Bursa Asia Bergerak Hati-hati Senin (12/10), Waspadai Laporan Keuangan dan Inflasi AS



KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia bergerak hati-hati pada perdagangan Senin (12/10/2026), seiring investor mencermati musim laporan keuangan emiten yang berpotensi menguji valuasi saham teknologi yang sudah tinggi.

Di sisi lain, harga minyak dunia berfluktuasi setelah serangan terhadap kapal dan bandara di kawasan Teluk.

Ketidakpastian juga membayangi pasar setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan gencatan senjata energi antara Rusia dan Ukraina. Namun, kedua negara belum mengonfirmasi kesepakatan tersebut.


Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun Senin (12/10), Cermati Gencatan Senjata Energi Rusia-Ukraina

Usulan Trump agar Rusia meningkatkan ekspor solar juga menuai kritik dari sejumlah senator Partai Republik dan Demokrat karena dinilai berpotensi melanggar hukum.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent sempat menguat sebelum berbalik turun 1,1% menjadi US$ 103,50 per barel. Harga tersebut menjauh dari level tertinggi terbaru di US$ 109,97 per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 1,2% menjadi US$ 90,73 per barel.

Dari pasar saham, indeks saham Korea Selatan turun 1,1%. Sementara itu, indeks MSCI yang mencerminkan pergerakan saham Asia-Pasifik di luar Jepang cenderung stagnan.

Kontrak berjangka S&P 500 menguat tipis 0,2%, sedangkan Nasdaq naik 0,5%. Di Eropa, kontrak berjangka EURO STOXX 50 dan DAX masing-masing menguat 0,4%, sementara FTSE bertambah 0,3%.

Baca Juga: PM Inggris Terseret Kasus Manchester City, Kerja Sama Masa Lalu Jadi Sorotan

Aktivitas perdagangan relatif sepi karena pasar Jepang tutup dan pasar AS mengalami libur sebagian. Investor juga bersiap menghadapi musim laporan keuangan kuartal III-2026, yang dimulai dengan laporan sejumlah bank besar AS pada Selasa (13/10/2026).

Menurut data LSEG IBES, laba perusahaan dalam indeks S&P 500 diperkirakan melonjak lebih dari 30% pada kuartal III-2026. Namun, sebagian besar pertumbuhan tersebut diperkirakan berasal dari sektor teknologi.

Ekonom AMP My Bui menilai kenaikan indeks S&P 500 sejak pertengahan September terutama ditopang saham teknologi.

Pada saat yang sama, investor meminta imbal hasil lebih tinggi untuk membiayai kebutuhan pinjaman besar perusahaan dalam mengembangkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Tekanan pendanaan juga tercermin dari kenaikan indeks credit default swap (CDS) obligasi korporasi berperingkat investasi di AS.

Indeks tersebut, yang mengukur biaya perlindungan terhadap risiko gagal bayar, meningkat tajam hingga mencapai level tertinggi sejak perang Iran dimulai.

Baca Juga: Trump Umumkan Gencatan Senjata Energi Antara Ukraina dengan Rusia

Bui menilai pelebaran spread obligasi menunjukkan investor mulai mempertanyakan kemampuan pendapatan dari AI untuk mengimbangi kenaikan biaya pinjaman.

Penerbitan obligasi korporasi untuk membiayai belanja modal AI, ditambah pelebaran spread obligasi berimbal hasil tinggi, berpotensi meningkatkan biaya pembiayaan kembali ketika utang jatuh tempo dalam beberapa tahun mendatang.

Inflasi AS dan arah suku bunga jadi perhatian

Tekanan penerbitan utang korporasi turut merambat ke pasar obligasi pemerintah. Imbasnya, imbal hasil US Treasury mencapai level tertinggi dalam 24 tahun pada pekan lalu, sekaligus meningkatkan tingkat diskonto yang digunakan investor untuk menilai pendapatan perusahaan.

Pekan ini, pelaku pasar akan mencermati data inflasi konsumen (CPI), inflasi produsen (PPI), dan penjualan ritel AS.

Baca Juga: Houthi Ancam Serang Bandara Arab Saudi, Usai Serangan di Riyadh Tewaskan 12 Orang

Kenaikan biaya energi diperkirakan mendorong inflasi konsumen naik 0,6% secara bulanan dan mencapai 3,7% secara tahunan. Sebaliknya, inflasi inti diperkirakan lebih terkendali, yakni 0,2% secara bulanan dan 2,5% secara tahunan.

Kepala Ekonom Global JPMorgan Bruce Kasman mengatakan harga minyak masih lebih tinggi daripada perkiraan sebelumnya karena lonjakan biaya pengiriman. Harga produk energi bahkan mengalami kenaikan yang lebih besar.

Menurut Kasman, sinyal inflasi menunjukkan potensi kenaikan tajam inflasi umum yang dapat menekan daya beli masyarakat. Sementara itu, penguatan inflasi inti berpotensi membuat bank sentral tetap mempertimbangkan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

Di pasar keuangan, pelaku pasar memperkirakan peluang Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga pada bulan ini hanya 18%. Namun, peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai 85%.

Investor juga mulai memperhitungkan potensi kenaikan suku bunga di Uni Eropa, Jepang, dan Inggris sebelum akhir tahun.

Di pasar valuta asing, euro masih tertekan di level US$ 1,1201 setelah melemah selama lima pekan berturut-turut. Kekhawatiran terhadap defisit anggaran pemerintah di Eropa turut membebani mata uang tersebut.

Baca Juga: Paus Leo XIV Akan Menjalani Operasi Pengangkatan Nodul di Paru-paru

Indeks dolar AS bertahan di sekitar 102,25, mendekati level tertinggi dalam 17 bulan. Terhadap yen Jepang, dolar bergerak di kisaran 158,15 yen.

Ancaman intervensi pemerintah Jepang untuk menopang yen sejauh ini menahan spekulasi pelemahan lebih lanjut.

Sementara itu, harga emas spot yang tidak memberikan imbal hasil naik 0,3% menjadi US$ 4.206 per ons troi. Harga emas berhasil bangkit lebih dari 1% pada pekan lalu.