Bursa Asia Bergerak Hati-hati, Cermati Mandeknya Perundingan AS-Iran dan Arah The Fed



KONTAN.CO.ID - Pergerakan pasar saham dan obligasi di Asia cenderung berhati-hati pada perdagangan Rabu (1/7/2026), di tengah kembali memanasnya hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran serta meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Mengutip Reuters, sentimen pasar memburuk setelah Iran menyatakan tidak akan menggelar pertemuan dengan utusan senior AS.

Baca Juga: Aktivitas Pabrik China Catat Kinerja Kuartalan Terbaik Sejak Akhir 2020


Kondisi tersebut memperkecil peluang tercapainya kesepakatan damai permanen, termasuk mengenai pembukaan penuh jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS melonjak pada perdagangan sebelumnya. Kenaikan itu terjadi seiring meningkatnya keyakinan pasar bahwa The Fed masih berpeluang menaikkan suku bunga menjelang rilis data ketenagakerjaan AS pada Kamis.

Pelaku pasar kini menantikan pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam forum European Central Bank (ECB) untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan moneter selanjutnya.

Namun, Warsh dikenal enggan memberikan panduan (forward guidance) mengenai kebijakan suku bunga sehingga pasar memperkirakan komentarnya akan tetap berhati-hati.

Berdasarkan kontrak berjangka suku bunga, peluang The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan bulan ini diperkirakan sekitar 33%, sedangkan peluang kenaikan pada September mencapai sekitar 70%.

Baca Juga: Harga Emas Turun ke Level Terendah 7 Bulan, Prospek Suku Bunga The Fed Menguat

Bursa Asia Bergerak Beragam

Di kawasan Asia, indeks Nikkei Jepang naik 1% setelah melonjak sekitar 37% sepanjang kuartal II-2026.

Sentimen positif ditopang hasil survei yang menunjukkan kepercayaan produsen besar Jepang mencapai level tertinggi sejak 2018. Survei terpisah juga menunjukkan sektor manufaktur Jepang membukukan kinerja kuartalan terbaik sejak 2014 berkat lonjakan pesanan baru.

Sebaliknya, indeks utama Korea Selatan turun 1,4% setelah sebelumnya melonjak sekitar 68% pada kuartal II berkat tingginya permintaan semikonduktor untuk kebutuhan AI.

Sementara itu, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang bergerak relatif datar.

Di Eropa, kontrak berjangka EURO STOXX 50 dan DAX Jerman cenderung stagnan, sedangkan FTSE Inggris turun sekitar 0,2%.

Kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq masing-masing terkoreksi 0,1% setelah Wall Street mencatat kenaikan kuat pada sesi sebelumnya.

Baca Juga: Prediksi Inggris vs RD Kongo: The Three Lions Wajib Waspadai Kejutan Afrika

Musim Laporan Keuangan Jadi Penentu

Analis Pepperstone Chris Weston mengatakan, perhatian investor kini beralih ke musim laporan keuangan kuartalan yang diperkirakan akan menentukan arah pasar berikutnya.

"Secara historis, peluang masih berpihak kepada investor bullish. Sejak 2008, kontrak berjangka Nasdaq hanya sekali mencatat penurunan pada Juli," ujarnya.

Menurut Weston, musim laporan keuangan akan menjadi faktor utama yang menentukan apakah ekspektasi laba perusahaan terus membaik dan apakah aliran dana investor tetap mengarah ke saham-saham teknologi.

Laporan keuangan bank-bank besar AS dijadwalkan mulai dirilis pada pertengahan Juli, sementara pasar menaruh ekspektasi tinggi terhadap kinerja perusahaan teknologi.

Namun, hasil kinerja yang kuat dinilai diperlukan untuk mengimbangi daya tarik kenaikan imbal hasil obligasi dan risiko kenaikan suku bunga.

Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik menjadi 4,55% setelah melonjak hampir 9 basis poin pada perdagangan Selasa.

Baca Juga: Survei BOJ: Sentimen Bisnis Jepang Menguat ke Level Tertinggi Sejak 2018

Yen Tertekan, Jepang Waspadai Intervensi

Kenaikan yield obligasi AS turut mendorong penguatan dolar AS terhadap yen Jepang.

Nilai tukar dolar sempat mencapai 162,715 yen, level tertinggi dalam sekitar 40 tahun, sehingga memunculkan kembali spekulasi mengenai kemungkinan intervensi pemerintah Jepang.

Meski demikian, analis makro Deutsche Bank, Tim Baker, menilai pelemahan yen lebih banyak disebabkan oleh penguatan dolar AS daripada melemahnya fundamental mata uang Jepang.

Menurutnya, penurunan harga minyak justru menguntungkan Jepang sebagai negara pengimpor energi, sementara selisih imbal hasil riil juga mulai bergerak lebih mendukung yen.

Baca Juga: PMI Manufaktur Jepang Catat Kinerja Kuartalan Terbaik Sejak 2014 pada Juni 2026

"Model nilai wajar kami kini menunjukkan kurs yen seharusnya berada di kisaran rendah 150 per dolar AS. Karena itu, kami memperkirakan pelemahan yen akan mulai terbatas apabila penguatan dolar mereda," kata Baker.

Di pasar komoditas, harga minyak Brent naik 0,5% menjadi US$ 73,31 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,7% menjadi US$ 69,96 per barel.

Sementara itu, harga emas kembali melemah 0,4% menjadi sekitar US$ 3.990 per ons troi, melanjutkan tren penurunan setelah mencatat kinerja kuartalan yang lemah.