KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia bergerak hati-hati pada perdagangan Selasa (2/6/2026), di tengah ketidakpastian perkembangan konflik Timur Tengah yang mengimbangi sentimen positif dari sektor kecerdasan buatan (
artificial intelligence/AI). Melansir
Reuters, Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang sempat bergerak fluktuatif antara zona hijau dan merah pada awal perdagangan sebelum akhirnya turun 0,5%.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Bertahan di Level Tinggi Selasa (2/6) Pagi, Brent ke US$ 95,04 Pelemahan dipimpin oleh pasar saham Korea Selatan yang merosot 2% setelah sebelumnya dibuka menguat. Di Jepang, indeks Nikkei 225 juga turun 0,7%, sementara kontrak berjangka indeks S&P 500 AS melemah 0,3%. Analis Westpac dalam risetnya menilai pasar masih dibayangi oleh informasi yang saling bertentangan terkait perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. "Berita yang saling bertentangan dari Timur Tengah membuat pasar bergerak liar. Iran menyatakan pembicaraan dengan AS ditangguhkan, tetapi Presiden Donald Trump kemudian mengatakan bahwa negosiasi masih berlanjut dengan cepat," tulis analis Westpac. Harga minyak mentah Brent bertahan di kisaran US$ 95 per barel setelah Lebanon mengumumkan gencatan senjata parsial antara Hezbollah dan Israel pada Senin (1/6). Langkah tersebut dinilai dapat membuka peluang bagi upaya diplomatik baru untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama tiga bulan antara AS dan Iran. Meski demikian, pasar masih menilai risiko geopolitik tetap tinggi. Pada perdagangan sebelumnya, harga minyak melonjak lebih dari 4% setelah muncul laporan bahwa Teheran menghentikan perundingan tidak langsung dengan Washington.
Baca Juga: Dolar AS Stabil Selasa (2/6), Menanti Perkembangan Negosiasi Perdamaian Timur Tengah Optimisme AI Menahan Tekanan Pasar Di tengah ketidakpastian geopolitik, sentimen dari sektor AI masih memberikan dukungan bagi pasar global. Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Senin (1/6), dengan indeks S&P 500 naik 0,3%. Penguatan terjadi setelah data aktivitas manufaktur AS menunjukkan hasil yang lebih baik dari ekspektasi. Institute for Supply Management (ISM) melaporkan, indeks PMI manufaktur AS naik menjadi 54,0 pada Mei dari 52,7 pada April. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Baca Juga: Dampak CEO Greg Abel: Berkshire Kucurkan Investasi US$ 16,8 Miliar dalam 2 Hari Kenaikan PMI diduga dipicu oleh perusahaan-perusahaan yang mempercepat pemesanan barang dan bahan baku guna mengantisipasi kenaikan harga energi serta potensi gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah. Pendiri sekaligus Presiden Rosenberg Research David Rosenberg mengatakan, reli pasar saham AS masih berlangsung meski menghadapi tekanan dari kenaikan harga energi dan suku bunga riil. "Tidak ada perdebatan bahwa pasar saham saat ini berada dalam mode bullish. Indeks S&P 500 kini telah naik selama sembilan pekan berturut-turut, sesuatu yang terakhir kali terjadi pada akhir 2023," ujarnya. Sektor AI juga mendapat dorongan setelah perusahaan pengembang AI Anthropic dikabarkan secara rahasia mengajukan penawaran saham perdana (IPO) di Amerika Serikat yang berpotensi menghasilkan valuasi hingga US$ 1 triliun. Namun, saham perusahaan induk Google, Alphabet, turun 0,7% setelah perusahaan tersebut mengumumkan rencana penggalangan dana ekuitas senilai US$ 80 miliar, termasuk investasi dari Berkshire Hathaway, untuk mempercepat ekspansi infrastruktur AI.
Baca Juga: Inflasi Konsumen Korea Selatan Meroket, Waspada Kenaikan Suku Bunga! Dolar Stabil, Emas dan Kripto Melemah Di pasar mata uang, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia relatif stabil di level 99,18 dan masih bergerak dalam kisaran sempit yang bertahan selama tiga pekan terakhir.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 2 basis poin menjadi 4,455%. Sementara itu, harga emas spot turun tipis 0,1% ke level US$ 4.479,17 per ons troi. Di pasar aset digital, Bitcoin melemah 0,2% ke level US$ 71.232,83. Adapun Ethereum bergerak datar di kisaran US$ 2.002,03. Pelaku pasar kini menantikan perkembangan lebih lanjut terkait negosiasi AS-Iran yang diperkirakan akan menjadi penentu utama arah pergerakan aset berisiko dalam jangka pendek.