Bursa Asia Melonjak Senin (15/6), Harga Minyak Anjlok, AS-Iran Capai Kesepakatan



KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia mengawali pekan dengan reli kuat pada Senin (15/6/2026), sementara harga minyak dunia merosot tajam dan dolar AS melemah setelah muncul kabar tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Melansir Reuters, sentimen positif tersebut memicu peningkatan minat investor terhadap aset berisiko sekaligus meredakan kekhawatiran terhadap inflasi global yang selama beberapa bulan terakhir dipicu lonjakan harga energi.

Baca Juga: Pemilik Anjing di China Makin Royal, Industri Hewan Peliharaan Tembus US$ 46 Miliar


Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyatakan melalui media sosial bahwa kesepakatan telah tercapai.

Presiden AS Donald Trump juga mengonfirmasi adanya perjanjian yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang selama ini menjadi pusat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Meski demikian, Iran menyebut lalu lintas kapal di Selat Hormuz nantinya akan diatur bersama Oman, sehingga masih menyisakan ketidakpastian mengenai mekanisme pelayaran di kawasan tersebut.

"Kurangnya detail mengenai kebebasan pelayaran memang menjadi perhatian, tetapi tidak cukup untuk menghambat sentimen positif pasar saat ini," ujar analis senior valuta asing ITC Markets, Sean Callow.

Menurutnya, prospek penurunan harga energi yang berkelanjutan berpotensi mengubah arah kebijakan bank sentral global yang sebelumnya cenderung hawkish akibat tekanan inflasi.

Baca Juga: Sulit Dibeli tapi Tetap Laris, Ini Strategi Elon Musk untuk Saham SpaceX

Harga Minyak Terjun

Pasar komoditas menjadi salah satu yang paling cepat merespons perkembangan tersebut.

Harga minyak mentah Brent anjlok 4% menjadi US$ 83,80 per barel, jauh di bawah puncaknya pada Mei lalu yang sempat mencapai US$ 126,41 per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun lebih dalam, yakni 4,7% menjadi US$ 80,89 per barel.

Analis energi Commonwealth Bank of Australia (CBA) Vivek Dhar memperkirakan, harga Brent berpotensi turun menuju US$ 80 per barel hingga akhir tahun apabila Selat Hormuz tetap terbuka dan ekspor minyak dapat kembali berjalan normal.

"Kami memperkirakan harga Brent bisa turun ke US$ 80 per barel pada akhir tahun dengan asumsi Selat Hormuz tidak kembali ditutup," ujarnya.

Baca Juga: Demam SpaceX Picu FOMO Investor, Saham Jadi Buruan di Hari Pertama

Bursa Asia Menguat

Penurunan harga minyak menjadi kabar baik bagi negara-negara pengimpor energi di Asia.

Indeks Nikkei Jepang melonjak 3%, didukung prospek penurunan biaya impor energi. Indeks KOSPI Korea Selatan yang sebelumnya sudah menguat tajam kembali naik 4,3%.

Sementara itu, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang menguat 1,5%.

Di pasar berjangka, kontrak futures S&P 500 naik 0,9%, sedangkan Nasdaq futures melesat 1,5% seiring meningkatnya optimisme investor global.

Tekanan Inflasi Mereda

Meredanya harga energi juga mengurangi kekhawatiran pasar terhadap inflasi global.

Pekan ini menjadi periode penting bagi pasar keuangan karena sejumlah bank sentral utama dunia dijadwalkan menggelar rapat kebijakan moneter, termasuk bank sentral AS (The Fed), Inggris, Jepang, Australia, Swiss, Swedia, Norwegia, dan Rusia.

The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75% dalam pertemuan yang berakhir Rabu (17/6).

Namun, investor akan mencermati sinyal terbaru terkait arah kebijakan suku bunga ke depan.

Ekspektasi kenaikan suku bunga AS juga mulai berkurang setelah harga minyak turun tajam. Peluang kenaikan suku bunga pada Oktober kini diperkirakan sekitar 45%.

Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS tenor dua tahun turun 6 basis poin menjadi 4,02%.

Pelemahan yield turut menekan dolar AS. Euro menguat 0,4% ke level US$ 1,1608, sementara poundsterling naik 0,3% menjadi US$ 1,3446.

Baca Juga: Trump: Israel Seharusnya Tak Menyerang Lebanon, Kesepakatan Iran Hampir Tercapai

Emas Ikut Menguat

Di tengah turunnya imbal hasil obligasi, harga emas justru menguat.

Logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil bunga tersebut naik 1,9% menjadi US$ 4.300 per ons, didukung pelemahan dolar AS dan penurunan yield obligasi pemerintah AS.

Bagi pasar global, tercapainya kesepakatan AS-Iran menjadi katalis positif yang berpotensi mengurangi tekanan inflasi, menstabilkan pasokan energi, dan membuka ruang bagi bank sentral untuk menahan kenaikan suku bunga lebih lanjut.