KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia bergerak melemah pada perdagangan Selasa (7/7/2026), dipimpin penurunan tajam pasar Korea Selatan. Investor mulai mempertanyakan tingginya valuasi saham-saham bertema kecerdasan buatan (
artificial intelligence/AI), meski Samsung Electronics melaporkan proyeksi lonjakan laba yang sangat kuat.
Baca Juga: Australia dan Kepulauan Solomon Pererat Hubungan di Tengah Ketegangan Pasifik Mengutip
Reuters, Samsung Electronics memperkirakan laba operasional periode April–Juni 2026 mencapai 89,4 triliun won (US$ 58,44 miliar), melonjak 19 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu sekaligus mencatat rekor laba operasional kuartalan untuk ketiga kalinya secara berturut-turut. Namun, kabar tersebut justru memicu aksi ambil untung di pasar. Saham Samsung anjlok 9,8%, sementara indeks saham Korea Selatan merosot 8%, bahkan sempat memicu penghentian perdagangan sementara (
circuit breaker). Sentimen negatif itu menjalar ke bursa Asia lainnya. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 2,6%, indeks saham Taiwan yang didominasi emiten semikonduktor melemah 1,8%, sedangkan Nikkei Jepang terkoreksi 2,4%.
Baca Juga: Huawei Jadi Pemenang Saat Apple, Xiaomi, dan Honor Tersungkur di Festival 618 Kepala Ekonom Daiwa Securities Toru Suehiro menilai, reli tajam saham-saham AI belakangan ini lebih banyak dipicu kekhawatiran terhadap prospek ekonomi dan inflasi, sehingga investor menjadikan sektor tersebut sebagai tempat berlindung. "Pergerakan harga saham akan lebih sehat jika sejalan dengan kondisi bisnis dan ekonomi riil. Namun, kondisi fundamental tidak berubah secepat pergerakan harga saham sehingga pasar kemungkinan masih akan bergerak dalam kisaran terbatas," tulis Suehiro dalam risetnya. Sementara itu, Morgan Stanley menilai pelemahan saham-saham semikonduktor di Amerika Serikat menunjukkan reli pasar mulai meluas ke sektor lain. Investor diperkirakan mulai mengalihkan perhatian ke perusahaan penyedia infrastruktur AI (hyperscalers), sektor konsumsi diskresioner, transportasi, dan bioteknologi. Di pasar berjangka, kontrak indeks Euro Stoxx 50 turun 0,4%, kontrak DAX Jerman melemah 0,3%, sedangkan kontrak FTSE Inggris naik tipis 0,1%. Kontrak berjangka S&P 500 turun 0,3%, Nasdaq 100 melemah 1,2%, sementara Dow Jones turun tipis 0,02%.
Baca Juga: Prediksi Argentina vs Mesir: Messi Tantang Salah di 16 Besar Piala Dunia 2026 Harga minyak stabil Di pasar komoditas, harga minyak bergerak menguat tipis setelah sehari sebelumnya kembali ke level sebelum konflik Iran. Harga minyak Brent naik 0,88% menjadi US$ 72,62 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,85% ke US$ 69,13 per barel. Pelaku pasar kini kembali mencermati prospek pasokan dan permintaan minyak global, di tengah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menegaskan negaranya akan mencapai kesepakatan dengan Iran atau "menyelesaikan persoalan" tersebut melalui langkah lain. Trump juga dijadwalkan menghadiri pertemuan NATO di Turki pekan ini.
Baca Juga: AS Tersingkir! Belgia Menang 4-1 dan Tantang Spanyol di Perempat Final Piala Dunia Pasar menanti risalah FOMC Di pasar valuta asing, indeks dolar AS bergerak stabil di 100,88. Euro diperdagangkan di US$ 1,1436, sementara yen Jepang menguat tipis 0,17% ke 161,79 per dolar AS setelah sebelumnya sempat menyentuh level terlemah dalam hampir 40 tahun. Pelaku pasar masih mewaspadai kemungkinan intervensi pemerintah Jepang untuk menopang nilai tukar yen. Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik menjadi 4,495%, sementara imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor panjang turun setelah lelang obligasi mendapat permintaan yang kuat.
Baca Juga: Nilai Tukar Yen Terus Tertekan, Investor Tunggu Aksi Pemerintah Jepang Fokus investor selanjutnya tertuju pada risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan dirilis Rabu (8/7). Dokumen tersebut menjadi risalah pertama di bawah kepemimpinan Ketua The Fed Kevin Warsh dan diharapkan memberi petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga ke depan. Sementara itu, harga emas spot turun 0,91% menjadi US$ 4.125,59 per ons, harga perak melemah 2,17% ke US$ 60,73 per ons, sedangkan harga tembaga turun 0,58% menjadi US$ 13.326 per ton.