KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Asia bergerak variasi alias mixed pada perdagangan Rabu (26/8/2026) pagi. Pukul 08.35 WIB, indeks Nikkei 225 turun 250,30 poin atau 0,38% ke 65.612, Hang Seng naik 175,87 poin atau 0,68% ke 25.688,08, Taiex turun 24,90 poin atau 0,06% ke 45.110,16, Kospi turun 5,03 poin atau 0,09% ke 6.736,82, ASX 200 naik 29,22 poin atau 0,32% ke 9,193,80, Straits Times turun 5,54 poin atau 0,09% ke 5.730,70, dan FTSE Malaysia naik 5,22 poin atau 0,30% ke 1.741,55. Bursa Asia bergerak variasi dengan mayoritas indeks menguat, seiring penurunan Harga minyak dan penurunan imbal hasil obligasi AS. Sementara itu, para investor bersiap menghadapi laporan keuangan yang sangat menentukan dari Nvidia, perusahaan acuan di sektor kecerdasan buatan (AI).
Baca Juga: Bisnis TPIA Kian Terdiversifikasi Usai Akuisisi Cycle & Carriage, Ini Saran Maybank Mengutip Reuters, Iran menyatakan telah memulai kembali pembicaraan dengan Oman untuk mengelola selat tersebut, di tengah tekanan ekonomi yang meningkat dari Presiden AS Donald Trump dalam konflik yang telah berlangsung hampir enam bulan; konflik ini telah mengguncang pasar minyak dan memicu kekhawatiran inflasi global. Harga minyak mentah berjangka Brent turun selama tiga hari berturut-turut pada hari Rabu, merosot lebih dari 2% menjadi US$ 86,41 per barel, menyusul prospek peningkatan pasokan melalui selat tersebut—jalur yang menangani seperlima dari perdagangan minyak dunia sebelum perang pecah. Kondisi ini turut mendorong penurunan imbal hasil obligasi, di mana imbal hasil surat utang (Treasury) AS tenor 10 tahun berada di level 4,634% setelah turun 6,5 basis poin pada hari Selasa.
Baca Juga: Rupiah Spot Menguat pada Perdagangan Rabu (26/8) Pagi "Meskipun tidak ada kemajuan nyata atau rincian mengenai kesepakatan Iran-Oman—karena Iran menegaskan kembali bahwa Hormuz akan tetap ditutup sampai syarat-syarat tertentu dipenuhi—pergerakan harga menunjukkan bahwa pasar dengan cepat memperhitungkan optimisme terkait kemungkinan adanya pengumuman sementara," ungkap para analis J.P. Morgan dalam sebuah catatan.
Menanti Nvidia
Investor bersikap hati-hati menjelang rilis laporan keuangan kuartal kedua Nvidia yang dijadwalkan pada hari ini. Fokus mereka tertuju pada apakah lonjakan besar belanja AI tersebut dapat bertahan dan menghasilkan keuntungan yang memuaskan pasar. Indeks MSCI yang mencakup saham-saham Asia-Pasifik di luar Jepang naik 0,12% pada perdagangan awal, bersiap mencatatkan kenaikan bulanan sebesar 2%. Indeks Nikkei Jepang turun tipis 0,4%, sementara indeks KOSPI yang didominasi saham teknologi melemah 0,2%. Kontrak berjangka Nasdaq turun 0,5%, sedangkan kontrak berjangka Eropa cenderung stagnan selama jam perdagangan Asia. "Nvidia mendekati titik di mana melampaui ekspektasi pasar sudah dianggap sebagai hal yang wajar, sehingga angka-angka utama saja mungkin tidak akan menentukan reaksi pasar," ujar Charu Chanana, kepala strategi investasi di Saxo, Singapura. "Pertanyaannya bukan lagi apakah Nvidia akan melampaui ekspektasi, melainkan seberapa besar selisih kelebihannya dan apakah panduan kinerja perusahaan cukup kuat untuk terus mendorong kenaikan ekspektasi laba," kata Chanana.
Baca Juga: Merdeka Gold (EMAS) Pacu Produksi, Fasilitas CIL 12 Mtpa Ditargetkan Operasi 2028 Ia menyoroti bahwa data opsi mengindikasikan pergerakan harga yang lebih terbatas setelah rilis laporan laba dibandingkan dengan pengumuman sebelumnya, yang menyiratkan bahwa hasil kinerja Nvidia kini menjadi sedikit lebih mudah diprediksi. Para analis memperkirakan Nvidia akan memproyeksikan kenaikan penjualan kuartal ketiga sebesar 82,8% menjadi US$104,20 miliar. Margin kotor yang disesuaikan untuk kuartal kedua dan ketiga diperkirakan akan tetap berada di kisaran 75%. Analis J.P. Morgan menyatakan bahwa rilis laporan laba Nvidia kemungkinan akan "mendukung sentimen perdagangan terkait AI, meskipun mungkin tidak memberikan dorongan signifikan dalam jangka pendek" bagi sektor semikonduktor.
Data Inflasi AS Jadi Fokus Berikutnya
Pasar mata uang tetap tenang dengan nilai dolar yang stabil sementara para pedagang menantikan data inflasi terbaru AS yang akan dirilis hari ini, menjelang simposium Jackson Hole akhir pekan nanti. Indeks dolar, yang mengukur nilai mata uang AS terhadap enam mata uang utama lainnya, berada di level 98,934 namun diperkirakan akan mencatat penurunan sebesar 1% sepanjang bulan Agustus. Para investor tengah mencermati upaya terbaru Departemen Keuangan AS untuk meredakan tekanan pada imbal hasil obligasi jangka panjang melalui perluasan program pembelian kembali utang.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Menguat Terbatas pada Rabu (26/8), Cek Rekomendasi Saham Berikut "Meskipun hal ini akan sedikit meringankan beban biaya bunga secara keseluruhan, langkah tersebut tidak mengubah faktor-faktor utama penyebab meningkatnya pembayaran bunga: yaitu membengkaknya akumulasi utang pemerintah AS serta kekhawatiran mengenai dominasi fiskal atau independensi The Fed," ujar Kristina Clifton, ekonom di Commonwealth Bank of Australia. Langkah ini telah mengalihkan tekanan dari pasar obligasi ke mata uang dolar, sekaligus menghidupkan kembali tren investasi sebagai lindung nilai terhadap penurunan nilai mata uang (
debasement trade); dalam strategi ini, investor membeli aset seperti emas dan bitcoin dengan asumsi bahwa belanja pemerintah dan utang akan menggerus nilai mata uang. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News