KONTAN.CO.ID - Pergerakan bursa saham Asia cenderung melemah pada perdagangan Rabu (1/7/2026) setelah reli kuat selama enam bulan terakhir yang didorong oleh euforia saham kecerdasan buatan (
artificial intelligence/AI). Sentimen pasar juga dibayangi kembali meningkatnya ketidakpastian geopolitik menyusul hambatan baru dalam perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Baca Juga: Trump Raup Pendapatan US$ 1,4 Miliar pada 2025, Mayoritas Berasal dari Bisnis Kripto Melalnsir
Reuters, pelaku pasar memilih bersikap hati-hati setelah kuartal II-2026 mencatat kenaikan signifikan di berbagai pasar saham global, didorong lonjakan saham-saham teknologi AI. Namun, optimisme tersebut kembali diuji oleh ketegangan di Timur Tengah, mandeknya proses perdamaian, serta inflasi yang masih tinggi. Iran pada Selasa (30/6) menyatakan tidak akan bertemu dengan utusan khusus Amerika Serikat yang dikirim ke kawasan tersebut setelah kembali pecah konflik. Sikap tersebut memudarkan harapan tercapainya perdamaian jangka panjang dan mengurangi minat investor terhadap aset berisiko. Indeks saham MSCI Emerging Markets Asia bergerak relatif datar setelah melonjak lebih dari 30% dalam tiga bulan terakhir, menjadi kinerja kuartalan terbaik sejak Juni 2009. Kenaikan tersebut terutama ditopang saham-saham teknologi AI di Korea Selatan dan Taiwan.
Baca Juga: Direktur Westpac Mundur di Tengah Sorotan Hubungan dengan KPMG Pada perdagangan hari ini, indeks acuan Taiwan naik lebih dari 2% setelah saham TSMC melonjak sekitar 3,9%. Sebaliknya, indeks KOSPI Korea Selatan sempat merosot hingga 4%. Sementara itu, indeks saham Filipina dan Thailand masing-masing menguat sekitar 0,5% dan 0,1%. Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik lebih dari 1%, tetapi masih berada di dekat level terendah dalam tiga pekan terakhir setelah terkoreksi hampir 11% sejak pertengahan Juni. Pelemahan tersebut terjadi setelah MSCI mengungkapkan kekhawatiran baru terkait transparansi pasar Indonesia dan menunda peninjauan status pasar berkembang Indonesia hingga November mendatang.
Baca Juga: Meksiko Akhiri Kutukan 40 Tahun di Fase Gugur Piala Dunia, Taklukkan Ekuador 2-0 Di pasar valuta asing, nilai tukar rupiah kembali melemah hingga menyentuh Rp 17.980 per dolar Amerika Serikat, mendekati level psikologis Rp 18.000 yang belum ditembus dalam tiga pekan terakhir. Sentimen investor terhadap Indonesia masih terbebani oleh berbagai persoalan domestik, mulai dari kondisi fiskal, tata kelola pemerintahan, hingga serangkaian kasus korupsi yang memicu aksi protes. "Investor benar-benar belum merasa puas dan nyaman dengan perkembangan kebijakan pemerintah Indonesia belakangan ini," ujar Equity Research Associate Samuel Sekuritas Indonesia, Fadhlan Banny. Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan, investor asing telah membukukan jual bersih (
net sell) hampir US$ 4 miliar di pasar saham Indonesia sepanjang tahun ini. Nilai tersebut menjadi arus keluar dana asing terbesar setidaknya sejak 2010. Meski demikian, Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai, kondisi pasar domestik mulai memasuki fase stabilisasi.
Baca Juga: Haaland Ukir Rekor Gol Bersejarah: Lampaui Messi, Ronaldo, dan Mbappe Sekaligus "Dari perspektif kami, Indonesia kini memasuki fase stabilisasi. Pasar obligasi mulai merespons perubahan arah kebijakan, khususnya menuju kurva imbal hasil yang lebih mencerminkan mekanisme pasar serta kondisi likuiditas yang lebih ketat," katanya. Di kawasan Asia, mayoritas mata uang juga tertekan oleh penguatan dolar AS. Mata uang Negeri Paman Sam memperoleh dukungan dari kenaikan tajam imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) di tengah meningkatnya ekspektasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve, berpotensi kembali menaikkan suku bunga. Akibatnya, peso Filipina melemah ke level terendah sejak 10 Juni. Baht Thailand, dolar Singapura, ringgit Malaysia, dan dolar Taiwan juga ditutup melemah terhadap dolar AS.