Bursa Asia Bergerak Hati-hati Kamis (26/3) Pagi, di Tengah Isu Negosiasi AS-Iran



KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia bergerak labil pada perdagangan Kamis (26/3/2026), sementara dolar AS tetap kokoh, seiring investor menahan langkah di tengah perkembangan cepat di Timur Tengah.

Iran menyatakan akan menimbang proposal gencatan senjata dari AS untuk mengakhiri konflik di Teluk, meski belum ada kepastian negosiasi.

Perang yang meluas ini telah mengguncang pasar global, mendorong harga minyak melonjak, memicu kekhawatiran inflasi, dan mempengaruhi ekspektasi suku bunga dunia.


Baca Juga: Mata Uang Asia Bergerak Campur Kamis (26/3), Ringgit Malaysia Melemah Paling Tajam

Melansir Reuters, di Asia, pergerakan pasar pagi ini terlihat bercampur: Nikkei Jepang naik 0,6%, sementara saham Korea Selatan turun 1,2%.

Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang melemah 0,23%, dengan penurunan bulanan sebesar 8,7%, mencatatkan pelemahan terbesar sejak Oktober 2022.

Dolar AS tetap kuat di dekat level tertingginya baru-baru ini dan mencatat kenaikan sekitar 2% dalam sebulan, menegaskan posisinya sebagai aset safe haven bagi investor.

Komentar terbaru dari Iran menunjukkan sedikit keterbukaan untuk bernegosiasi, jika tuntutannya dipenuhi. AS telah mengirim proposal gencatan senjata 15 poin kepada Iran, yang sebelumnya ditolak pejabat Iran.

“Meski berita utama menunjukkan nada yang lebih konstruktif, pasar masih ragu sinyal mana yang bisa dipercaya,” ujar Chris Weston, Kepala Riset Pepperstone.

“Pergerakan harga menunjukkan investor mengantisipasi kemungkinan terjadinya perubahan arah lebih lanjut, meski peluang kesepakatan meningkat sedikit.”

Baca Juga: Bursa Korsel Turun Kamis (26/3) Pagi, di Tengah Ketidakpastian Negosiasi Iran - AS

Perang yang berlangsung hampir sebulan, dipicu serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran akhir Februari, telah menutup jalur strategis Selat Hormuz, yang menjadi saluran bagi sepertiga dari pasokan minyak dan gas alam cair dunia.

Gangguan ini mendorong harga minyak Brent ke level US$103,35 per barel, naik 1% pada hari itu, dan mencatatkan lonjakan 42% sepanjang bulan ini.

“Melihat apa yang ingin dicapai AS, Israel, dan Tehran, akan sangat sulit menyatukan semua kepentingan ini,” kata Matthias Scheiber, manajer portofolio senior di Allspring Global Investments.

“Namun, ada alasan untuk menilai harga energi tetap tinggi dalam jangka pendek.”

Kekhawatiran inflasi akibat harga energi yang melonjak membuat investor memangkas peluang pemangkasan suku bunga Federal Reserve tahun ini. Sementara itu, ekspektasi kenaikan suku bunga sempat muncul, namun kemudian disesuaikan kembali.

Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde membuka kemungkinan menaikkan suku bunga jika perang di Timur Tengah mendorong inflasi di kawasan Euro dalam jangka waktu tertentu.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik 1% Kamis (26/3) Pagi: Brent ke US$103,35 & WTI ke US$91,40

Di pasar mata uang, euro stabil di US$1,1562, pound Inggris di US$1,3358, dan yen Jepang berada di 159,43 per dolar, dekat level 160 yang sering disebut sebagai ambang intervensi pasar.

Di sisi komoditas, emas naik 0,66% menjadi US$4.537 per ons, meski sepanjang bulan ini telah turun tajam, dan berada pada jalur penurunan 14%, rekor penurunan terbesar sejak Oktober 2008.