KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia bergerak fluktuatif pada perdagangan Selasa (14/7/2026) pagi. Sementara harga minyak menyentuh level tertinggi dalam satu bulan setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan kembali blokade terhadap pelayaran Iran di Teluk Persia dan berencana mengenakan pungutan 20% bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Baca Juga: Julukan VARgentina Kembali Menggema, Apa yang Terjadi di Piala Dunia 2026? Pada awal perdagangan yang volatil, indeks MSCI Asia Pacific di luar Jepang menguat 0,4%, ditopang kenaikan 2,2% pasar saham Korea Selatan. Sementara itu, indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,2%, sedangkan kontrak berjangka S&P 500 E-mini turun tipis 0,1%. Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent melonjak 2,6% menjadi US$ 85,50 per barel, level tertinggi sejak pertengahan Juni. Sentimen pasar juga tertekan oleh pernyataan bernada hawkish dari Gubernur Federal Reserve Christopher Waller pada Senin. Waller mengatakan bank sentral AS mungkin perlu menaikkan suku bunga dalam waktu dekat apabila data inflasi mendatang masih jauh di atas target 2%. "Kendati risiko ini telah terakumulasi selama sepekan terakhir, pasar bereaksi cukup agresif terhadap perkembangan terbaru konflik Iran," kata Kepala Riset Pepperstone Group, Chris Weston. "Prospek kebijakan moneter yang lebih ketat di tengah potensi guncangan pasokan energi biasanya tidak mendukung aset-aset berisiko," tambahnya.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Sentuh Level Tertinggi Sebulan Selasa (14/7), Brent ke US$ 84,98 Wall Street Melemah, Fokus Beralih ke Data Inflasi AS Pada perdagangan Senin waktu AS, Wall Street ditutup melemah setelah konflik antara AS dan Iran kembali memanas sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran arus perdagangan melalui Selat Hormuz. Indeks S&P 500 turun 0,8%, sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi 1,6%. Pelaku pasar kini menantikan rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang dijadwalkan terbit pada Selasa, disusul penyampaian laporan kebijakan moneter semesteran Ketua The Fed Kevin Warsh di hadapan Kongres AS. Berdasarkan perangkat FedWatch milik CME Group, pasar kini memperkirakan peluang sebesar 43,3% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 28–29 Juli. Probabilitas tersebut meningkat dibandingkan 34,2% pada Jumat lalu. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 2,2 basis poin menjadi 4,6297%. Sementara itu, indeks dolar AS bertahan di level 101,29, mendekati posisi tertinggi bulan ini. Harga emas spot turun tipis 0,1% menjadi US$ 3.997,27 per ons.
Baca Juga: Dolar AS Stabil Selasa (14/7) Pagi Jelang Data Inflasi AS, Yen Masih Tertekan Saham SK Hynix Berfluktuasi Tajam
Di Korea Selatan, perdagangan saham berlangsung sangat bergejolak, terutama pada saham produsen chip memori SK Hynix. Saham perusahaan itu sempat anjlok hingga 4,7% pada menit-menit awal perdagangan sebelum berbalik menguat hingga 4,6%. Pergerakan tajam tersebut terjadi setelah sehari sebelumnya saham SK Hynix merosot signifikan menyusul debut pencatatannya di Nasdaq pekan lalu. Di pasar aset digital, bitcoin naik 0,3% menjadi US$ 62.318,43, sementara ether menguat 0,7% ke US$ 1.777,63.