KEBANGKRUTAN usaha orang tua memaksa Burlian Hakim merantau ke Lampung. Di perantauan, ia justru sukses besar. Berawal sebagai penjual pupuk, ia kemudian membuka toko pertanian serta mengembangkan kebun semangka dan jeruk. Kini ia pemilik pabrik pengolahan karet.Banyak anak muda memilih merantau sebagai untuk keluar dari himpitan kemiskinan. Pada 1977, Burlian Hakim juga melakukan hal serupa. Ia meninggalkan Palembang, kampung halamannya. Terlahir sebagai anak ketiga dari lima bersaudara di daerah Komering, Palembang, Burlian muda sudah merasakan kehidupan yang berat. Usaha sang ayah yang dulunya besar bangkrut. Tak berapa lama, sang ayah pun berpulang ketika usia Burlian masih sangat muda. Toh, hidup sebagai anak yatim tidak membuatnya patah semangat. Selepas SMA, Burlian merantau ke Lampung hanya berbekal tiga baju dan dua celana. “Sebenarnya saya ingin mengadu nasib ke Jakarta atau Kalimantan, tapi di sana tidak ada saudara. Sementara di Lampung ada saudara saya yang jadi pengusaha sukses,†terang Burlian. Di Lampung, Burlian pun memperoleh pekerjaan sebagai tenaga penjual di perusahaan distributor PT Pupuk Sriwidjaja (PUSRI) dan obat-obat tanaman. Pekerjaan ini ia lakoni sampai tahun 1982. Pada tahun itu, ia memutuskan untuk membuka toko obat pertanian sendiri. “Waktu itu modalnya saya ambil kredit dari BRI sebesar Rp 5 juta,†ujarnya. Toko obat tanaman itu resmi berdiri pada tahun 1983. Lantaran sudah lama malang melintang di pasar pupuk dan obat tanaman, usahanya cepat berkembang. Tokonya menjadi salah satu toko pestisida terbesar di Lampung waktu itu. Sembari mengelola tokonya, Burlian secara iseng menekuni hobi bertanam aneka buah. Dan, akhirnya tahun 1987, Burlian yang memiliki banyak pengalaman melakukan diversifikasi usaha dengan membuka perkebunan semangka. “Waktu itu saya pikir semangka adalah komoditas bagus karena belum ada satupun kebun semangka di Lampung,†ujar pria 51 tahun ini. Maka, selepas menikah di tahun 1987, Burlian membeli lahan perkebunan semangka di pedalaman Lampung.Ternyata usaha kebun semangka ini berhasil. Saban harinya, Burlian bisa menghasilkan 70 ton sampai 100 ton semangka. Sekitar 40%-nya adalah semangka tanpa biji yang harganya waktu itu mencapai Rp 1.500 per kilogram. Semangka tersebut tidak hanya dijual di Lampung, tetapi masuk ke pasar-pasar di Jakarta dan juga di Cibitung. “Saingan saya adalah semangka dari Banyuwangi,†ujarnya. Dari kebun semangka ini, Burlian bisa meraup omzet sampai Rp 20 juta sehari.â€Bermain di semangka membuat saya punya banyak duit. Bahkan semua aset tanah yang saya miliki sekarang semuanya dari semangka,†tutur Burlian yang kini memiliki 500 hektare tanah. Sebagian tanah itu ia olah menjadi kebun jeruk siam lokal. Tapi, di bisnis perkebunan jeruk, Burlian kurang hoki. Setiap panen, harga jatuh. Padahal sekali panen, ia bisa menjual ratusan ton. “Soalnya pohon jeruk saya subur sekali, buahnya lebat,†katanya. Maka, ia hanya bertahan lima tahun di usaha perkebunan jeruk. Menjadi Petani Semangka Pada tahun 1998, Burlian Hakim dan keluarganya meninggalkan Bandar Jaya yang menjadi lokasi perkebunan semangka dan jeruknya. Ia hijrah ke Bandar Lampung. Di Bandar Lampung, Burlian membuka kantor kontraktor penyedia pupuk dan obat tanaman untuk proyek-proyek perkebunan, pertanian, perikanan, dan kehutanan. “Ini semua gara-gara rengekan anak saya yang ingin melihat ayahnya pakai dasi, sepatu, serta naik mobil bagus ketika berangkat kerja,†kekeh Burlian. Pria berumur 51 tahun ini bercerita, semua tetangganya di daerah Way Halim merupakan