Bursa Asia Ditutup Bervariasi Pada Senin (14/11) Usai Rilis Data Inflasi AS



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks saham di Asia pada Senin (14/11) ditutup beragam (mixed) dengan kecenderungan naik. Tim riset Phillip Sekuritas Indonesia mengatakan, pergerakan bursa Asia yang beragam ini seiring dengan redupnya momentum dari reli pekan lalu.

Hal ini setelah pejabat tinggi bank sentral America Serikat (AS) Federal Reserve memperingatkan investor jangan terlalu terbawa emosi oleh perlambatan data inflasi (CPI) AS. Inflasi bulan Oktober AS yang keluar lebih rendah dari estimasi mampu mendorong imbal hasil (yield) surat utang pemerintah AS (US Treasury Note) bertenor 2 tahun anjlok 33 bps minggu lalu. Data ini juga menekan nilai tukar mata uang dolar AS melemah hampir 4%, penurunan mingguan terbesar dalam 50 tahun terakhir.

Bahkan, sejumlah investor memperlihatkan sikap euforia berlebihan dengan mengartikan data inflasi ini sebagai sinyal bahwa tekanan inflasi di AS udah mereda lebih cepat dari yang sebelumnya diantisipasi pasar.


Baca Juga: IHSG Berpotensi Melanjutkan Pelemahan Pada Selasa (15/11)

Namun, Anggota Dewan Gubernur Federal Reserve Christopher Waller mengatakan sejumlah data ekonomi yang lain juga harus bergerak dalam tren menurun untuk mendorong Federal Reserve memperlambat laju kenaikan suku bunga acuan.

Pasar derivatif kontrak berjangka (futures) meramalkan, kenaikan suku bunga acuan Federal Funds rate (FFR) sebesar 50 basis points (bps) menjadi 4,25%-4,50% di bulan Desember yang disusul oleh beberapa kenaikan sebesar 25 bps sehingga FFR akan mencapai puncaknya di kisaran 4,75%-5,00%.

Gubernur bank sentral Jepang atau Bank of Japan (BOJ) Haruhiko Kuroda hari ini mengatakan BOJ akan tetap mempertahankan kebijakan moneter super longgar demi untuk mencapai tingkat inflasi yang berkesinambungan dan stabil yang disertai oleh pertumbuhan upah.

Baca Juga: IHSG Melorot 0,98% Dengan Net Sell Asing Rp 1,03 Triliun Pada Senin (14/11)

Kenaikan upah kembali akan menjadi fokus perhatian pada negosiasi tahunan antara serikat pekerja dan asosiasi pengusaha pada musim semi mendatang. Besaran kenaikan upah akan menentukan seberapa sukses Jepang dalam memicu pertumbuhan ekonomi berbasis permintaan konsumen.

Dari sisi geopolitik, sejak pertama kali menjabat Presiden AS, Joe Biden hari ini melakukan pertemuan secara tatap muka dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping dengan kekhawatiran AS terhadap Taiwan, invasi Rusia ke Ukraina, serta ambisi nuklir Korea Utara menjadi agenda utama pembicaraan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati