KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia bergerak fluktuatif pada perdagangan awal Jumat (30/1/2026), seiring pelaku pasar mencerna sikap Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mendukung kesepakatan bipartisan untuk mencegah penutupan pemerintahan (
government shutdown) serta pernyataannya bahwa ia telah menentukan kandidat untuk memimpin Federal Reserve. Melansir
Reuters, Indeks MSCI saham Asia-Pasifik di luar Jepang bergerak naik-turun antara zona hijau dan merah, dan terakhir turun 0,2%. Meski melemah, indeks tersebut masih berada di jalur mencatatkan kinerja bulanan terbaik dalam lebih dari tiga tahun, meski memperpanjang pelemahan pada sesi sebelumnya.
Baca Juga: Harga Emas Turun Jumat (30/1) Pagi, Namun Menuju Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 1980 Kontrak berjangka S&P 500 e-mini turun 0,4%, sementara Nasdaq e-mini futures melemah 0,5%. Harga logam mulia juga bergerak tidak menentu setelah mengalami aksi jual tajam dalam perdagangan sebelumnya. “Kemajuan untuk menghindari penutupan pemerintahan akan memperkuat imbal hasil obligasi AS dan dolar, sementara meningkatnya risiko
shutdown akan membuat pasar bergerak sangat reaktif terhadap berita utama, terutama di tengah potensi keterlambatan rilis data,” ujar Shoki Omori, chief desk strategist untuk pasar obligasi dan valuta asing di Mizuho, Tokyo. Pada Kamis, Wall Street ditutup melemah setelah laporan kinerja Microsoft yang kurang memuaskan memicu kekhawatiran investor terhadap prospek investasi perusahaan tersebut di bidang kecerdasan buatan (AI). Indeks S&P 500 turun 0,1%, sementara Nasdaq Composite anjlok 0,7%.
Baca Juga: Harga Minyak Bertahan di Level Tertinggi Multi-Bulan Jumat (30/1), Brent ke US$70,5 Analis Westpac menyebut perdagangan pasar global dipenuhi volatilitas. “Sentimen berubah selama sesi perdagangan AS ketika kekhawatiran terhadap valuasi saham teknologi kembali mencuat,” tulis Westpac dalam laporan risetnya. Dari sekitar sepertiga emiten dalam indeks S&P 500 yang telah melaporkan kinerja, sekitar 76% berhasil melampaui ekspektasi laba. Namun, musim laporan keuangan sejauh ini masih memberikan gambaran yang beragam, khususnya bagi raksasa teknologi yang mendominasi indeks tersebut. Saham Microsoft anjlok 10% pada Kamis, menghapus lebih dari US$350 miliar kapitalisasi pasar, setelah kinerja bisnis cloud-nya dinilai kurang meyakinkan. Sebaliknya, saham Meta melonjak 10% berkat penguatan strategi AI yang meningkatkan efektivitas iklan dan mendorong proyeksi kinerja kuartal pertama yang optimistis. Apple juga memberikan sentimen positif setelah memproyeksikan lonjakan pendapatan hingga 16% pada kuartal Maret, jauh di atas ekspektasi Wall Street. Kinerja tersebut didukung oleh permintaan iPhone yang kuat serta pemulihan penjualan di China.
Baca Juga: Taiwan Rampungkan Uji Coba Bawah Laut Perdana Kapal Selam Produksi Dalam Negeri Di Jepang, indeks Nikkei 225 bergerak datar setelah data menunjukkan inflasi inti konsumen Tokyo naik 2,0% pada Januari dibandingkan setahun sebelumnya. Angka tersebut melambat dari bulan sebelumnya, namun sejalan dengan target Bank of Japan, sehingga meredakan tekanan terhadap bank sentral untuk segera mengetatkan kebijakan. Indeks dolar AS menguat 0,3% menjadi 96,441, setelah Trump menyatakan akan mengumumkan calon pengganti Ketua The Fed Jerome Powell pada Jumat. Di platform prediksi Polymarket, probabilitas Trump menunjuk mantan Gubernur The Fed Kevin Warsh melonjak hingga 88%. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 3,8 basis poin menjadi 4,263%. Sementara itu, pasar memperkirakan peluang sebesar 86,6% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan Maret mendatang, menurut CME FedWatch Tool. Di pasar komoditas, harga emas turun 0,7% ke level US$5.357,94 per ons, sedangkan perak melemah 0,2% menjadi US$115,89 per ons. Analis Pepperstone Group, Chris Weston, menilai koreksi tersebut merupakan dampak dari likuidasi posisi yang sebelumnya sudah terlalu jenuh beli.
Baca Juga: Perdagangan Emas Thailand Diawasi Ketat, Dampak dari Penguatan Baht Harga minyak mentah WTI turun 0,7% menjadi US$64,95 per barel, seiring pasar mencermati risiko geopolitik setelah Trump menandatangani perintah eksekutif yang menetapkan status darurat nasional serta membuka jalan penerapan tarif terhadap negara-negara yang memasok minyak ke Kuba.
Trump juga menyatakan berencana berbicara dengan Iran di tengah meningkatnya ketegangan. Di pasar aset kripto, Bitcoin turun 2,0% ke level US$82.684,51, sementara Ether melemah 1,7% menjadi US$2.768,01.