pekerja kantoran yang necis. Tak heran jika sang anak sangat iri dengan keadaan tersebut. “Anak saya mungkin bosan dengan penampilan saya ketika mau berangkat ke kebun. Saya kan cuma pakai pakaian seadanya, topi, dan celana pendek; berangkat juga naik pick up,†ujarnya sambil tergelak. Namun, dunia kontraktor pertanian merupakan dunia yang panas. Burlian mesti bersaing ketat dalam pesaingnya dalam setiap tender. Rebutan proyek pun tak bisa ia hindari. Sadar bisnis seperti ini bukan dunianya, perlahan ia mulai mundur. Selanjutnya, ia berpikir untuk berdagang karet. Namun, belakangan ia berpikir untuk sekalian saja membuka pabrik pengolahan karet atau bokar. Apalagi di Lampung, pabrik serupa masih sangat sedikit. Burlian pun mencari lahan strategis di sekitar sentra karet di Tulang Bawang, Lampung Tengah. Sementara untuk modal pembangunan pabrik, Burlian meminjam dari BRI sebesar Rp 8 miliar di tahun 2004. Dalam dua tahun, plafon pinjamannya naik menjadi Rp 15 miliar.â€Saya namakan pabrik saya PT Komering Jaya Perdana, sesuai dengan daerah asal saya. Ini untuk mengingatkan saya bahwa apa yang saya capai ini merupakan ridho dari Allah serta hasil cucuran keringat saya, bukan hasil warisan,†ujar pria yang selalu tampil bersahaja ini. Tahun 2007, Burlian kembali memperbesar usahanya. Untuk mencukupi modalnya, kali ini ia meminjam dari BNI dengan plafon sebesar Rp 35 miliar. “Biasa lah, yang namanya pengusaha semakin besar usahanya, semakin banyak hutangnya,†canda bapak enam anak ini. Saat ini, pabrik Burlian mempunyai kapasitas produksi 1.200 ton per bulan. Namun, pabrik ini baru bisa mengolah 800 ton per bulan. “Hasil pengolahan bokar di pabrik saya setara dengan SIR (Standard Indonesian Rubber) 20, dari tiga SIR yang ada, yaitu SIR 10, SIR 20 dan SIR 25. Sehingga cocok sebagai bahan baku industri pembuatan ban,†ujarnya berpromosi. Saat ini, mengekspor 90% hasil produksinya ke berbagai negara di Asia, seperti China, Vietnam, dan Korea. “Karena kebun karet saya kecil, hanya sekitar 300 hektare saja, maka untuk bahan baku saya juga membeli dari petani,†ujarnya. Seiring pertumbuhan bisnis Burlian, plafon kreditnya juga terus meningkat. Sekarang plafon kreditnya sudah mencapai Rp 60 miliar. “Saya bahkan masih perlu Rp 10 miliar lagi untuk intensifikasi pabrik,†ujar Burlian yang saat ini memiliki 208 karyawan. Harga Karet Anjlok, Hidup Petani Terseok Sebagai salah satu pebisnis di industri pengolah bahan olah karet (bokar), Burlian Hakim sangat mengetahui bagaimana naik turunnya taraf hidup para petani. Ketika harga karet dunia jatuh dari US$ 2,8 per kg menjadi US$ 1,2 per kg akhir tahun lalu, banyak petani jatuh miskin. “Pengolah karet tidaklah terlalu merugi karena harga berapa pun bisa dibeli. Namun, bagi petani karet, hal itu sangat menyakitkan. Banyak di antara mereka yang langsung miskin,†ujar bapak enam anak ini. Menurut Burlian, masalah tersebut bukannya tidak bisa diatasi. Kuncinya ada di pemerintah. Ia merujuk pengalaman di Thailand. Pemerintah Negeri Gajah putih itu memberikan kompensasi kepada petani ketika harga karet jatuh. “Pemerintah Thailand melarang petani menyadap karetnya sampai harganya kembali normal. Dan, mereka diberi kompensasi tertentu,†ujarnya. Menurut Burlian, di luar faktor kejatuhan harga karet di pasar dunia, para petani di negeri ini tidak bisa menikmati harga jual yang baik karena produksinya rendah dan mutu karet mereka kurang bagus. “Kebun karet paling luas, ya, di Indonesia, tapi hasil yang paling jelek dan paling sedikit juga di Indonesia,†ujarnya. Tak heran