Bunga Kredit Perbankan Tak Naik Tinggi karena Likuditas Masih Mencukupi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Suku bunga kredit tidak naik terlalu tinggi meski Bank Indonesia (BI) sudah beberapa kali mengerek bunga acuan. Ini lantaran likuiditas perbankan masih memadai.

Berdasarkan pantauan BI, suku bunga kredit perbankan hanya naik 21 basis poin (bps) sejak Juli hingga Desember 2022 lalu. Padahal suku bunga acuan BI sudah naik 225 bps yang direspons kenaikan bunga deposito 1 bulan perbankan sebesar 108 bps pada Desember 2022. 

“Memang kami pastikan likuiditas perbankan berlebih, itulah penyebab suku bunga kredit tidak naik tinggi. Kami terus mengimbau dan mengajak perbankan bahwa kami jamin likuiditas berlebih,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo, Kamis (19/1). 


Ia mengatakan saat likuiditas berlebih maka suku bunga deposito belum tentu naik. Sehingga kenaikan bunga acuan tidak harus perbankan transmisikan ke suku bunga kredit. 

Baca Juga: BI Sebut Permodalan dan Likuiditas Perbankan Kuat di Akhir Tahun 2022

Perry menyatakan pada Desember 2022, rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) tetap tinggi mencapai 31,20%. Nilai itu meningkat dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 30,42%. 

Kendati demikian, secara loan to deposit ratio (LDR) terjadi pengetatan tipis di perbankan dari 77,13% di Desember 2021 menjadi 79,6%. BI akan tetap mempertahankan kewajiban giro wajib minimum (GWM) di level 9%. 

Regulator menilai lebih baik memberikan insentif dari sebagian GWM untuk penyaluran kredit bank. Lewat relaksasi ini, BI memperkirakan bakal ada tambahan likuiditas pada perbankan sekitar  Rp 118 triliun. 

Insentif GWM ini BI berikan kepada bank yang menyalurkan kredit ke sektor-sektor prioritas yang belum pulih, Kredit Usaha Rakyat (KUR), dan kredit hijau. Relaksasi ini akan berlaku sejak 1 April 2023.

Rinciannya, reklasifikasi GWM untuk penyaluran kredit ke 46 subsektor prioritas yang mencakup tiga kelompok sektor usaha. Yakni kelompok yang berdaya tahan (Resilience), kelompok penggerak pertumbuhan (growth driver), dan kelompok penopang pemulihan (Slow Starter). 

Untuk kelompok ini, BI menebar insentif untuk Slow Starter tetap minimal 1%, serta meningkatkan threshold untuk kelompok resilience dan growth driver dari semula minimal 1% menjadi masing-masing minimal 5% dan 3%. 

Baca Juga: Likuiditas Memadai, BI Catat Rasio Alat Likuid Terhadap DPK Perbankan di Level 31,20%

BI melihat masih ada beberapa sektor yang pertumbuhan kreditnya masih relatif rendah, Ada 4 sektor, ada angkutan udara, hotel restoran, dan juga berkait tekstil, maupun alas kaki. 

"Untuk sektor slow growth ini kami dorong lebih lanjut dengan alokasi insentif GWM lebih tinggi," kata Perry. 

Lalu, BI meningkatkan dua kali lipat besaran insentif GWM kepada bank penyalur KUR dan kredit UMKM menjadi paling besar 1%. Disertai dengan penambahan kelompok bank berdasarkan pencapaian Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) di atas 30% - 50% dan di atas 50%. 

Adapun insentif dari KUR dan UMKM ini yang sebelumnya mendapat tambahan likuiditas dari GWM sebesar Rp 16 triliun,  BI tambahkan dua kali lipat menjadi Rp 32,7 triliun.

Direktur Utama Bank BJB Yuddy Renaldi menyatakan kebijakan relaksasi GWM ini akan sangat membantu perbankan terutama yang membutuhkan likuiditas tambahan. Sebab akan ada tambahan likuiditas sehingga dapat dipergunakan untuk penyaluran kredit. 

“Untuk BJB saat ini likuiditas masih cukup longgar. Namun demikian relaksasi tersebut juga membantu kami untuk meringankan tekanan suku bunga,” ujarnya kepada KONTAN.

Menurutnya, saat suku bunga acuan naik maka permintaan KUR akan semakin meningkat permintaannya. Lantaran memberikan modal usaha dengan bunga yang lebih murah. Ia bilang BJB memperoleh kenaikan alokasi KUR 2023 menjadi Rp 3 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Khomarul Hidayat