Bursa Asia Berusaha Bangkit Kamis (30/7) usai Ambruk, Sikap The Fed Bikin Galau



KONTAN.CO.ID - Pergerakan bursa saham Asia cenderung berfluktuasi pada Kamis (30/7/2026), setelah mengalami tekanan tajam sepanjang pekan akibat aksi jual saham-saham teknologi, khususnya sektor kecerdasan buatan (AI).

Pelaku pasar juga masih mencerna keputusan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang mempertahankan suku bunga acuan sehingga memunculkan ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter berikutnya.

Baca Juga: Proposal Kontroversial FIFA Berpotensi Dongkrak Gaji Infantino hingga Rp1,16 T


Melansir Reuters, Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik lebih dari 1% pada perdagangan pagi. Di Jepang, indeks Nikkei menguat sekitar 2%, meski masih berada di jalur penurunan sekitar 3% sepanjang pekan ini.

Di Korea Selatan, indeks KOSPI sempat naik 4% dalam perdagangan yang volatil.

Namun, indeks tersebut masih membukukan penurunan sekitar 12% secara mingguan setelah aksi jual besar-besaran saham chip menghapus lebih dari US$ 2 triliun nilai kapitalisasi pasar saham negara tersebut. Investor semakin khawatir terhadap besarnya belanja untuk pengembangan AI dan potensi imbal hasilnya.

Menteri Keuangan Korea Selatan, Koo Yun-cheol, bahkan menyampaikan permintaan maaf atas peluncuran ETF leverage saham tunggal yang dinilai turut memperbesar volatilitas pasar.

"Fundamental sektor ini sebenarnya masih kuat. Ada indikasi kepanikan yang berlebihan dalam aksi jual saat ini," kata Gina Kim, Portfolio Manager Emerging Market Equities Nordea Asset Management di Singapura.

Baca Juga: Isi Proposal Gianni Infantino yang Tuai Polemik, Ini Penjelasan Lengkapnya

Menurutnya, indikator yang perlu diperhatikan adalah saldo pinjaman margin investor ritel di Taiwan dan Korea Selatan. Meski mulai turun, pasar membutuhkan tanda-tanda stabilisasi sebelum sentimen benar-benar membaik.

Sentimen positif datang dari Samsung Electronics yang melaporkan laba operasional kuartal II melonjak 19 kali lipat hingga mencapai rekor tertinggi. Kinerja tersebut membantu mengangkat kembali optimisme investor terhadap sektor semikonduktor.

Di Amerika Serikat, laporan keuangan dua raksasa teknologi menunjukkan gambaran berbeda mengenai bisnis AI.

Microsoft menyatakan masih mampu menghasilkan arus kas yang kuat hingga tahun fiskal 2027 meskipun terus meningkatkan investasi untuk infrastruktur AI. Sebaliknya, Meta melaporkan arus kas bebas kuartal II anjlok 91%, sehingga sahamnya tertekan.

Kontrak berjangka Nasdaq naik sekitar 1,2% pada perdagangan Asia, sedangkan kontrak berjangka bursa Eropa menguat sekitar 0,3%.

Baca Juga: Sony Bidik Akuisisi Tamron, Incar Produsen Lensa Kamera Senilai US$ 1,18 Miliar

Sementara itu, pasar obligasi masih dibayangi ketidakpastian arah kebijakan The Fed. Dalam rapat yang berakhir Rabu waktu AS, bank sentral mempertahankan suku bunga acuan, tetapi perbedaan pandangan di antara para pembuat kebijakan membuat investor belum memperoleh kepastian mengenai langkah selanjutnya.

Ketua The Fed, Kevin Warsh, menegaskan komitmen bank sentral untuk mengendalikan inflasi, namun tidak memberikan petunjuk apakah suku bunga masih akan dinaikkan dalam waktu dekat.

Warsh menilai kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS sejak pertemuan sebelumnya mencerminkan ekspektasi pasar terhadap suku bunga yang lebih tinggi. Menurutnya, hal tersebut tidak otomatis mengharuskan bank sentral mengikuti ekspektasi tersebut melalui kenaikan suku bunga.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun bertahan di kisaran 5,20% setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak Juni 2007.

Chris Weston, Head of Research Pepperstone mengatakan, pernyataan The Fed menunjukkan sikap yang tetap tegas terhadap target pengendalian inflasi, tetapi minim penjelasan mengenai langkah konkret yang akan ditempuh.

Baca Juga: Harga Emas Spot Menguat Tipis ke US$ 4.080 Kamis (30/7) Pagi, Apa Pemicunya?

Berdasarkan kontrak berjangka Fed Funds, pasar kini memperkirakan peluang sekitar 60% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan September. Hingga akhir tahun, pasar telah memperhitungkan pengetatan kebijakan moneter sekitar 33 basis poin.

Kerry Craig, Global Market Strategist J.P. Morgan Asset Management, menilai bank sentral AS masih akan menghadapi tantangan dalam menjaga kredibilitasnya.

Menurut Craig, kesenjangan antara retorika dan tindakan The Fed berpotensi menyulitkan pelaku pasar dalam menentukan valuasi aset, terutama ketika komite kebijakan moneter masih terbelah dan pasar obligasi mulai mempertanyakan ketegasan bank sentral dalam menekan inflasi.