CTRA juga berhasil mencatat sejumlah transaksi, tetapi volumenya masih terbatas. Kondisi ini memperlihatkan bahwa calon pembeli tetap sangat selektif meski ditawarkan bunga dan insentif yang menarik.

Di segmen rumah subsidi dan terjangkau, persoalan lain muncul dari lokasi. Berdasarkan pengamatan Indo Premier Sekuritas, hunian dengan harga relatif murah sebagian besar berada di kawasan yang aksesnya masih kurang memadai dari pusat aktivitas ekonomi.

Harga rumah subsidi dan affordable housing yang ditawarkan dalam expo berkisar Rp166 juta hingga Rp387 juta, baik berupa rumah tapak maupun hunian vertikal.

Salah satu contohnya adalah Samesta Parayasa milik Perumnas di Parung Panjang yang ditawarkan mulai Rp 387 juta, dengan cicilan sekitar Rp 3,3 juta per bulan. Ada pula Pondok Banten Indah dari Kawah Anugerah Property dengan harga Rp 166 juta, yang dilengkapi pembebasan BPHTB, PBG, dan PPN DTP.

PTPP menawarkan Isabella Tower di Grand Kamala Lagoon dengan harga mulai Rp 190 juta untuk pembelian tunai atau Rp 240 juta melalui KPA dengan bunga flat 6%. Proyek Grand Kamala Lagoon menjadi salah satu pengecualian karena lokasinya relatif lebih mudah dijangkau dibandingkan mayoritas proyek terjangkau lainnya.

“Sebagian besar proyek berlokasi sekitar satu hingga dua jam dari CBD,” jelas Halima.

Menurut dia, kombinasi antara lokasi yang jauh dan kondisi pasar perumahan yang masih lemah menjadi tantangan bagi upaya mendorong permintaan, sekalipun pemerintah dan perbankan telah menawarkan skema pembiayaan yang lebih menarik.

Baca Juga: Harga Semen Indonesia (SMGR) Turun 33% di Tengah Upaya Perbaikan, Simak Prospeknya

Melihat kondisi tersebut, Indo Premier Sekuritas mempertahankan rekomendasi neutral untuk sektor properti. Prospek return on equity (ROE) yang masih tertekan dinilai menjadi alasan mengapa valuasi sektor saat ini tetap berada pada level diskon.

Valuasi sektor properti saat ini berada sekitar dua standar deviasi di bawah rata-rata lima tahun, yang menurut Halima sudah mencerminkan prospek ROE yang relatif lemah.

Di antara saham yang dicakup, PWON tetap menjadi satu-satunya saham dengan rekomendasi buy sekaligus top pick Indo Premier. Posisi tersebut ditopang oleh pendapatan berulang yang dinilai relatif tangguh serta prospek ROE yang lebih stabil.

"Urutan pilihan saham Indo Premier adalah PWON > SMRA > CTRA > BSDE," tulis Halima dalam riset. 

Meski demikian, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko, terutama perubahan regulasi dan pelemahan kondisi makroekonomi yang berpotensi kembali menekan pasar properti.

Bagi Indo Premier Sekuritas, pameran Danantara memberikan gambaran penting bagi industri: ketika harga kredit sudah dibuat sangat menarik tetapi transaksi masih jauh dari target, persoalan pasar perumahan tampaknya bukan semata-mata soal bunga KPR, melainkan juga daya beli, lokasi hunian, dan keyakinan konsumen untuk mengambil komitmen finansial jangka panjang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News