Bunga Spesial Bikin Bunga Kredit Sulit Turun? Ini Kata Sejumlah Ekonom



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Upaya menekan praktik pemberian bunga spesial (special rate) kepada deposan besar dinilai tidak serta-merta dapat menurunkan suku bunga deposito perbankan. Pasalnya, pembentukan suku bunga simpanan sangat bergantung pada mekanisme pasar dan persaingan industri.

Ekonom sekaligus Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Ryan Kiryanto menegaskan bahwa suku bunga deposito tidak bisa diatur secara kaku oleh regulator. Menurutnya, harga dana di perbankan terbentuk dari interaksi antara bank dan nasabah.

“Pembentukan suku bunga deposito itu berdasarkan kesepakatan antara bank dengan pemilik dana, mengikuti mekanisme pasar dan persaingan,” ujarnya kepada kontan.co.id, Kamis (16/4/2026).


Ia menjelaskan, industri perbankan Indonesia yang terdiri dari lebih dari 100 bank dengan beragam segmen membuat kompetisi penghimpunan dana menjadi sangat ketat.

Baca Juga: BTN: Tren Special Rate Berhasil Ditekan, Fokus Perkuat Dana Murah

Kondisi ini mendorong bank untuk tetap fleksibel dalam menentukan suku bunga, termasuk memberikan special rate kepada nasabah tertentu.

Ryan menekankan, pemberian special rate tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan bersifat selektif. Biasanya, bunga khusus diberikan kepada nasabah inti atau prime customer yang memiliki hubungan bisnis luas dengan bank, seperti memiliki simpanan besar, kredit, hingga transaksi keuangan lainnya.

Special rate itu bukan diberikan ke semua nasabah. Hanya untuk nasabah tertentu yang punya total relationship dengan bank,” jelasnya.

Dengan karakteristik tersebut, ia menilai upaya regulator untuk menekan special rate memang bisa membantu, tetapi tidak dapat menjadi solusi tunggal untuk menurunkan bunga deposito. Sebab, selama persaingan dana masih tinggi, bank tetap akan menyesuaikan pricing untuk mempertahankan likuiditas.

Lebih lanjut, Ryan juga mengingatkan bahwa tingkat bunga penjaminan yang ditetapkan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) hanya berfungsi sebagai acuan, bukan batas mutlak yang harus diikuti bank.

“LPS rate itu hanya anchor atau referensi. Dalam praktiknya, suku bunga tetap ditentukan oleh mekanisme pasar,” imbuhnya

Ia menambahkan, nasabah yang menerima bunga di atas tingkat penjaminan pada dasarnya juga memahami konsekuensinya, yakni simpanan tersebut tidak dijamin penuh oleh LPS jika terjadi risiko pada bank.

Baca Juga: BCA Dukung Implementasi QRIS Cross Border di Korea Selatan

Ke depan, Ryan memproyeksikan tren special rate masih akan tetap ada seiring ketatnya persaingan antarbank dalam menghimpun dana. Meski demikian, intensitasnya bisa menurun jika kondisi likuiditas industri semakin longgar dan kompetisi dana mereda.

“Selama struktur industri masih kompetitif dan kebutuhan dana tinggi, special rate akan tetap menjadi bagian dari strategi bank,” pungkasnya.

Sementara  Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai, special rate masih menjadi faktor utama yang menahan penurunan bunga deposito.

Ia mencatat, porsi DPK special rate meningkat dari 23,43% pada Desember 2024 menjadi sekitar 26,6% pada Desember 2025. Kondisi ini membuat biaya dana tetap tinggi dan ruang penurunan bunga menjadi terbatas.

“Upaya menekan special rate sudah tepat, tetapi efeknya tidak instan. Permintaan memang mulai mereda di permukaan, namun secara fundamental masih tinggi,” jelasnya.

Menurut Josua, meskipun likuiditas industri masih memadai—tercermin dari pertumbuhan DPK yang mencapai dua digit dan rasio alat likuid yang masih tinggi—biaya mempertahankan dana besar tetap mahal karena deposan jumbo memiliki daya tawar kuat.

Baca Juga: CIMB Niaga Buka Suara Soal Aturan Lapor Data Kartu Kredit ke Dirjen Pajak

Ke depan, ia memproyeksikan suku bunga deposito masih akan turun, namun secara bertahap dan cenderung terbatas. Faktor eksternal seperti ketidakpastian global, suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama, hingga tekanan nilai tukar juga menjadi pertimbangan bank untuk tetap berhati-hati.

“Penurunan bunga deposito akan berjalan gradual. Special rate kemungkinan turun, tetapi tidak drastis dalam waktu dekat,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News