jika harga karet Indonesia, atau Standard Indonesia Rubber (SIR), selalu 10% lebih rendah ketimbang harga standar karet Thailand atau Malaysia. Karena itu, selain mencontoh Thailand dalam mengatasi persoalan, menurut Burlian, pemerintah juga perlu mengedukasi para petani tentang pentingnya menjaga mutu. Sebab, masih banyak petani di negeri ini yang suka menambah berat bokar dengan mencampur karet dengan pasir atau tanah. “Padahal bokar seperti itu tidak diterima di pabrik dan kalau pun dibeli, harganya sangat murah,†katanya. Untuk melakukan edukasi bagi para petani ini, Burlian memilih tidak bergantung pada pemerintah. Ia melakukannya sendiri. Selain petani, ia juga mendekati koleganya, yakni para pemilik kebun. Tapi, meski setiap hari ia menjelaskan pentingnya menjaga mutu, tetap saja ada yang nakal. “Memberantas budaya menambah berat bokar dengan pasir atau tanah sangat sulit,†ujarnya. Selain sibuk mendidik para mitra kerjanya, ia juga tak lupa menurunkan ilmu dagang ke keluarga besarnya. “Saya banyak menanamkan kepada mereka untuk membuka lapangan kerja daripada mencari lapangan kerja,†tuturnya. Beberapa keponakannya ia minta untuk mengelola beberapa warnet, beberapa stasiun radio, minimarket, dan berbagai bisnis lainnya Burlian sendiri berniat menyerahkan tanggung jawab untuk mengurus kebun karet seluas 300 hektare kepada anak pertamanya. Sang pewaris kini masih kuliah di President University. “Saya sudah ajak anak saya ke pertemuan-pertemuan internasional agar lebih mendalami bisnis karet olahan ini,†ujarnya mantap. Di usianya yang ke 51 tahun, kini Burlian ingin pensiun dan menjalani sisa hidup dengan beribadah. “Apa yang saya dapat sudah lebih dari cukup,†katanya.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Burlian Hakim, Meniti Sukses di Pertanian
KEBANGKRUTAN usaha orang tua memaksa Burlian Hakim merantau ke Lampung. Di perantauan, ia justru sukses besar. Berawal sebagai penjual pupuk, ia kemudian membuka toko pertanian serta mengembangkan kebun semangka dan jeruk. Kini ia pemilik pabrik pengolahan karet.Banyak anak muda memilih merantau sebagai untuk keluar dari himpitan kemiskinan. Pada 1977, Burlian Hakim juga melakukan hal serupa. Ia meninggalkan Palembang, kampung halamannya. Terlahir sebagai anak ketiga dari lima bersaudara di daerah Komering, Palembang, Burlian muda sudah merasakan kehidupan yang berat. Usaha sang ayah yang dulunya besar bangkrut. Tak berapa lama, sang ayah pun berpulang ketika usia Burlian masih sangat muda. Toh, hidup sebagai anak yatim tidak membuatnya patah semangat. Selepas SMA, Burlian merantau ke Lampung hanya berbekal tiga baju dan dua celana. “Sebenarnya saya ingin mengadu nasib ke Jakarta atau Kalimantan, tapi di sana tidak ada saudara. Sementara di Lampung ada saudara saya yang jadi pengusaha sukses,†terang Burlian. Di Lampung, Burlian pun memperoleh pekerjaan sebagai tenaga penjual di perusahaan distributor PT Pupuk Sriwidjaja (PUSRI) dan obat-obat tanaman. Pekerjaan ini ia lakoni sampai tahun 1982. Pada tahun itu, ia memutuskan untuk membuka toko obat pertanian sendiri. “Waktu itu modalnya saya ambil kredit dari BRI sebesar Rp 5 juta,†ujarnya. Toko obat tanaman itu resmi berdiri pada tahun 1983. Lantaran sudah lama malang melintang di pasar pupuk dan obat tanaman, usahanya cepat berkembang. Tokonya menjadi salah satu toko pestisida terbesar di Lampung waktu itu. Sembari mengelola tokonya, Burlian secara iseng menekuni hobi bertanam aneka buah. Dan, akhirnya tahun 1987, Burlian yang memiliki banyak pengalaman melakukan diversifikasi