KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia bergerak bervariasi pada perdagangan Selasa (19/5/2026), sementara pasar obligasi mulai pulih setelah aksi jual tajam sebelumnya. Sentimen pasar membaik setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menunda rencana serangan terhadap Iran dan menyatakan peluang tercapainya kesepakatan nuklir dengan Teheran cukup besar, sehingga mendorong harga minyak turun.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Stabil US$ 4.565 Selasa (19/5) Pagi, Trump Tunda Serangan ke Iran Mengutip
Reuters, Trump pada Senin (18/5) mengatakan pihaknya menunda serangan terhadap Iran untuk memberi ruang negosiasi mengakhiri konflik di Timur Tengah, setelah Teheran mengirim proposal perdamaian baru ke Washington. Trump juga menyebut terdapat “peluang sangat besar” bagi AS dan Iran untuk mencapai kesepakatan yang mencegah Teheran memiliki senjata nuklir. Meski demikian, investor masih cenderung berhati-hati setelah pasar sebelumnya diguncang serangan drone di Uni Emirat Arab pada akhir pekan lalu. “Kita sudah melihat banyak perubahan arah dalam waktu singkat,” ujar analis pasar IG, Fabien Yip. “Selama belum ada tindakan nyata di Selat Hormuz dan lalu lintas kapal belum benar-benar pulih, pasar kemungkinan masih akan mengabaikan komentar dari kedua pihak,” tambahnya. Harga minyak Brent turun lebih dari 2% menjadi US$ 109,41 per barel setelah pernyataan Trump.
Baca Juga: Dolar AS Menguat Tipis Selasa (19/5) Pagi, Trump Batalkan Rencana Serangan ke Iran Sementara minyak mentah AS turun 1,3% menjadi US$ 107,25 per barel, meski keduanya masih berada lebih dari 50% di atas level sebelum perang pecah. Di pasar saham, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,22%. Sebaliknya, indeks Nikkei Jepang naik 1%, sementara Kospi Korea Selatan melemah 2%. Kontrak berjangka Nasdaq sempat menghapus penguatan awal dan turun 0,07%, sedangkan futures S&P 500 melemah 0,03%. Di Eropa, kontrak futures EUROSTOXX 50 naik 0,4%, sementara FTSE futures dan DAX futures masing-masing menguat 0,3% dan 0,4%. Pelaku pasar kini menantikan laporan keuangan raksasa chip AI Nvidia yang dijadwalkan rilis Rabu (20/5). Ekspektasi pasar terhadap perusahaan teknologi bernilai terbesar di dunia tersebut sangat tinggi.
Baca Juga: Ekonomi Jepang Tumbuh Solid di Kuartal I, Tetapi Terancam Dampak Perang Iran Chief Investment Officer Questar Capital Partners Richard Reyle mengatakan, kinerja Nvidia akan menjadi ujian penting bagi reli pasar saham global yang dalam beberapa tahun terakhir banyak ditopang euforia kecerdasan buatan (AI). “Kenaikan pasar dalam beberapa tahun terakhir sebagian besar didorong tema AI dan Nvidia menjadi simbol utama dari tren tersebut,” ujarnya. Di pasar obligasi, penurunan harga minyak membantu meredakan aksi jual global yang sebelumnya dipicu kekhawatiran lonjakan inflasi akibat perang Iran. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun dari level tertinggi lebih dari setahun menjadi 4,5974%, sementara yield obligasi tenor dua tahun turun tipis ke 4,0564%. Yield obligasi pemerintah Jepang, yang sehari sebelumnya melonjak ke rekor tertinggi, juga bergerak turun di seluruh tenor. Dalam pertemuan para menteri keuangan negara G7 di Paris, kekhawatiran terhadap lonjakan utang publik dan volatilitas pasar obligasi menjadi perhatian utama. Pasar kini mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga dari bank sentral utama dunia tahun ini seiring risiko inflasi yang tetap tinggi akibat harga energi mahal.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun Selasa (19/5) Pagi, Brent ke US$ 109,09 & WTI ke US$ 107,28 Analis Goldman Sachs menilai, premi risiko inflasi masih berpotensi meningkat di tengah ketidakpastian pasokan energi global dan optimisme pertumbuhan ekonomi yang masih cukup kuat. Di pasar valuta asing, dolar AS masih mendapat dukungan dari statusnya sebagai aset safe haven sejak perang pecah. Dolar tercatat naik 0,1% ke level 159 yen, membuat pelaku pasar waspada terhadap potensi intervensi pemerintah Jepang untuk menopang mata uangnya. Euro turun 0,1% menjadi US$ 1,1643, sementara poundsterling Inggris melemah 0,1% ke level US$ 1,3419. Sementara itu, harga emas spot turun tipis ke US$ 4.562,50 per ons troi setelah sebelumnya tertekan kenaikan yield obligasi global.