Tak hanya indah, budidaya krisan juga menguntungkan. Perawatan tanaman asal Belanda ini mudah, namun butuh ketelitian dan telaten. Selain hama dan penyakit yang bisa menghambat pembungaan, penyiraman air harus benar-benar pas takarannya. Bunga krisan merupakan tanaman yang berkembang baik di ketinggian 600 meter (m) hingga 800 m di atas permukaan laut. Tanaman ini juga cocok di daerah dengan curah hujan yang cukup. Suhu udara terbaik untuk iklim tropis seperti Indonesia adalah antara 200 Celcius (C) hingga 260 C. Tanaman ini membutuhkan kelembapan yang tinggi untuk awal pembentukan akar bibit. "Antara 70% hingga 95%," ujar Tubagus Rahman, pemilik UD Kramat Jaya.Meski membutuhkan banyak air, krisan tak tahan terhadap terpaan air hujan. Alhasil, di daerah yang curah hujannya tinggi, petani harus menanamnya di dalam bangunan rumah plastik. Sementara itu, pada proses pembungaan, krisan membutuhkan cahaya yang lebih lama, yakni dengan bantuan cahaya dari lampu pijar. Penambahan penyinaran yang paling baik adalah tengah malam antara pukul 23.00 hingga 01.00, dengan lampu berdaya 150 watt.Media yang ideal untuk krisan adalah tanah bertekstur liat, berpasir, subur, gembur dan memiliki drainase yang baik. "Derajat keasaman tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman sekitar 5,5-6,7," tambah Tubagus.Ia mengingatkan, hama dan penyakit yang bisa menyerang tanaman ini, seperti ulat tanah yang memakan dan memotong ujung batang tanaman muda, sehingga pucuk dan tangkai akan terkulai. Untuk mengendalikannya, harus disemprot dengan insektisida. Ada juga hama tungau merah yang memiliki gejala daun akan menjadi kuning kecokelatan, terpelintir dan menebal. Untuk mengatasinya, bagian yang terserang dipotong kemudian tanaman yang belum terkena disemprot pestisida.Adapun untuk penyakit, ada virus kerdil. Virus ini menyebabkan tanaman tumbuh kerdil, tidak membentuk tunas samping dan menyebabkan warna bunga jadi lebih pucat. Cara penanggulangannya adalah mencabut tanaman yang sakit dan menyemprotkan insektisida untuk pengendalian virus.Rudi Kurniawan, pemilik PD Dwi Putra Flora juga mengingatkan, penanganan tanaman ini butuh ketelatenan. Tanaman yang berumur satu hingga dua minggu, sebaiknya disiram dua kali sehari. Bila sudah lebih dari dua minggu, tanaman pun cukup disiram sekali sehari. "Jika air terlalu banyak, maka bunga tak akan mekar sempurna," ujar Rudi.Selain itu, petani harus memilih bibit yang tepat. Ada dua macam bibit yang beredar: bibit lokal dan impor. Tingkat kematian bibit impor lebih rendah ketimbang bibit lokal. Namun, harganya lebih mahal. Harga bibit lokal Rp 175 per batang, sedangkan bibit impor Rp 225 per batangnya. Bibit dapat ditanam setelah berumur 2 minggu. Lahan seluas satu hektare biasanya bisa menampung 450.000 batang. Bunga krisan pun bisa dipanen tiga bulan kemudian. Rudi mengatakan, jika ia biasa melakukan penanaman setiap minggu dengan jumlah 10.000 hingga 15.000 batang setiap kali penanaman. Sedangkan, panen bisa dilakukannya setiap hari dengan jumlah 2.000 hingga 3.000 batang tiap kali panen. "Dalam sebulan setidaknya saya bisa menghasilkan hingga 4.000 ikat bunga," ujar Rudi. (Selesai)Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Bunga krisan: Ketelitian dan ketelatenan, kunci perawatan (2)
Tak hanya indah, budidaya krisan juga menguntungkan. Perawatan tanaman asal Belanda ini mudah, namun butuh ketelitian dan telaten. Selain hama dan penyakit yang bisa menghambat pembungaan, penyiraman air harus benar-benar pas takarannya. Bunga krisan merupakan tanaman yang berkembang baik di ketinggian 600 meter (m) hingga 800 m di atas permukaan laut. Tanaman ini juga cocok di daerah dengan curah hujan yang cukup. Suhu udara terbaik untuk iklim tropis seperti Indonesia adalah antara 200 Celcius (C) hingga 260 C. Tanaman ini membutuhkan kelembapan yang tinggi untuk awal pembentukan akar bibit. "Antara 70% hingga 95%," ujar Tubagus Rahman, pemilik UD Kramat Jaya.Meski membutuhkan banyak air, krisan tak tahan terhadap terpaan air hujan. Alhasil, di daerah yang curah hujannya tinggi, petani harus menanamnya di dalam bangunan rumah plastik. Sementara itu, pada proses pembungaan, krisan membutuhkan cahaya yang lebih lama, yakni dengan bantuan cahaya dari lampu pijar. Penambahan penyinaran yang paling baik adalah tengah malam antara pukul 23.00 hingga 01.00, dengan lampu berdaya 150 watt.Media yang ideal untuk krisan adalah tanah bertekstur liat, berpasir, subur, gembur dan memiliki drainase yang baik. "Derajat keasaman tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman sekitar 5,5-6,7," tambah Tubagus.Ia mengingatkan, hama dan penyakit yang bisa menyerang tanaman ini, seperti ulat tanah yang memakan dan memotong ujung batang tanaman muda, sehingga pucuk dan tangkai akan terkulai. Untuk mengendalikannya, harus disemprot dengan insektisida. Ada juga hama tungau merah yang memiliki gejala daun akan menjadi kuning kecokelatan, terpelintir dan menebal. Untuk mengatasinya, bagian yang terserang dipotong kemudian tanaman yang belum terkena disemprot pestisida.Adapun untuk penyakit, ada virus kerdil. Virus ini menyebabkan tanaman tumbuh kerdil, tidak membentuk tunas samping dan menyebabkan warna bunga jadi lebih pucat. Cara penanggulangannya adalah mencabut tanaman yang sakit dan menyemprotkan insektisida untuk pengendalian virus.Rudi Kurniawan, pemilik PD Dwi Putra Flora juga mengingatkan, penanganan tanaman ini butuh ketelatenan. Tanaman yang berumur satu hingga dua minggu, sebaiknya disiram dua kali sehari. Bila sudah lebih dari dua minggu, tanaman pun cukup disiram sekali sehari. "Jika air terlalu banyak, maka bunga tak akan mekar sempurna," ujar Rudi.Selain itu, petani harus memilih bibit yang tepat. Ada dua macam bibit yang beredar: bibit lokal dan impor. Tingkat kematian bibit impor lebih rendah ketimbang bibit lokal. Namun, harganya lebih mahal. Harga bibit lokal Rp 175 per batang, sedangkan bibit impor Rp 225 per batangnya. Bibit dapat ditanam setelah berumur 2 minggu. Lahan seluas satu hektare biasanya bisa menampung 450.000 batang. Bunga krisan pun bisa dipanen tiga bulan kemudian. Rudi mengatakan, jika ia biasa melakukan penanaman setiap minggu dengan jumlah 10.000 hingga 15.000 batang setiap kali penanaman. Sedangkan, panen bisa dilakukannya setiap hari dengan jumlah 2.000 hingga 3.000 batang tiap kali panen. "Dalam sebulan setidaknya saya bisa menghasilkan hingga 4.000 ikat bunga," ujar Rudi. (Selesai)Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News