KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia melesat ke level tertinggi sepanjang masa pada perdagangan Kamis (7/5/2026), didorong optimisme pasar terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai di Timur Tengah. Sementara itu, dolar Amerika Serikat (AS) melemah dan harga minyak masih tertahan setelah mengalami penurunan tajam sehari sebelumnya. Melansir
Reuters, indeks saham Asia-Pasifik MSCI di luar Jepang naik 1% dan mencetak rekor tertinggi baru. Sepanjang pekan ini, indeks tersebut telah menguat sekitar 7%.
Baca Juga: Uni Eropa Pertimbangkan Hapus Sanksi Emisi Metana Perusahaan Migas, Ini Alasannya Di Jepang, indeks Nikkei melonjak menembus level 62.000 untuk pertama kalinya setelah pasar kembali dibuka usai libur panjang. Kenaikan tersebut mengikuti reli saham teknologi global yang ditopang optimisme sektor kecerdasan buatan (AI) dan kinerja keuangan perusahaan teknologi yang kuat. Reli juga terjadi di pasar saham Korea Selatan dan Taiwan yang turut mencatat rekor tertinggi baru. Sentimen pasar membaik setelah muncul harapan adanya kesepakatan damai antara AS dan Iran untuk mengakhiri konflik yang berlangsung sejak akhir Februari lalu. Iran sebelumnya menyatakan tengah meninjau proposal perdamaian dari AS. Namun sejumlah isu utama masih belum terselesaikan, termasuk tuntutan AS agar Iran menghentikan program nuklirnya dan membuka kembali Selat Hormuz.
Baca Juga: Korea Utara Tegaskan Tak Terikat Lagi Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir Analis Senior Capital.com Kyle Rodda mengatakan, pergerakan pasar saat ini mencerminkan optimisme investor terhadap potensi tercapainya kesepakatan damai. “Namun pasar juga pernah mengalami situasi serupa sebelumnya. Jika negosiasi gagal, reli pasar bisa berbalik dengan cepat,” ujarnya. Harga minyak yang sempat jatuh hampir 8% pada Rabu (6/5/2026) mulai bergerak stabil. Pada perdagangan Kamis pagi, minyak mentah Brent naik tipis ke level US$ 102,11 per barel. Meski demikian, harga minyak masih sekitar 40% lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik pecah. Kondisi tersebut dinilai tetap menjadi tantangan bagi ekonomi global karena berpotensi mendorong inflasi dan tekanan biaya energi. Analis OCBC menilai harga minyak masih akan bertahan tinggi meskipun Selat Hormuz nantinya kembali dibuka.
Baca Juga: Bursa Australia Capai Level Tertinggi 2 Pekan Pagi Ini, Dipicu Harapan Damai AS-Iran Pasalnya, kerusakan infrastruktur energi dan peningkatan cadangan minyak global masih membayangi pasar. “Minyak kemungkinan tetap tinggi dan penurunannya berjalan lambat karena adanya kerusakan infrastruktur energi serta aksi penimbunan cadangan,” tulis OCBC dalam risetnya. Di pasar valuta asing, euro bertahan di level US$ 1,1747 setelah menguat 0,5% sehari sebelumnya. Poundsterling juga naik ke US$ 1,3591. Sementara indeks dolar AS turun ke posisi 98,032. Yen Jepang masih menjadi perhatian pasar setelah penguatannya dalam beberapa sesi terakhir memicu spekulasi intervensi pemerintah Jepang untuk menopang mata uang tersebut. Yen terakhir berada di level 156,29 per dolar AS.
Di Wall Street, indeks S&P 500 dan Nasdaq kembali mencetak rekor tertinggi pada perdagangan sebelumnya, ditopang laporan keuangan emiten teknologi yang solid.
Baca Juga: Nikkei Tembus Rekor 62.000 Kamis (7/5), Ditopang Optimisme AI dan Damai Timur Tengah Perusahaan anggota S&P 500 diperkirakan membukukan pertumbuhan laba tertinggi dalam lebih dari empat tahun terakhir. Pelaku pasar kini menanti rilis data tenaga kerja AS nonfarm payrolls pada Jumat (8/5/2026). Survei Reuters memperkirakan penambahan lapangan kerja AS mencapai 62.000 pada April setelah sebelumnya meningkat 178.000 pada Maret.