usaha dengan membuka perkebunan semangka. “Waktu itu saya pikir semangka adalah komoditas bagus karena belum ada satupun kebun semangka di Lampung,†ujar pria 51 tahun ini. Maka, selepas menikah di tahun 1987, Burlian membeli lahan perkebunan semangka di pedalaman Lampung.Ternyata usaha kebun semangka ini berhasil. Saban harinya, Burlian bisa menghasilkan 70 ton sampai 100 ton semangka. Sekitar 40%-nya adalah semangka tanpa biji yang harganya waktu itu mencapai Rp 1.500 per kilogram. Semangka tersebut tidak hanya dijual di Lampung, tetapi masuk ke pasar-pasar di Jakarta dan juga di Cibitung. “Saingan saya adalah semangka dari Banyuwangi,†ujarnya. Dari kebun semangka ini, Burlian bisa meraup omzet sampai Rp 20 juta sehari.â€Bermain di semangka membuat saya punya banyak duit. Bahkan semua aset tanah yang saya miliki sekarang semuanya dari semangka,†tutur Burlian yang kini memiliki 500 hektare tanah. Sebagian tanah itu ia olah menjadi kebun jeruk siam lokal. Tapi, di bisnis perkebunan jeruk, Burlian kurang hoki. Setiap panen, harga jatuh. Padahal sekali panen, ia bisa menjual ratusan ton. “Soalnya pohon jeruk saya subur sekali, buahnya lebat,†katanya. Maka, ia hanya bertahan lima tahun di usaha perkebunan jeruk. Menjadi Petani Semangka Pada tahun 1998, Burlian Hakim dan keluarganya meninggalkan Bandar Jaya yang menjadi lokasi perkebunan semangka dan jeruknya. Ia hijrah ke Bandar Lampung. Di Bandar Lampung, Burlian membuka kantor kontraktor penyedia pupuk dan obat tanaman untuk proyek-proyek perkebunan, pertanian, perikanan, dan kehutanan. “Ini semua gara-gara rengekan anak saya yang ingin melihat ayahnya pakai dasi, sepatu, serta naik mobil bagus ketika berangkat kerja,†kekeh Burlian. Pria berumur 51 tahun ini bercerita, semua tetangganya di daerah Way Halim merupakan pekerja kantoran yang necis. Tak heran jika sang anak sangat iri dengan keadaan tersebut. “Anak saya mungkin bosan dengan penampilan saya ketika mau berangkat ke kebun. Saya kan cuma pakai pakaian seadanya, topi, dan celana pendek; berangkat juga naik pick up,†ujarnya sambil tergelak. Namun, dunia kontraktor pertanian merupakan dunia yang panas. Burlian mesti bersaing ketat dalam pesaingnya dalam setiap tender. Rebutan proyek pun tak bisa ia hindari. Sadar bisnis seperti ini bukan dunianya, perlahan ia mulai mundur. Selanjutnya, ia berpikir untuk berdagang karet. Namun, belakangan ia berpikir untuk sekalian saja membuka pabrik pengolahan karet atau bokar. Apalagi di Lampung, pabrik serupa masih sangat sedikit. Burlian pun mencari lahan strategis di sekitar sentra karet di Tulang Bawang, Lampung Tengah. Sementara untuk modal pembangunan pabrik, Burlian meminjam dari BRI sebesar Rp 8 miliar di tahun 2004. Dalam dua tahun, plafon pinjamannya naik menjadi Rp 15 miliar.â€Saya namakan pabrik saya PT Komering Jaya Perdana, sesuai dengan daerah asal saya. Ini untuk mengingatkan saya bahwa apa yang saya capai ini merupakan ridho dari Allah serta hasil cucuran keringat saya, bukan hasil warisan,†ujar pria yang selalu tampil bersahaja ini. Tahun 2007, Burlian kembali memperbesar usahanya. Untuk mencukupi modalnya, kali ini ia meminjam dari BNI dengan plafon sebesar Rp 35 miliar. “Biasa lah, yang namanya pengusaha semakin besar usahanya, semakin banyak hutangnya,†canda bapak enam anak ini. Saat ini, pabrik Burlian mempunyai kapasitas produksi 1.200 ton per bulan. Namun, pabrik ini baru bisa mengolah 800 ton per bulan. “Hasil pengolahan bokar di pabrik saya setara dengan SIR (Standard Indonesian Rubber) 20, dari tiga SIR yang ada, yaitu