Bunga The Fed Ditahan, Bitcoin Ada di Zona Konsolidasi Begini Strategi yang Cocok



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan harga Bitcoin (BTC) cenderung stabil dan bertahan di area konsolidasi saat Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan.

Berdasarkan data CoinMarketCap, Bitcoin berada di level US$ 63.982,46 per keping dengan perubahan harian tipis 0,01%, kapitalisasi pasar mencapai US$ 1,28 triliun, serta volume perdagangan 24 jam mencapai US$ 26,76 miliar.

Keputusan The Fed menahan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75% memberi angin segar bagi pergerakan aset kripto utama ini.


Baca Juga: Bitcoin Tertekan Sentimen Global, Diversifikasi Bisa Jadi Kunci Investasi

Menurut Analis Reku Andri Fauzan, langkah penahanan suku bunga tersebut memperlihatkan kehati-hatian The Fed terhadap tingkat inflasi.

Kendati demikian, kebijakan moneter ini memberi ruang bagi aset berisiko seperti BTC agar tidak mendapat tekanan kenaikan suku bunga tambahan dalam waktu dekat.

Di sisi lain, harga saat ini di kisaran US$ 64.313 dinilai berada di zona yang secara historis sering menjadi area akumulasi.

Hal ini mengingat posisi drawdown Bitcoin saat ini masih sebesar 47% dari puncak tertinggi (ATH) US$ 4,27 triliun pada Oktober 2025 lalu.

Arah pergerakan Bitcoin selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh sejumlah dinamika makroekonomi dan perkembangan regulasi global.

Andri menilai arus masuk ETF spot serta progres regulasi seperti CLARITY Act di Senat AS akan menjadi katalis utama penggerak harga.

"Selain itu, peluncuran penuh DTCC Tokenization Service pada Oktober 2026 dan perkembangan geopolitik (khususnya ketegangan Timur Tengah) akan menjadi faktor penting," ungkap Andri kepada Kontan, Jumat (31/7/2026).

Sementara itu, indikator Fear & Greed Index saat ini tercatat berada di level 37 atau kategori Fear.

Kondisi indeks tersebut secara historis acap kali mendahului fase pemulihan apabila sentimen makro mulai membaik.

Menghadapi kondisi pasar saat ini, investor disarankan tidak terburu-buru mengambil keputusan secara impulsif dalam menempatkan modal.

Baca Juga: Sentimen Pasar Masih Lemah, Begini Strategi yang Bisa Dilakukan Investor Bitcoin

Andri menyebutkan bahwa strategi yang paling realistis saat ini adalah dollar-cost averaging (DCA) secara bertahap sambil menjaga porsi cash yang cukup.

Pembelian secara berkala di level harga saat ini sekitar US$ 64.300 dianggap jauh lebih bijaksana daripada menempatkan dana sekaligus.

"Fokus pada aset yang memiliki pendapatan riil (real revenue) dan likuiditas kuat, sambil menyisihkan “dry powder” untuk memanfaatkan kemungkinan local bottom di kuartal IV," tutur Andri.

Selain aset blue-chip utama seperti BTC dan Ethereum (ETH), terdapat beberapa alternatif aset kripto lain yang menarik dicermati.

Andri merekomendasikan aset real-revenue seperti ONDO sebagai pemimpin tokenisasi RWA dan saham, AAVE selaku protokol lending terbesar, serta HYPE yang mendominasi perpetual DEX.

"Selain itu, tokenized stocks dengan likuiditas tinggi seperti TSLAx/TSLAon, NVDAx/NVDAon, dan SPYx dari platform Ondo dan xStocks juga menarik karena menawarkan paparan saham tradisional dengan keunggulan 24/7 trading dan settlement instan," paparnya.

Proyeksi jangka menengah menempatkan BTC dalam fase konsolidasi di kisaran US$ 65.000–US$ 75.000 sepanjang paruh kedua 2026, dengan potensi breakout pada kuartal I 2027.

Di sisi lain, Standard Chartered lebih optimistis memproyeksikan akumulasi di kuartal III yang dilanjutkan dengan breakout pada kuartal IV.

Sebaliknya, skenario bearish NYDIG melihat kemungkinan local bottom di rentang US$ 38.000–US$ 39.000 sekitar bulan Oktober.

Baca Juga: Konflik Timur Tengah Bebani Prospek Harga Bitcoin

Secara keseluruhan, peluang pemulihan menuju harvest season di awal 2027 masih terbuka lebar asalkan arus institusional dan kejelasan regulasi terus berlanjut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News