KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia berbalik melemah pada perdagangan Kamis (11/6/2026) setelah sempat dibuka menguat tipis. Sentimen investor tertekan oleh aksi jual massal di Wall Street yang dipicu oleh lonjakan inflasi Amerika Serikat (AS), serta eskalasi militer terbaru antara AS dan Iran yang langsung mendongkrak harga minyak mentah dunia.
Baca Juga: Bursa China dan Hong Kong Lesu Kamis (11/6), Waspadai Serangan Baru AS ke Iran Melansir
Reuters, Indeks regional MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang merosot 1%, dipimpin oleh pelemahan tajam pada bursa Taiwan yang anjlok 1,5%. Di saat yang sama, indeks Nikkei 225 Jepang juga terkapar dengan penurunan magnitudo yang sama sebesar 1,5%. Sebaliknya, kontrak berjangka S&P 500 e-mini berhasil bangkit dari posisi minus dan menguat tipis 0,2%. Ketegangan Geopolitik dan Lonjakan Komoditas Eskalasi di Timur Tengah kembali memanas setelah militer AS meluncurkan gelombang serangan baru terhadap beberapa titik target di Iran. Langkah ini diambil hanya beberapa jam setelah Presiden Donald Trump bersumpah akan mengintensifkan serangan jika Teheran tidak kunjung menyetujui kesepakatan damai.
Baca Juga: AS dan Iran Saling Serang Lagi, Ancaman Perang Timur Tengah Kian Membesar Sebagai respons balik, pihak Iran langsung mengumumkan penutupan Selat Hormuz, jalur logistik laut yang sangat krusial bagi pasokan energi global. Akibatnya, minyak mentah jenis Brent melonjak 1,6% ke level US$ 94,55 per barel di pasar Asia, melanjutkan reli dari sesi sebelumnya yang ditutup pada US$ 93,10 per barel. Sektor Teknologi AI Berada di Posisi Rentan Para ahli strategi meyakini bahwa pasar saham Asia yang sempat memimpin reli dalam dua bulan terakhir berpotensi melanjutkan koreksi. Pasar mulai meragukan apakah ekspektasi laba bersih yang terlampau tinggi pada sektor teknologi dapat terus dipertahankan. "Dengan valuasi yang sudah sangat tinggi (stretched valuations), ekspektasi pasar yang sangat optimistis ini justru menciptakan latar belakang yang rentan bagi momentum sektor teknologi di Korea Selatan, Taiwan, dan Asia secara keseluruhan," ujar Rupal Agarwal, ahli strategi kuantitatif Asia di Bernstein, Singapura.
Baca Juga: Bank DBS Singapura Akan Menawarkan Emas Fisik yang Ditokenisasi ke Pelanggan Ritel Ia menambahkan bahwa memangkas porsi portofolio pada saham-saham tersebut merupakan langkah paling bijak saat ini. Meskipun demikian, beberapa saham terkait kecerdasan buatan (AI) mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi setelah terkoreksi dalam lima dari enam sesi terakhir. Indeks KOSPI Korea Selatan bergerak fluktuatif sebelum akhirnya ditutup melemah 1,2%, setelah sebelumnya sempat ambles hingga 4,4%. Dari bursa global, saham Oracle ambruk 8,9% pada perdagangan pasca-pemesanan setelah memproyeksikan rencana belanja modal fiskal 2027 yang melebihi estimasi Wall Street. Oracle juga berencana menggalang dana hampir US$ 40 miliar melalui kombinasi utang dan ekuitas tahun depan guna mendanai pembangunan infrastruktur AI miliknya, yang memicu kekhawatiran investor atas beban utang perusahaan.
Baca Juga: Rupiah dan Won Pimpin Pelemahan Mata Uang Asia Sepanjang 2026 Data Inflasi AS dan Kebijakan Suku Bunga Sebelumnya pada perdagangan Rabu, indeks S&P 500 jatuh 1,6% dan Nasdaq Composite amblas 2,0% menyusul rilis data inflasi AS yang berakselerasi pada laju tercepatnya sejak April 2023. Meski angka tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar, tingginya inflasi memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Berdasarkan indikator FedWatch CME Group, pelaku pasar kini memperkirakan probabilitas sebesar 51,6% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan 28 Oktober mendatang, bergeser dari proyeksi hari sebelumnya yang memperkirakan suku bunga bertahan hingga Desember.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Sentuh Level Terendah 6 Bulan Kamis (11/6), Tertekan Konflik AS-Iran Pergerakan Instrumen Keuangan Lainnya Berikut adalah rangkuman singkat kinerja aset keuangan global lainnya pada perdagangan Kamis pagi:
| Instrumen Keuangan | Nilai / Posisi | Perubahan | Catatan |
| Mata Uang Euro | US$ 1,1546 | Naik 0,1% | Menjelang pertemuan kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB) |
| Indeks Dolar AS (DXY) | 100,03 | Stabil | Tertahan di level terkuat sejak awal April akibat aksi safe-haven |
| Imbal Hasil Obligasi AS 10-Tahun | 4,5483% | Naik 1 bps | Merespons sentimen pengetatan moneter |
| Bitcoin | US$ 62.013,58 | Naik 0,4% | Mulai stabil setelah aksi rotasi modal ke rencana IPO SpaceX |
| Ether | US$ 1.634,13 | Naik 0,3% | Mengikuti pergerakan Bitcoin |
| Emas | US$ 4.055,55 | Turun 0,4% | Mengalami koreksi tipis di tengah penguatan dolar |