Bunga The Fed Naik, Investasi Manufaktur Makin Selektif



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan suku bunga The Fed mulai menambah tekanan terhadap rencana investasi industri manufaktur di Indonesia. Meski demikian, kenaikan biaya modal tersebut belum menunjukkan adanya penghentian investasi secara luas.

Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi dan Pemberdayaan Daerah Kadin Indonesia Erwin Aksa mengatakan, kenaikan suku bunga The Fed menjadi tambahan tekanan bagi industri manufaktur melalui biaya pendanaan, nilai tukar dan perubahan minat investor terhadap risiko.

"Bagi perusahaan yang sedang merencanakan ekspansi dengan leverage cukup tinggi, terutama yang menggunakan pinjaman dalam dolar AS, perhitungan kelayakan investasinya akan berubah. Cost of capital meningkat, hurdle rate investasi naik, dan payback period menjadi lebih panjang. Dalam situasi seperti ini, perusahaan cenderung lebih selektif terhadap proyek baru," kata Erwin kepada Kontan, Senin (21/9/2026).


Baca Juga: PGE (PGEO) Mulai Bor Sumur Kedua PLTP Lumut Balai Unit 3, Target Rampung 40 Hari

The Fed pada 16 September 2026 menaikkan Fed Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%-4%. Namun, kondisi tersebut belum serta-merta membuat investasi manufaktur berhenti.

Erwin menyebut realisasi investasi pada semester I 2026 masih mencapai Rp 1.010,6 triliun atau tumbuh 7,2% secara tahunan. Dari total tersebut, Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai sekitar Rp 507,6 triliun atau 50,2%.

"Jadi yang terjadi lebih tepat disebut repricing dan reprioritization of investment, bukan investment freeze. Proyek yang sudah berjalan atau memiliki fundamental kuat kemungkinan tetap dilanjutkan, sedangkan proyek baru yang margin-nya tipis, kebutuhan pembiayaannya besar, atau sangat bergantung pada impor akan dievaluasi lebih ketat," ujarnya.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai kenaikan suku bunga The Fed juga akan mengubah perhitungan investasi perusahaan.

"Yang berubah adalah perhitungan investasinya. Biaya pendanaan global naik, dolar menguat, dan premi risiko emerging market ikut meningkat. Dampaknya ke manufaktur Indonesia terutama melalui biaya kredit, nilai tukar, dan permintaan," kata Yusuf kepada Kontan, Senin (21/9/2026).

Menurut dia, proyek pabrik baru, tambahan kapasitas maupun pembelian mesin yang masih mengandalkan kredit akan dihitung lebih ketat. Perusahaan akan melihat kembali tingkat pengembalian investasi setelah memperhitungkan bunga dan risiko nilai tukar.

Kenaikan bunga global juga menjadi perhatian bagi perusahaan yang memiliki utang valuta asing (valas). Berdasarkan data Bank Indonesia, utang luar negeri (ULN) swasta pada kuartal II 2026 mencapai US$194,6 miliar, turun 0,6% secara tahunan. Sekitar 75,7% di antaranya merupakan utang jangka panjang.

Erwin mengatakan risiko tersebut tidak bisa disamaratakan di seluruh perusahaan manufaktur. Perusahaan dengan pendapatan rupiah tetapi kewajiban utang dan bunga dalam dolar AS akan menghadapi tekanan lebih besar ketika rupiah melemah.

Sebaliknya, eksportir yang memperoleh pendapatan dalam dolar AS memiliki perlindungan alami atau natural hedge yang lebih baik.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma Wirawasta menilai tekanan eksternal tersebut datang ketika hambatan investasi domestik masih cukup besar.

"Sebelum kenaikan suku bunga the fed, hambatan internal untuk investasi dan ekspansi di Indonesia terlalu banyak, bahkan realisasi dari rencana investasi dua tahun terakhir juga masih minim. Dengan adanya perkembangan baru ini, tekanan eksternal akan menambah hambatan investasi ini," kata Redma kepada Kontan, Senin (21/9/2026).

Menurut Yusuf, dampak terhadap investasi asing juga lebih terlihat pada meningkatnya standar kelayakan proyek. Investor akan semakin memperhitungkan risiko kurs, bunga, energi dan rantai pasok.

"Pada PMA, perubahan utamanya bukan investor langsung meninggalkan Indonesia, melainkan standar kelayakan investasi menjadi lebih tinggi," ujarnya.

Ia menambahkan, proyek yang memiliki pendapatan dolar, bahan baku domestik, kontrak pembelian jangka panjang atau dukungan kebijakan industri yang jelas cenderung memiliki struktur risiko yang berbeda dibandingkan proyek yang bergantung pada pembiayaan murah dan permintaan ekspor yang belum pasti.

Dengan kondisi tersebut, kuartal IV 2026 hingga awal 2027 menjadi periode penting untuk melihat dampak kenaikan biaya modal terhadap pipeline investasi baru.

Baca Juga: Potensi Panas Bumi Gunung Ungaran Dari Listrik Rendah Emisi hingga Penggerak Ekonomi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News