Bursa Asia Melemah, Kekhawatiran Gelembung AI Picu Investor Borong Obligasi AS



KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia melemah pada perdagangan Jumat (23/10/2026) di tengah aksi jual saham teknologi yang dipicu kekhawatiran terhadap besarnya kebutuhan pendanaan pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Kekhawatiran tersebut mendorong investor beralih ke obligasi pemerintah dan aset yang dinilai lebih aman, sekaligus menekan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Melansir Reuters, Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,3% pada Jumat. Dengan demikian, indeks tersebut telah melemah 2,7% sepanjang pekan ini dan berpotensi mencatat penurunan mingguan selama empat pekan berturut-turut.


Baca Juga: Microsoft Kembangkan AI Diagnosis Penyakit, Akurasinya Diklaim Dua Kali Lipat Dokter

Di Jepang, indeks Nikkei turun 1,3% dan mencatat pelemahan sekitar 5% sepanjang pekan. Indeks Kospi Korea Selatan merosot 1,7% pada perdagangan Jumat dan menuju penurunan mingguan sebesar 4,3%. Saham produsen chip memori SK Hynix turun 2,5%.

Sementara itu, indeks saham unggulan China daratan terkoreksi 1,1% ke level terendah sejak Juli 2025. Indeks tersebut telah turun sekitar 20% dari puncaknya pada akhir Juni.

Berbeda dengan mayoritas bursa regional, indeks Hang Seng Hong Kong naik tipis 0,1% setelah terkoreksi 3% pada Kamis (22/10/2026). Bursa Taiwan tutup karena topan.

Tekanan di pasar saham Asia mengikuti pelemahan Wall Street. Indeks Nasdaq turun lebih dari 2% setelah investor kembali mempertanyakan besarnya belanja perusahaan teknologi untuk mengembangkan AI dan membangun pusat data.

Saham Meta Platforms merosot hampir 8% setelah perusahaan induk Facebook itu mencatat arus kas keluar untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade akibat pengeluaran terkait AI.

Baca Juga: AS Larang Mobil Listrik BYD Masuk Pangkalan Udara di Jepang, Ini Alasannya

Meta juga mengumumkan rencana penerbitan saham tanpa hak suara melalui pemecahan saham dua banding satu untuk menghimpun modal bagi pengembangan teknologi tersebut.

Saham Tesla turut melemah 3,1% setelah produsen kendaraan listrik itu memangkas rencana belanja modal untuk 2026.

Direktur pelaksana strategi lintas aset Nomura Securities International, Charlie McElligott, menilai saham-saham AI tengah berada di bawah tekanan.

Dalam catatannya, ia juga menyoroti kembalinya obligasi pemerintah AS sebagai instrumen lindung nilai ketika pasar mulai memperhitungkan risiko perlambatan ekonomi akibat perubahan prospek investasi AI.

Baca Juga: Bursa Australia Melemah Jumat (23/10), Saham Tambang Tertekan Harga Komoditas

Investor beralih ke obligasi pemerintah

Di tengah tekanan pasar saham, investor memburu obligasi pemerintah AS atau US Treasury. Imbal hasil atau yield Treasury tenor 10 tahun sempat anjlok lebih dari 19 basis poin (bps) pada perdagangan semalam, mencatat penurunan harian terbesar sejak Maret 2023.

Pada Jumat, yield Treasury tenor 10 tahun berada di 4,9591%, kembali di bawah level psikologis 5%. Sementara itu, yield tenor dua tahun turun hampir 19 bps pada perdagangan semalam sebelum stabil di 4,6566%.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Bertahan di Level Tinggi Jumat (23/10), Brent ke US$ 112,96

Pergerakan tersebut turut mencerminkan perubahan ekspektasi kebijakan moneter The Fed. Pasar memangkas perkiraan pengetatan lebih lanjut dan mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga tahun depan hingga hampir setara dengan satu kali kenaikan 25 bps.

Peluang kenaikan suku bunga pada Desember juga turun menjadi 85%, sehingga kenaikan tersebut tidak lagi sepenuhnya diperhitungkan pasar.

Namun, prospek pasar obligasi masih dibayangi sejumlah risiko. Padhraic Garvey, kepala riset regional ING untuk kawasan Amerika, menilai yield Treasury berpeluang kembali menembus 5% karena tekanan inflasi, defisit fiskal, serta ketidakpastian seputar ledakan investasi AI dan pemilihan paruh waktu AS.

Kenaikan harga minyak juga menjadi tantangan bagi prospek inflasi. Harga minyak Brent sempat menyentuh US$ 114 per barel, level tertinggi dalam lima bulan, di tengah kekhawatiran gangguan pasokan setelah serangan kelompok Houthi di Arab Saudi meningkatkan risiko eskalasi konflik Timur Tengah.

Penguatan aset aman turut terlihat di pasar obligasi Asia. Yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun turun 9 bps menjadi 2,790%, sedangkan yield obligasi pemerintah Australia tenor 10 tahun merosot 10 bps menjadi 5,164%.

Baca Juga: Harga Minyak Bergerak Tipis di Pagi Ini, Kekhawatiran Gangguan Pasokan Menyelimuti

Di pasar valuta asing, yen Jepang dan franc Swiss menguat seiring meningkatnya permintaan aset aman. Dolar AS turun 0,2% menjadi 156,44 yen pada Jumat setelah merosot 0,9% pada perdagangan sebelumnya. Dolar juga melemah 0,1% menjadi 0,8196 franc Swiss, level terendah dalam sebulan.

Sementara itu, harga emas belum memperoleh dukungan dari peralihan investor ke aset aman. Harga emas bertahan di US$ 4.021,99 per ons pada Jumat setelah anjlok hampir 3% pada perdagangan sebelumnya.