Permintaan bunga krisan terus naik dari tahun ke tahun, terutama menjelang Natal dan tahun baru. Di saat seperti itu, omzet pekebun bisa mencapai Rp 40 juta. Selain untuk penghias halaman atau ruang tamu, bunga krisan mempunyai banyak kegunaan. Bunga krisan atau seruni yang memiliki nama ilmiah
Chrysantheum adalah jenis tanaman hias yang banyak dicari menjelang perayaan Natal. Berasal dari wilayah Eropa dan Asia Timur, krisan mulai dikembangkan di Indonesia sejak 1940-an. Tak hanya dipakai untuk hiasan Natal, krisan juga bermanfaat untuk mengusir nyamuk. Inilah sebabnya, walau bukan bunga jenis baru, krisan masih banyak dicari masyarakat.
Salah satu pembudidaya bunga krisan adalah Rudi Kurniawan, pemilik PD Dwi Putri Flora di Pasuruan, Jawa Timur. Mulai menanam krisan sejak 2000, Rudi mengaku, permintaan dari tahun ke tahun terus meningkat. Bahkan, Rudi sudah mengaku kewalahan memenuhi kebutuhan dalam negeri. Padahal, dia ingin mengekspor bunga ini. "Dari dalam negeri saja permintaan krisan sudah sangat banyak," kata pria berusia 44 tahun ini. Rudi menambahkan, cara menanam dan merawat krisan sebenarnya cukup mudah. Hanya saja petani harus telaten melakukan perawatan supaya bunga bisa tumbuh dan berbunga dengan baik. Saat ini Rudi memiliki lahan seluas satu hektare dengan 450.000 batang krisan di atasnya. Rudi menanam sekitar 16 varietas krisan. Dari 16 varietas itu, mayoritasnya adalah krisan jenis spray. Krisan jenis ini dianggap lebih menguntungkan karena setiap batang pohon bisa menghasilkan lima hingga 10 tangkai bunga. Pasar terbesar krisan dari kebun Rudi ada di Jawa Timur, Bali, Makassar, dan wilayah timur Indonesia lain. Rudi mengaku menghindari menjual krisan wilayah Indonesia barat. "Ongkos kirim lebih mahal," katanya. Untuk setiap batang krisan, Rudi menjual seharga Rp 900 kepada pedagang eceran. Namun pengecer bisa mendapat untung lumayan karena harga di konsumen bisa mencapai Rp 1.400 per batang. Tiap bulan setidaknya Rudi bisa menjual 40.000 krisan. Dengan jumlah penjualan sebanyak itu, Rudi mengaku bisa memperoleh omzet sekitar Rp 40 juta per bulan. Penjualan akan semakin tinggi di saat-saat tanggal penting Jawa, Islam, dan China, termasuk saat Natal. "Di akhir tahun juga meningkat karena banyak resepsi pernikahan yang butuh bunga," ujarnya. Oh, ya, masa panen raya krisan berlangsung antara September hingga Januari. Selain Rudi, Tubagus Rahman di Semarang, Jawa Tengah, juga membudidayakan krisan. Memulai usaha sejak 2007, lelaki 40 tahun ini mengungkapkan berbagai keunggulan krisan. Selain bisa digunakan sebagai tanaman hias di pelataran rumah maupun bunga potong, krisan juga bisa menjadi obat penurun panas dan penghasil racun serangga.
Seperti halnya Rudi, Tubagus mengaku, permintaan krisan meningkat pesat menjelang akhir tahun. Di saat seperti sekarang ini, Tubagus setidaknya bisa menjual 20.000 batang krisan dengan harga Rp 1.000 per batang. Di bulan seperti ini, omzet Tubagus bisa mencapai Rp 20 juta per bulan. "Kalau tidak ada momen khusus, paling cuma dapat omzet Rp 12 juta," ujar pemilik UD Kramat Jaya ini. Tubagus banyak menjual krisan kepada pengecer bunga di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ia belum berani memasarkan krisan dari kebunnya ke Jakarta karena pesaing sudah banyak. Apalagi sentra krisan kebanyakan berada di Jawa Barat. (Bersambung) Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News