KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia bergerak cenderung datar pada perdagangan Senin (17/8/2026), sementara investor masih mencermati harga minyak yang bertahan tinggi di tengah belum adanya kemajuan dalam upaya mengakhiri konflik Iran-Amerika Serikat (AS). Harga minyak mencatat kenaikan signifikan sepanjang pekan lalu. Kebuntuan perundingan damai membuat risiko inflasi global tetap tinggi, terutama karena aktivitas pengiriman minyak melalui Selat Hormuz masih terganggu.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Datar Senin (17/8) Pagi, Brent ke US$ 88,72 Harga minyak Brent stabil di sekitar US$ 88,50 per barel setelah melonjak 6% pada pekan lalu. Sementara minyak mentah AS atau West Texas Intermediate (WTI) turun 0,3% menjadi US$ 82,12 per barel, setelah menguat 5,4% sepanjang pekan lalu. Iran pada Sabtu (15/8) meminta AS menerima kekalahan, sementara Presiden AS Donald Trump meminta masyarakat bersiap menghadapi harga bensin yang lebih tinggi selama konflik berlangsung. Sedikitnya 11 orang tewas dalam serangan Israel di Lebanon selatan pada Sabtu, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon. Serangan tersebut menjadi salah satu yang paling mematikan dalam beberapa pekan terakhir sejak Lebanon menyepakati kerangka perdamaian yang dimediasi AS dengan Israel.
Baca Juga: Harga Emas Spot Naik Tipis, Didorong Pelemahan Dolar dan Ekspektasi Suku Bunga AS Harga Minyak Berpotensi Bertahan Tinggi Chief Economist AMP Shane Oliver mengatakan, selama belum ada solusi atas kebuntuan terkait Iran dan Selat Hormuz, harga minyak diperkirakan tetap berada dalam rentang US$ 70-US$ 100 per barel. "Risikonya tetap ada bahwa tidak akan tercapai kesepakatan damai yang berkelanjutan," ujar Oliver. Menurut dia, aliran minyak dari Timur Tengah saat ini berada sekitar 10%-15% di bawah level normal. Jika kondisi tersebut berlanjut dan cadangan minyak semakin menipis, harga minyak berpotensi kembali naik.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Jepang Periode April-Juni Lebih Lambat dari Perkiraan Di pasar saham, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang bergerak datar. Indeks Nikkei Jepang naik 0,4%, sedangkan saham-saham Australia yang didominasi sektor sumber daya alam turun 0,3%. Bursa Korea Selatan ditutup pada Senin karena hari libur nasional. Perhatian investor selanjutnya tertuju pada data aktivitas ekonomi China untuk Juli yang akan dirilis Senin. Data tersebut menjadi penting setelah ekspor China sebelumnya mendapat dukungan dari kuatnya permintaan global terkait teknologi kecerdasan buatan (AI). Pertumbuhan produksi industri China diperkirakan melambat menjadi 4,8%, dari 5,3% sebelumnya. Sementara penjualan ritel diperkirakan tumbuh 1,5%.
Baca Juga: Yen Menguat Tipis Senin (17/8), Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Mulai Surut Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Menurun Di pasar global, kontrak berjangka EURO STOXX 50 naik 0,2%. S&P 500 futures menguat 0,1% setelah indeks acuan Wall Street tersebut mencetak rekor pada pekan lalu. Nasdaq futures juga naik 0,2%. Penguatan pasar saham didukung oleh semakin kecilnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada September. Sejumlah data ekonomi AS yang lebih lemah, termasuk penurunan penjualan ritel pada Juli untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan dan memburuknya sentimen konsumen, memperkuat ekspektasi bahwa The Fed tidak akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Pasar kini memperkirakan peluang The Fed tidak menaikkan suku bunga pada bulan depan sekitar 69%. Data utama yang dinantikan pekan ini adalah indeks Purchasing Managers' Index (PMI) AS Agustus. Investor akan mencermati apakah penguatan aktivitas bisnis AS pada pertengahan tahun masih berlanjut. Dari sisi korporasi, sejumlah perusahaan besar AS seperti Home Depot, Target dan Walmart dijadwalkan merilis laporan kinerja. Investor akan melihat apakah konsumen AS masih memiliki daya beli yang kuat.
Baca Juga: Trump Perintahkan Pentagon Kurangi Latihan Militer Bersama Korea Selatan Dolar AS Melemah, Harga Emas Stabil
Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury turun tipis pada Senin. Yield Treasury AS tenor dua tahun turun 2 basis poin menjadi 4,156%, sedangkan yield tenor 10 tahun turun 1 basis poin menjadi 4,684%. Data ekonomi AS yang lebih lemah juga menekan dolar AS. Euro naik 0,1% menjadi US$ 1,1578, mendekati level tertinggi dalam dua bulan di US$ 1,1585. Dolar AS juga turun 0,1% terhadap yen menjadi 159,15 yen per dolar AS. Sementara itu, harga emas relatif stabil di sekitar US$ 4.381 per ons troi, setelah mencatat kenaikan 0,8% sepanjang pekan lalu.