KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia menguat tajam pada perdagangan Selasa (27/10), didorong meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko setelah Anthropic mengungkapkan rencana penawaran umum perdana saham atau
initial public offering (IPO). Sentimen positif ini muncul menjelang rilis laporan keuangan sejumlah perusahaan teknologi besar dan keputusan suku bunga bank sentral utama dunia. Anthropic, perusahaan pengembang kecerdasan buatan (AI) di balik chatbot Claude, mengungkapkan pertumbuhan pendapatan yang pesat sekaligus kerugian besar dalam dokumen pengajuan IPO di Amerika Serikat (AS).
Baca Juga: Daftar Harga Emas Antam Hari Ini (27/10): Naik Rp 10.000 Jadi Rp 2.550.000 Per Gram Perkembangan tersebut menjadi perhatian investor yang tengah mencermati potensi keuntungan dari investasi AI bernilai besar serta kemampuan perusahaan menghasilkan laba. Sentimen pasar juga ditopang rencana Meta Platforms untuk menghimpun dana hingga US$ 95 miliar melalui aksi penggalangan modal ekuitas terbesar sepanjang sejarah perusahaan tersebut. Di pasar saham, indeks Kospi Korea Selatan yang didominasi saham teknologi melonjak lebih dari 4% pada awal perdagangan. Indeks Nikkei Jepang menguat 1,9%, sedangkan indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 1,2%. Kontrak berjangka Nasdaq juga menguat 0,4% setelah saham-saham semikonduktor AS melonjak 2,8% pada perdagangan sebelumnya. Kenaikan tersebut menjadi lonjakan harian terbesar saham chip dalam sebulan. Sebaliknya, kontrak berjangka saham Eropa melemah 0,23%.
Baca Juga: Rupiah Melemah, Investor Diprediksi Selektif Ikuti Lelang SUN Rp 30 Triliun Perhatian investor berikutnya tertuju pada laporan keuangan perusahaan teknologi besar. Lebih dari sepertiga perusahaan dalam indeks S&P 500 dijadwalkan merilis kinerja pekan ini, termasuk perusahaan komputasi awan berskala besar atau hyperscaler, yakni Alphabet, Microsoft, dan Amazon.com. Kepala strategi pasar Ameriprise Anthony Saglimbene mengatakan, investor kini semakin kritis terhadap belanja AI dan hubungan bisnis antarpelaku industri yang saling terkait. Menurut dia, investor membutuhkan bukti bahwa permintaan AI meluas melampaui hubungan bisnis antarpelaku yang sama agar ekspansi infrastruktur dapat terus berlanjut. Investor juga ingin memastikan belanja modal yang agresif benar-benar didorong kebutuhan bisnis jangka panjang, serta mampu menghasilkan keuntungan ketika infrastruktur baru mulai beroperasi.
Baca Juga: Kembali Caplok Tambang Mineral di Australia, Simak Rekomendasi BUMI Pasar Menanti Keputusan Bank Sentral Selain laporan keuangan emiten teknologi, pasar global juga mencermati keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed), Bank Sentral Eropa (ECB), dan Bank of Japan (BOJ). Para ekonom memperkirakan ketiga bank sentral tersebut akan mempertahankan suku bunga, sehingga perhatian beralih pada pernyataan para pejabat untuk membaca arah kebijakan moneter selanjutnya. The Fed sebelumnya telah memberi sinyal tidak akan menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan pekan ini. Namun, kekhawatiran terhadap inflasi membuat investor menilai jeda kenaikan suku bunga tersebut belum tentu berlangsung lama. Pelaku pasar bahkan memperhitungkan potensi kenaikan suku bunga The Fed pada Desember mendatang.
Baca Juga: Harga Emas Turun, Kinerja Emiten Terancam Menyusut Kepala makro dan kebijakan untuk solusi multi-aset J.P. Morgan Asset Management Geng Ngarmboonanant menilai, perekonomian AS masih berpotensi bertahan di tengah suku bunga yang lebih tinggi. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun tercatat stabil di 4,992%, bertahan di bawah level 5% yang sempat ditembus pada September. Saat itu, investor beralih ke obligasi pemerintah AS sebagai aset yang relatif aman di tengah gejolak saham terkait kekhawatiran terhadap prospek AI. Di pasar valuta asing, yen Jepang diperdagangkan pada 157,72 per dollar AS menjelang keputusan BOJ pada Jumat mendatang. Bank sentral Jepang diperkirakan menegaskan bahwa inflasi telah mencapai target 2% setelah perjuangan panjang selama hampir 14 tahun. BOJ juga diperkirakan menyoroti risiko inflasi melampaui target, yang dapat membuka peluang kenaikan suku bunga paling cepat pada Desember. Sementara itu, harga minyak mentah Brent turun 0,7% menjadi US$ 114,95 per barel. Harga minyak bergerak menjauh dari level tertinggi enam bulan seiring investor mempertimbangkan peluang penyelesaian konflik AS-Israel dengan Iran. Meski demikian, kekhawatiran terhadap pasokan masih membayangi pasar.
Baca Juga: Resmi, Saham Ini Masuk Ke Indeks LQ45 Mulai 2 November 2026, Cek Daftar Lengkapnya Kepala strategi pasar ATFX Global Nick Twidale mengatakan, pasokan tetap menjadi perhatian utama. Setiap perkembangan yang mengancam ekspor minyak secara fisik berpotensi mendorong harga Brent kembali menguji level tertinggi terbaru, bahkan menuju US$ 120 per barel. Konflik yang telah berlangsung hampir delapan bulan tersebut turut mendorong kenaikan harga energi, memperbesar kekhawatiran inflasi, dan mengubah ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga global. Di pasar komoditas lainnya, harga emas sedikit melemah ke US$ 4.013,70 per ons troi. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News