KONTAN.CO.ID - Korea Selatan mulai mengerahkan rudal balistik konvensional terkuatnya, Hyunmoo-5 ke unit-unit garis depan. Rudal ini dijuluki “rudal monster” karena daya hancurnya yang sangat besar. Langkah ini menegaskan upaya Seoul memperkuat daya tangkal militernya terhadap Korea Utara. Mengutip
Korea Times, menurut pejabat militer pada Minggu (18/1/2025), rudal darat-ke-darat ini mampu membawa hulu ledak hingga delapan ton dan mulai masuk ke unit garis depan sejak akhir tahun lalu. Pengerahan operasional penuh ditargetkan rampung sebelum pemerintahan saat ini berakhir pada 2030.
Hyunmoo-5 disebut sebagai senjata konvensional paling kuat yang pernah dimiliki Korea Selatan. Rudal ini dirancang untuk menghantam fasilitas bawah tanah yang sangat dalam, termasuk bunker komando yang diyakini digunakan oleh kepemimpinan dan kekuatan strategis Korea Utara. Hyunmoo-5 pertama kali diperkenalkan ke publik dalam peringatan Hari Angkatan Bersenjata Korea Selatan pada 2024 dan 2025, dan langsung menarik perhatian karena ukurannya yang besar serta potensi daya rusaknya, di tengah meningkatnya ketegangan keamanan kawasan. Meski demikian, para analis mengingatkan agar kemampuan rudal ini tidak dibesar-besarkan, terutama dalam hal menghancurkan fasilitas bawah tanah Korea Utara yang paling terlindungi.
Baca Juga: Super Kaya! Bukan Hanya Minyak, Ini 7 Kekayaan Alam Tersembunyi Venezuela Lee Il-woo, Direktur Korea Defense Network, menilai Hyunmoo-5 sebagai rudal paling signifikan secara strategis dalam seri Hyunmoo, tetapi tetap memiliki keterbatasan fisik. “Hyunmoo-5 membawa hulu ledak konvensional dengan daya ledak sangat besar. Jika muatan dikurangi, jangkauannya secara teoritis bisa diperpanjang hingga sekitar 3.000 kilometer, bahkan ada yang membandingkannya dengan rudal kelas antarbenua,” kata Lee. Dia menambahkan, “Dari sisi kekuatan dan sinyal strategis, ini adalah rudal terkuat yang pernah dimiliki Korea Selatan.” Dari sudut pandang Korea Utara, lanjut Lee, rudal ini merupakan ancaman serius, terutama karena kemampuan Pyongyang untuk mencegat rudal masih terbatas. “Peluang Korea Utara untuk berhasil mencegat Hyunmoo-5 terlihat sangat kecil,” ujarnya, seraya menyinggung kinerja sistem pertahanan udara buatan Rusia seperti S-300 dan S-400 yang dinilai tidak selalu efektif dalam kondisi nyata, dan memiliki kemiripan dengan sistem yang digunakan Korea Utara. Namun, Lee menekankan bahwa efektivitas Hyunmoo-5 terhadap fasilitas bawah tanah yang sangat dalam tetap perlu disikapi dengan hati-hati. Banyak instalasi penting Korea Utara berada lebih dari 100 meter di bawah permukaan tanah, sering kali terlindungi lapisan batu granit yang umum di Semenanjung Korea.
Tonton: DEN: Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Tak Gantikan PLTU dalam Waktu Dekat “Bahkan senjata penghancur bunker konvensional paling canggih pun kesulitan menembus batuan granit,” kata Lee. Ia mencontohkan bom penghancur bunker AS GBU-57 yang diperkirakan mampu menembus sekitar 60 meter di batuan yang lebih lunak seperti batu pasir, namun tetap gagal sepenuhnya melumpuhkan fasilitas bawah tanah di Iran. “Fasilitas Korea Utara lebih dalam, sering kali 100 hingga 150 meter, dan berada di kondisi geologi yang jauh lebih keras.”
“Karena itu, tidak realistis jika mengatakan bahwa senjata konvensional saja, termasuk Hyunmoo-5, bisa sepenuhnya menghancurkan fasilitas tersebut. Tanpa senjata nuklir, penetrasi total hampir tidak mungkin,” tambahnya. Selain itu, Korea Selatan juga tengah mengembangkan sistem rudal generasi berikutnya yang secara informal dikenal sebagai Hyunmoo-6 dan Hyunmoo-7, yang diyakini memiliki jangkauan lebih jauh atau kemampuan penetrasi yang lebih baik.