KONTAN.CO.ID – JAKARTA.
Sebagai salah satu langkah stabilisasi nilai tukar rupiah, Bank Indonesia (BI) menaikkan struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada seluruh tenor. Dengan imbal hasil yang kian menarik, sejumlah bank berpotensi makin getol membeli SRBI untuk memaksimalkan likuiditas di tengah lesunya permintaan kredit. Data BI mencatat, kepemilikan bank di SRBI mencapai Rp 677,89 triliun per Mei 2026, setara 69,18% total outstanding SRBI. Komposisi ini menunjukkan dominasi perbankan yang kian masif karena pada tahun lalu kepemilikan bank hanya setara 62,03% dari total SRBI beredar. Saat ini, SRBI dilelang dengan tawaran bunga sebesar 7,1%–8,65%. Sebagai perbandingan, awal tahun ini SRBI masih dilelang dengan tawaran bunga 4,78%--5,25%. Dengan tingginya tawaran bunga saat ini, Ekonom Bank Tabungan Negara (BTN) Myrdal Gunarto bilang SRBI memang menjadi instrumen yang sempurna untuk mengoptimalkan margin bank.
Baca Juga: Bank Pilih Parkir Dana di SRBI Saat Permintaan Kredit Melemah Namun, itu hanya berlaku bagi bank yang punya basis dana murah kuat dan likuiditas longgar. Menurutnya bank yang likuiditasnya terbatas tak bakal gegabah mengunci dana terlalu besar di SRBI karena persaingan dana sedang ketat imbas melonjaknya beban dana di era suku bunga tinggi. Myrdal melihat bank swasta dan bank asing menjadi pemain yang dominan memarkirkan dana di SRBI. Pasalnya, kelompok bank ini cenderung wait and see dalam menyalurkan kredit, dengan mempertimbangkan risiko kualitas aset dan pelemahan daya beli. “Mereka cenderung memanfaatkan SRBI sebagai safe haven berlaba tinggi untuk menjaga profitabilitas,” jelasnya Myrdal kepada Kontan, Kamis (10/6/2026). Lain halnya dengan bank milik negara alias Himbara. Myrdal melihat Himbara jauh lebih fokus pada ekspansi kredit dan tak menjadikan SRBI sebagai subtitusi fungsi intermediasi. Toh, suplai SRBI juga relatif terbatas sementara porsi kredit Himbara cenderung besar. Namun begitu, sejatinya Himbara juga bakal kedapatan tambahan likuiditas besar seiring berlakunya aturan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA). Dus, bukan tak mungkin mereka ikut memanfaatkan momentum yield SRBI rringgi ini. Di luar itu, Myrdal bilang penempatan bank di SRBI juga bakal dipengaruhi injeksi Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM). Bagaimanapun, likuiditas "murah" bersyarat ini didesain khusus agar bank tetap menyalurkan kredit ke sektor prioritas. Ini dapat menjadi penyeimbang agar bank tak sekadar duduk manis memakan imbal hasil SRBI. Dari sudut pandang pelaku usaha, Bank Central Asia (BCA) berkomitmen untuk mengelola likuiditas secara pruden serta mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dalam penerapan manajemen risiko. EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn menjelaskan, pada dasarnya fungsi utama lembaga perbankan adalah menjadi sarana intermediasi ekonomi. Dus, penyaluran kredit menjadi fokus utama bank. Secara komposisi, kredit BCA secara bank only mencapai Rp 965,01 triliun per April 2026. Sementara itu, surat berharga yang dimiliki sebesar Rp 425,41 triliun. Kendati begitu, secara tren pertumbuhan kredit lebih landai, yakni 4,54% secara tahunan (year-on-year/yoy). Sementara surat berharga yang dimiliki bertambah 17,54% yoy.
Baca Juga: BI Optimistis Kredit Perbankan Tetap Tumbuh Meski Yield SRBI Tinggi dan BI Rate Naik Hera menjelaskan, sejatinya penempatan dana pada instrumen surat berharga merupakan bagian dari strategi pengelolaan likuiditas perusahaan. “Sekaligus mendukung perekonomian nasional,” katanya. Di luar itu, ia memastikan pihaknya senantiasa menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas dengan ekspansi kredit yang sehat. Sementara itu, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan bilang pada dasarnya penempatan dana di SBN bakal tergantung kondisi. Saat ini, pihaknya mencermati risiko pelemahan permintaan kredit. Lani bilang saat ini likuiditas bank masih baik, tetapi pihaknya turut mengantisipasi potensi kenaikan beban bunga. Nah dalam hal pemanfaatan likuiditas, ia memastikan fokus bank tetap diarahkan untuk penyaluran kredit. “Namun tentu saja akan tergantung kepada minat atau permintaan pasar untuk kredit. Saat ini masih rendah,” sebutnya. Secara bank only, kredit CIMB Niaga tumbuh 6,99% yoy menjadi Rp 171,39 triliun per April 2026, sementara kepemilikan surat berharganya turun 1,57% yoy menjadi Rp 75,62 triliun.
Baca Juga: Bank Mulai Kurangi SRBI: Profitabilitas Kredit Lebih Menarik Sementara itu Sekretaris Perusahaan sekaligus Direktur Kepatuhan OK Bank, Efdinal Alamsyah melihat kenaikan imbal hasil SRBI memang membuat instrumen ini menarik sebagai penempatan dana jangka pendek yang aman dan likuid, terutama ketika pertumbuhan kredit masih relatif moderat. Namun begitu, ia bilang keputusan untuk menambah atau mengurangi kepemilikan SRBI tak semata ditentukan oleh tingkat imbal hasil. “Ada hal lain yang diperhatikan, seperti prospek permintaan kredit, biaya penghimpunan dana, kondisi likuiditas, serta strategi optimalisasi aset produktif bank,” jelasnya.
Jika melihat kinerjanya, kredit OK Bank per April 2026 masih tumbuh 6.26% yoy menjadi Rp 10,12 triliun sementara surat berharga yang dimiliki mencapai Rp 1,85 triliun atau naik 16,69% yoy. Apabila pertumbuhan kredit mulai meningkat dan memberikan imbal hasil yang lebih menarik, Efdinal bilang sebagian dana dapat dialihkan untuk mendukung ekspansi pembiayaan. Sebaliknya, jika likuiditas pasar masih longgar dan pertumbuhan kredit belum terlalu agresif, SRBI tetap menjadi salah satu instrumen yang menarik untuk menjaga fleksibilitas likuiditas sekaligus mendukung pendapatan bank.
Baca Juga: Bank Ramai-Ramai Parkir Dana di SRBI Saat Penyaluran Kredit Masih Tertahan Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News