Bursa Asia Anjlok, Efek Lonjakan Harga Minyak Usai Iran Tutup Selat Hormuz



KONTAN.CO.ID - SYDNEY. Bursa saham di kawasan Asia anjlok pada Senin (13/7) setelah konflik di kawasan Teluk semakin memanas. Iran mengklaim telah menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi perdagangan minyak dunia, sehingga memicu lonjakan harga minyak dan kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global.

Di pasar keuangan, dolar AS menguat bersama kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat. Investor kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS (Federal Reserve/Fed) menjadi lebih besar, menjelang kesaksian pertama Ketua Fed Kevin Warsh di hadapan Kongres pada Selasa waktu setempat.

Pasar juga menantikan data inflasi Amerika Serikat untuk Juni yang akan dirilis Selasa. Inflasi diperkirakan sedikit melambat dari level 4,2% karena sebelumnya harga bensin turun. Namun, penurunan tersebut berpotensi hanya bersifat sementara karena harga minyak kini kembali melonjak.


Baca Juga: 4 Skenario Final Piala Dunia 2026, Duel Messi vs Mbappe Bisa Terulang

Harga minyak mentah Brent naik 4,3% menjadi US$ 79,31 per barel dari posisi terendah sebelumnya di US$ 70,14. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 4,4% menjadi US$ 74,62 per barel.

Pejabat Amerika Serikat menyatakan sekitar 20 kapal berhasil dikawal melintasi Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir. Namun, data pelacakan kapal menunjukkan aktivitas pelayaran di kawasan tersebut masih sangat terbatas.

Di pasar saham, perhatian investor kini tertuju pada musim laporan keuangan perusahaan kuartalan. Ekspektasi terhadap laba perusahaan, terutama yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI), sangat tinggi. Sejumlah bank besar AS akan mulai merilis laporan keuangan pada Selasa, disusul Netflix dan General Electric.

Analis Citi menilai sektor teknologi masih menjadi pilihan utama karena didukung pertumbuhan laba yang kuat serta valuasi yang dinilai menarik. Meski volatilitas saham AI diperkirakan masih tinggi dalam beberapa bulan ke depan, Citi tetap mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor teknologi informasi global dan Amerika Serikat. Selain itu, mereka juga merekomendasikan sektor keuangan, material, serta pasar Jepang.

Kontrak berjangka indeks S&P 500 turun 0,6%, sedangkan Nasdaq Futures merosot 1,3%. Di Eropa, kontrak berjangka EUROSTOXX 50 turun 0,9%, DAX Jerman melemah 1,0%, dan FTSE Inggris turun 0,3%.

Di Asia, indeks Nikkei Jepang kehilangan 2,2% setelah pekan lalu turun 1,7%. Sementara itu, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang merosot 1,8%.

Indeks KOSPI Korea Selatan jatuh tajam hingga 7,6% setelah pekan lalu juga turun hampir 8%. Penurunan dipicu tekanan pada investasi berbasis utang (leverage) di saham-saham semikonduktor. Pasar Korea Selatan kini dipandang sebagai salah satu indikator utama sentimen global terhadap industri chip, sehingga pelemahan lebih lanjut berpotensi memengaruhi pasar internasional.

Baca Juga: Serangan Rusia Kian Gencar, Sekutu Barat Percepat Pasokan Pertahanan Udara Ukraina

Di sisi lain, saham SK Hynix yang baru tercatat di Nasdaq melonjak hampir 14% pada debut perdagangannya Jumat lalu. Setelah penutupan pasar, muncul kabar bahwa Apple menggugat OpenAI serta dua mantan karyawannya terkait dugaan pencurian rahasia dagang.

Perusahaan semikonduktor terbesar dunia, Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), dijadwalkan merilis laporan keuangan pada Kamis. Pasar memperkirakan perusahaan akan kembali membukukan laba tertinggi.

Namun, analis Bank of America (BofA) mengingatkan bahwa lonjakan belanja modal alias capital expenditure (capex) untuk pengembangan AI mulai menggerus arus kas perusahaan teknologi besar. Tahun ini, kelompok hyperscaler diperkirakan telah menggelontorkan dana sekitar US$ 234 miliar, sementara arus kas bebas mereka diperkirakan berubah negatif untuk pertama kalinya sejak setidaknya 2007.

Menurut BofA, di tengah kondisi tersebut masih banyak sektor lain yang menawarkan valuasi lebih menarik dibanding saham AI.

Lonjakan harga minyak mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun hingga mencapai 4,2393%, tertinggi sejak awal 2025. Pasar kini memperkirakan pengetatan kebijakan moneter The Fed sekitar 39 basis poin hingga akhir tahun.

Penguatan ekspektasi suku bunga turut menopang indeks dolar AS di level 101,13. Euro sedikit melemah ke US$1,1394 karena kawasan Eropa lebih bergantung pada impor minyak dibandingkan Amerika Serikat.

Dolar AS juga menguat 0,2% terhadap yen Jepang menjadi 161,97 yen per dolar. Penguatan ini terjadi setelah sebelumnya yen sempat menguat menyusul usulan Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama agar Government Pension Investment Fund (GPIF) dan dana pensiun lainnya meningkatkan investasi di dalam negeri.

Sementara itu, poundsterling melemah 0,2% menjadi US$ 1,3383 menjelang perkembangan politik penting di Inggris. Andy Burnham diperkirakan akan resmi menjadi pemimpin Partai Buruh pada Jumat dan dilantik sebagai perdana menteri pada 20 Juli.

Di pasar komoditas, kenaikan imbal hasil obligasi membuat harga emas, yang tidak memberikan bunga, turun 1,5% menjadi sekitar US$ 4.060 per troy ons.

Baca Juga: Saham Chip Anjlok Saat Investor Asing Keluar, Bursa Korea Selatan Merosot 5%