KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa saham Asia bergerak melemah pada perdagangan Kamis (4/6/2026) setelah kembali memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu kekhawatiran investor global. Sentimen geopolitik tersebut mendorong pelaku pasar mengurangi aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 1,5%, sementara kontrak berjangka S&P 500 melemah 0,5%. Pasar saham Korea Selatan yang kembali dibuka setelah libur mencatat penurunan hingga 2,6%, sedangkan indeks Nikkei 225 Jepang merosot 1,9%. Analis Westpac dalam laporan risetnya menyebutkan bahwa pasar keuangan kembali memasuki fase penghindaran risiko.
"Pasar keuangan kembali beralih ke mode menghindari risiko setelah Amerika Serikat dan Iran kembali saling melancarkan serangan," tulis analis Westpac. Tekanan juga terlihat di Wall Street pada perdagangan sebelumnya. Indeks S&P 500 turun 0,7%, sementara harga minyak naik sekitar 2% setelah pembicaraan antara Teheran dan Washington menunjukkan sedikit kemajuan dan konflik kembali pecah.
Baca Juga: Harga Emas Menguat Didorong Pelemahan Dolar AS dan Turunnya Harga Minyak Data ekonomi Amerika Serikat yang lebih baik dari perkiraan gagal mengangkat sentimen pasar. Indeks PMI sektor jasa versi Institute for Supply Management (ISM) meningkat pada Mei 2026 karena perusahaan mempercepat pemesanan dan membangun kembali persediaan untuk mengantisipasi potensi kelangkaan barang serta kenaikan harga akibat perang Iran.
Harga Minyak Turun Setelah Gencatan Senjata Israel-Lebanon
Meski ketegangan AS-Iran meningkat, harga minyak justru bergerak turun pada Kamis. Kontrak berjangka Brent terkoreksi 1,3% menjadi US$ 96,59 per barel. Penurunan ini terjadi setelah Israel dan Lebanon menyepakati penerapan gencatan senjata. Kesepakatan tersebut bergantung pada penghentian penuh aksi tembak-menembak oleh kelompok Hizbullah yang didukung Iran serta evakuasi seluruh personelnya dari wilayah Litani Selatan. Kedua pihak sebenarnya telah mencapai kesepakatan gencatan senjata pada bulan lalu, namun bentrokan masih terus berlangsung hingga beberapa waktu terakhir.
DPR AS Setujui Resolusi Pembatasan Kewenangan Perang Trump
Dari sisi politik, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat yang dikuasai Partai Republik menyetujui resolusi kewenangan perang pada Rabu (3/6). Resolusi tersebut bertujuan membatasi Presiden Donald Trump untuk melanjutkan konflik militer terhadap Iran. Namun, langkah tersebut dinilai lebih bersifat simbolis karena masih harus mendapatkan persetujuan Senat dan membutuhkan dukungan dua pertiga suara di kedua kamar Kongres untuk membatalkan veto presiden yang hampir pasti akan dilakukan.
Saham Broadcom Anjlok, Kekhawatiran pada Sektor AI Meningkat
Di sektor teknologi, saham Broadcom anjlok lebih dari 13% dalam perdagangan setelah penutupan pasar. Penurunan terjadi setelah perusahaan gagal memenuhi ekspektasi Wall Street terkait pendapatan kuartal kedua.
Baca Juga: Piala Dunia 2026 Diprediksi Pangkas Produktivitas Global, Kerugian Tembus US$ 17 M Selain itu, manajemen Broadcom mempertahankan proyeksi penjualan tahun 2027 tanpa perubahan, sebuah sinyal yang jarang terjadi dan memunculkan kekhawatiran bahwa momentum pertumbuhan produsen chip kecerdasan buatan (AI) tersebut mulai melambat.
Yen Menguat, Peluang Kenaikan Suku Bunga Jepang Meningkat
Di pasar valuta asing, yen Jepang menguat 0,1% ke level 159,88 per dolar AS. Penguatan ini membuat mata uang Jepang menjauh dari level psikologis 160 per dolar yang selama ini dianggap pasar sebagai titik potensial intervensi pemerintah. Gubernur Bank of Japan, Kazuo Ueda, menyatakan bank sentral perlu mempertimbangkan kelebihan dan risiko kenaikan suku bunga apabila risiko inflasi lebih besar dibandingkan risiko perlambatan ekonomi. Pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa Bank of Japan berpeluang menaikkan suku bunga pada bulan ini. Sementara itu, dolar Australia menguat 0,1% setelah data menunjukkan neraca perdagangan Australia kembali mencatat surplus pada April 2026. Peningkatan ekspor komoditas sumber daya berhasil mengimbangi lonjakan impor bahan bakar. Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan mata uang Negeri Paman Sam terhadap enam mata uang utama dunia bertahan di level 99,44 setelah reli tiga hari yang membawa dolar ke posisi terkuat sejak 7 April.
Emas Menguat, Bitcoin Sentuh Level Terendah Empat Bulan
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 1,4 basis poin menjadi 4,473%.
Baca Juga: Trump Teken Aturan Baru, Permudah Pemecatan 8.000 Pegawai Federal AS Di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik, harga emas naik 0,9% menjadi US$ 4.473,61 per ons troi dan masih bergerak dalam kisaran perdagangan yang terbentuk sejak pertengahan bulan lalu.
Sebaliknya, pasar kripto mengalami tekanan. Bitcoin turun 4% ke level US$ 62.321,87, terendah dalam empat bulan terakhir. Sementara Ether melemah 1,9% menjadi US$ 1.744,70. Dalam lima hari perdagangan berturut-turut, Bitcoin telah kehilangan hingga 17% nilainya. Analis IG, Tony Sycamore, mengatakan pelemahan Bitcoin dipicu oleh kombinasi faktor negatif. "Bitcoin tertekan oleh kombinasi yang tidak menguntungkan berupa penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi, ditambah pergeseran sentimen pasar menuju sikap yang lebih berhati-hati terhadap risiko," tulis Sycamore dalam catatannya kepada klien.