SIR 10, SIR 20 dan SIR 25. Sehingga cocok sebagai bahan baku industri pembuatan ban,†ujarnya berpromosi. Saat ini, mengekspor 90% hasil produksinya ke berbagai negara di Asia, seperti China, Vietnam, dan Korea. “Karena kebun karet saya kecil, hanya sekitar 300 hektare saja, maka untuk bahan baku saya juga membeli dari petani,†ujarnya. Seiring pertumbuhan bisnis Burlian, plafon kreditnya juga terus meningkat. Sekarang plafon kreditnya sudah mencapai Rp 60 miliar. “Saya bahkan masih perlu Rp 10 miliar lagi untuk intensifikasi pabrik,†ujar Burlian yang saat ini memiliki 208 karyawan. Harga Karet Anjlok, Hidup Petani Terseok Sebagai salah satu pebisnis di industri pengolah bahan olah karet (bokar), Burlian Hakim sangat mengetahui bagaimana naik turunnya taraf hidup para petani. Ketika harga karet dunia jatuh dari US$ 2,8 per kg menjadi US$ 1,2 per kg akhir tahun lalu, banyak petani jatuh miskin. “Pengolah karet tidaklah terlalu merugi karena harga berapa pun bisa dibeli. Namun, bagi petani karet, hal itu sangat menyakitkan. Banyak di antara mereka yang langsung miskin,†ujar bapak enam anak ini. Menurut Burlian, masalah tersebut bukannya tidak bisa diatasi. Kuncinya ada di pemerintah. Ia merujuk pengalaman di Thailand. Pemerintah Negeri Gajah putih itu memberikan kompensasi kepada petani ketika harga karet jatuh. “Pemerintah Thailand melarang petani menyadap karetnya sampai harganya kembali normal. Dan, mereka diberi kompensasi tertentu,†ujarnya. Menurut Burlian, di luar faktor kejatuhan harga karet di pasar dunia, para petani di negeri ini tidak bisa menikmati harga jual yang baik karena produksinya rendah dan mutu karet mereka kurang bagus. “Kebun karet paling luas, ya, di Indonesia, tapi hasil yang paling jelek dan paling sedikit juga di Indonesia,†ujarnya. Tak heran jika harga karet Indonesia, atau Standard Indonesia Rubber (SIR), selalu 10% lebih rendah ketimbang harga standar karet Thailand atau Malaysia. Karena itu, selain mencontoh Thailand dalam mengatasi persoalan, menurut Burlian, pemerintah juga perlu mengedukasi para petani tentang pentingnya menjaga mutu. Sebab, masih banyak petani di negeri ini yang suka menambah berat bokar dengan mencampur karet dengan pasir atau tanah. “Padahal bokar seperti itu tidak diterima di pabrik dan kalau pun dibeli, harganya sangat murah,†katanya. Untuk melakukan edukasi bagi para petani ini, Burlian memilih tidak bergantung pada pemerintah. Ia melakukannya sendiri. Selain petani, ia juga mendekati koleganya, yakni para pemilik kebun. Tapi, meski setiap hari ia menjelaskan pentingnya menjaga mutu, tetap saja ada yang nakal. “Memberantas budaya menambah berat bokar dengan pasir atau tanah sangat sulit,†ujarnya. Selain sibuk mendidik para mitra kerjanya, ia juga tak lupa menurunkan ilmu dagang ke keluarga besarnya. “Saya banyak menanamkan kepada mereka untuk membuka lapangan kerja daripada mencari lapangan kerja,†tuturnya. Beberapa keponakannya ia minta untuk mengelola beberapa warnet, beberapa stasiun radio, minimarket, dan berbagai bisnis lainnya Burlian sendiri berniat menyerahkan tanggung jawab untuk mengurus kebun karet seluas 300 hektare kepada anak pertamanya. Sang pewaris kini masih kuliah di President University. “Saya sudah ajak anak saya ke pertemuan-pertemuan internasional agar lebih mendalami bisnis karet olahan ini,†ujarnya mantap. Di usianya yang ke 51 tahun, kini Burlian ingin pensiun dan menjalani sisa hidup dengan beribadah. “Apa yang saya dapat sudah lebih dari cukup,†katanya.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News