Bunga The Fed Naik, Ekspansi Manufaktur Makin Berat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan rupiah di tengah kenaikan suku bunga global mulai menjadi perhatian pelaku industri manufaktur. 

Tekanan nilai tukar berpotensi meningkatkan biaya produksi, terutama bagi industri yang masih bergantung pada bahan baku, mesin dan barang modal impor. Kondisi ini pada akhirnya dapat memengaruhi margin hingga keputusan ekspansi perusahaan.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani mengatakan, depresiasi rupiah menjadi perhatian terutama jika berlangsung berkelanjutan karena transmisinya cukup langsung terhadap struktur biaya industri.


"Ketika rupiah melemah, biaya input berbasis valuta asing meningkat dan pada akhirnya dapat mendorong kenaikan cost of production," kata Shinta kepada Kontan, Senin (21/9/2026).

Baca Juga: Industri Baja Tertekan Kenaikan Harga Minyak

Menurut Shinta, dampaknya akan lebih terasa pada industri yang berorientasi pasar domestik tetapi memiliki imported content yang tinggi, karena biaya meningkat dalam valuta asing sementara penerimaan sebagian besar tetap dalam rupiah.

Di sisi lain, ruang pelaku usaha untuk meneruskan kenaikan biaya produksi ke harga jual juga terbatas. Pelaku industri masih harus memperhatikan kondisi permintaan dan daya beli masyarakat.

"Karena itu, dalam banyak kasus tekanan nilai tukar terlebih dahulu akan terabsorpsi pada margin perusahaan, cash flow, maupun keputusan untuk melakukan ekspansi dan investasi," ujarnya.

Namun, dampak pelemahan rupiah tidak seragam di setiap industri. Perusahaan dengan kandungan lokal tinggi maupun memiliki pendapatan ekspor mempunyai natural hedge yang relatif lebih baik.

Shinta menilai, bagi dunia usaha yang perlu dicermati bukan hanya level rupiah, melainkan stabilitas dan volatilitas nilai tukar. Kepastian tersebut diperlukan perusahaan untuk menyusun perencanaan biaya dan investasi.

"Apindo memahami bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini juga sangat dipengaruhi dinamika global, sehingga respons kebijakan perlu tetap prudent dan menggunakan bauran instrumen, tidak hanya mengandalkan kenaikan suku bunga," kata dia.

Baca Juga: Penerbangan Asia-Pasifik Tumbuh 5,1%, Kebutuhan Pesawat Capai 19.120 Unit

Di tengah tekanan tersebut, penguatan fundamental sektor riil juga menjadi penting.

Menurut Shinta, penguatan input domestik, peningkatan ekspor dan investasi, pendalaman pasar valas serta instrumen hedging, dan pengurangan berbagai komponen high cost economy perlu berjalan bersama.

Tekanan terhadap industri tersebut semakin relevan setelah The Fed pada 16 September 2026 menaikkan Fed Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%-4%.

Kenaikan tersebut menambah tekanan terhadap biaya pendanaan global dan nilai tukar.

Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi dan Pemberdayaan Daerah Kadin Indonesia Erwin Aksa mengatakan, kenaikan suku bunga The Fed menjadi tambahan tekanan bagi industri manufaktur melalui biaya pendanaan, nilai tukar dan perubahan appetite investor terhadap risiko.

"Bagi perusahaan yang sedang merencanakan ekspansi dengan leverage cukup tinggi, terutama yang menggunakan pinjaman dalam dolar AS, perhitungan kelayakan investasinya akan berubah. Cost of capital meningkat, hurdle rate investasi naik, dan payback period menjadi lebih panjang. Dalam situasi seperti ini, perusahaan cenderung lebih selektif terhadap proyek baru," kata Erwin kepada Kontan, Senin (21/9/2026).

Baca Juga: HIMKI Siapkan Strategi Baru Hadapi Perubahan Industri Global

Meski demikian, Erwin belum melihat kenaikan suku bunga The Fed sebagai pemicu penghentian investasi manufaktur secara luas. Realisasi investasi semester I 2026 masih mencapai Rp 1.010,6 triliun atau tumbuh 7,2% secara tahunan.

"Jadi yang terjadi lebih tepat disebut repricing dan reprioritization of investment, bukan investment freeze. Proyek yang sudah berjalan atau memiliki fundamental kuat kemungkinan tetap dilanjutkan, sedangkan proyek baru yang margin-nya tipis, kebutuhan pembiayaannya besar, atau sangat bergantung pada impor akan dievaluasi lebih ketat," ujarnya.