KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia bergerak melemah pada perdagangan Rabu (7/10/2026), meski Wall Street mencatat rekor baru. Investor mencermati kenaikan harga minyak di tengah ancaman badai di wilayah produksi minyak Amerika Utara serta meningkatnya ketegangan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran. Mengutip
Reuters, indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang turun 0,3%. Meski demikian, indeks tersebut masih menguat sekitar 1,5% sepanjang Oktober 2026.
Baca Juga: Harga Tren Naik, Komisaris PBID Lepas 100 Juta Saham Sentimen pasar Asia turut dipengaruhi oleh kinerja positif bursa Amerika Serikat (AS). Indeks S&P 500 mencetak rekor baru setelah naik sekitar 0,6% pada perdagangan Selasa. Nasdaq yang didominasi saham teknologi juga mencatat rekor setelah menguat 0,45%, sementara Dow Jones Industrial Average naik 0,5%. Di pasar komoditas, harga minyak kembali menguat. Harga minyak mentah AS atau West Texas Intermediate (WTI) naik 1,05% menjadi US$90,38 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent meningkat 1,06% menjadi US$101,65 per barel. Kenaikan harga minyak terjadi ketika investor mempertimbangkan potensi gangguan pasokan akibat badai yang bergerak menuju kawasan produksi minyak Amerika Utara. Di sisi lain, serangan Houthi terhadap Arab Saudi meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pasokan minyak dari Timur Tengah.
Baca Juga: Harga Tren Naik, Komisaris PBID Lepas 100 Juta Saham CEO Vitol Russell Hardy mengatakan sekitar 12 juta barel minyak mentah per hari (bph) dan 2 juta bph produk olahan telah dikirim melalui kapal tanker dari Timur Tengah dalam tujuh hingga 10 hari terakhir. "Pasar masih menimbang potensi gangguan pasokan dengan meningkatnya pasokan minyak mentah dari Timur Tengah," demikian laporan Reuters. Di pasar obligasi, sentimen investor sedikit membaik setelah imbal hasil obligasi global stabil. Obligasi pemerintah Prancis yang sebelumnya banyak dijual mulai menguat setelah kandidat presiden dari kelompok sayap kanan, Marine Le Pen, menjanjikan pemangkasan belanja dan pengurangan defisit anggaran. Imbal hasil obligasi pemerintah Prancis tenor 10 tahun turun lebih dari 11 basis poin. Selisih imbal hasil obligasi Prancis dengan surat utang Jerman atau bund juga menyempit menjadi 132 basis poin, dari hampir 160 basis poin pada pekan lalu. "Besarnya pergerakan ini cukup mencolok mengingat pemilu 2027 masih beberapa bulan lagi dan memburuknya dinamika fiskal Prancis bukanlah hal baru," ujar Laura Cooper, Head of Macro Credit and Global Investment Strategist Nuveen.
Baca Juga: Mata Uang Asia Stabil Rabu (7/10): Baht Thailand Paling Tertekan, Rupiah Menguat Menurut Cooper, perubahan utama adalah kenaikan imbal hasil yang cukup tajam sehingga investor semakin enggan mengabaikan kerentanan fiskal Prancis. Perbaikan di pasar obligasi Eropa turut membantu euro pulih tipis dan bertahan di atas US$1,1250. ANZ dalam catatannya menyebut ketenangan kembali terlihat di pasar obligasi Eropa, dengan obligasi Prancis, Italia dan Yunani mencatat kinerja lebih baik di tengah penguatan pasar secara luas. Sementara itu, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun kembali naik ke sekitar 5,3% pada perdagangan Asia. Imbal hasil obligasi AS tenor panjang bergerak naik menjelang lelang surat utang tenor 10 tahun pada Rabu dan tenor 30 tahun pada Kamis. Lelang tersebut akan menjadi indikator penting untuk melihat seberapa besar permintaan investor terhadap surat utang pemerintah AS. Imbal hasil obligasi AS tenor panjang sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam 24 tahun pada Senin akibat aksi jual yang berlangsung sejak akhir Agustus, dipicu kekhawatiran inflasi dan kondisi fiskal AS.
Baca Juga: Saham GOTO Kembali Diburu, Prospek Bisnis Fintech Jadi Sorotan Di pasar saham Asia, indeks Nikkei Jepang turun 0,86%, sementara saham Australia bergerak datar. Indeks Hang Seng Hong Kong melemah 0,63% pada awal perdagangan, tertekan penurunan sekitar 4% pada indeks saham bioteknologi. Sementara itu, pasar keuangan China daratan masih tutup karena libur. Di pasar valuta asing, indeks dolar AS naik tipis 0,03% menjadi 101,94 setelah sebelumnya turun 0,27%. Yen Jepang melemah 0,19% menjadi 158,43 per dolar AS, sedangkan pound sterling turun 0,08% menjadi US$1,3262. Analis Commonwealth Bank of Australia (CBA) menilai pergerakan harga minyak, pemulihan tipis euro serta perubahan imbal hasil US Treasury turut menekan pergerakan dolar AS. Perhatian investor selanjutnya tertuju pada risalah rapat Federal Reserve (The Fed) AS yang dijadwalkan dirilis pada Rabu waktu setempat.
Baca Juga: Rupiah Spot Dibuka Menguat ke Level Rp 17.899 per dolar AS, Rabu (7/10) Risalah rapat kebijakan 15-16 September tersebut akan dicermati untuk melihat indikasi arah suku bunga dalam beberapa bulan ke depan. Ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada bulan ini juga menurun. Pelaku pasar kini memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga sekitar 19%, turun dari sekitar 50% sepekan sebelumnya. Di pasar logam mulia, harga emas spot naik tipis menjadi US$4.165,53 per ons troi. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News