KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek investasi pada aset offshore disebut masih menarik bagi investor Indonesia di tengah suku bunga global yang relatif tinggi. Penguatan dolar AS bahkan diperkirakan dapat menjadi salah satu pertimbangan bagi investor untuk melakukan diversifikasi ke aset berdenominasi dolar AS. DIketahui, bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), menaikkan suku bunga acuannya ke level 3,75%-4,0% pada FOMC September. Kenaikan suku bunga ini ialah pertama kali sejak Juli 2023. Sejalan, indeks dolar AS pun menguat ke level 100,5 pada Jumat (18/9/2026).
Baca Juga: The Fed Naikkan Bunga, Ini Peluang Saham AS di Sektor AI dan Teknologi Direktur Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, mengatakan kenaikan suku bunga acuan global tersebut justru membuat aset offshore tetap menarik. Selain memberikan diversifikasi, aset offshore juga dapat menjadi lindung nilai terhadap risiko nilai tukar. Sejalan dengan itu, imbal hasil atau yield US Treasury yang saat ini sudah berada di level tinggi yakni 4,9% pada tenor 10 tahun, membuat instrumen pendapatan tetap USD menawarkan daya tarik tersendiri. Investor dapat memperoleh yield yang relatif menarik tanpa harus mengambil risiko yang terlalu besar. Di sisi lain, Wawan melihat investor perlu lebih berhati-hati terhadap aset saham global. "Saham global sudah naik cukup tinggi sehingga potensi koreksi terbuka jika suku bunga bertahan tinggi lebih lama," ujar Wawan kepada Kontan, Jumat (18/9/2026). Untuk kelas aset yang dapat dipertimbangkan investor saat ini, Wawan melihat instrumen pendapatan tetap dolar AS sebagai pilihan yang menarik dari sisi risk reward. Instrumen tersebut mencakup obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) tenor pendek hingga menengah serta instrumen money market dalam dolar AS. "Untuk saat ini pendapatan tetap USD paling menarik dari sisi risk-reward, baik obligasi pemerintah AS tenor pendek-menengah, money market USD, karena yield 4%-5% relatif aman," jelas Wawan. Sementara untuk investor dengan profil risiko lebih agresif, ia menyebut reksadana global berbasis syariah dapat menjadi salah satu alternatif untuk memperoleh eksposur terhadap pasar saham global. Dari sisi strategi investasi, Wawan menyarankan investor melakukan alokasi secara bertahap atau dollar cost averaging (DCA). Menurut dia, porsi aset offshore idealnya sekitar 10%-30% dari total portofolio, dengan penyesuaian berdasarkan profil risiko masing-masing investor. Namun, porsi tersebut dapat berbeda bagi investor yang memang memiliki kebutuhan dalam mata uang dolar AS. Selain memperhatikan potensi imbal hasil, investor juga perlu memastikan produk yang dipilih legal serta memiliki transparansi biayanya.
Ada pun Wawan mengingatkan risiko investasi offshore tidak hanya berasal dari volatilitas aset, tetapi juga pergerakan nilai tukar. Penguatan rupiah pada masa mendatang dapat mengurangi keuntungan ketika investasi dalam dolar AS dikonversikan kembali ke rupiah. Wawan menyebut investor perlu memperhatikan risiko kurs dua arah, disamping risiko volatilitas kelas asetnya itu sendiri. Jika The Fed nantinya berbalik arah dan melonggarkan kebijakan moneternya, rupiah berpotensi kembali menguat.
Baca Juga: BEI Siapkan Daftar Saham untuk Short Selling, Hanya 3-5 Emiten pada Tahap Awal Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News