Bursa Asia Memerah Selasa (5/5) Pagi, Minyak Tetap Tinggi di Tengah Krisis AS-Iran



KONTAN.CO.ID - Pasar saham Asia melemah pada perdagangan Selasa (5/5/2026). Sementara harga minyak dunia tetap tinggi di atas US$100 per barel, seiring memudarnya prospek gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Ketegangan di kawasan meningkat setelah kedua negara kembali melancarkan serangan di wilayah Teluk, khususnya di Selat Hormuz jalur vital perdagangan energi global. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran gangguan pasokan minyak dunia.

Baca Juga: 150 Orang Masih Terisolasi di Kapal Mewah yang Diduga Terinfeksi Virus Mematikan


Melansir Reuters, Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang tercatat turun 0,3%. Saham Australia melemah 0,4% di tengah volume perdagangan yang relatif tipis. Sedangkan bursa Jepang dan Korea Selatan tutup karena hari libur.

Di pasar global, kontrak berjangka indeks saham utama juga bergerak melemah. Futures S&P 500 dan Nasdaq masing-masing turun sekitar 0,1%. Sementara itu, futures EUROSTOXX 50 terkoreksi 0,2% dan FTSE 100 melemah 0,75%.

Di sisi komoditas, harga minyak Brent turun tipis 0,5% ke US$113,85 per barel, sementara minyak mentah AS (WTI) turun 1,3% ke US$105,03 per barel.

Meski terkoreksi, harga tetap tinggi setelah sebelumnya melonjak akibat kekhawatiran gangguan pasokan.

Ketidakpastian meningkat meskipun Amerika Serikat berupaya membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Baca Juga: Inflasi Filipina Melonjak ke 7,2% pada April, Level Tertinggi Sejak 2023

Kapal berbendera AS yang dioperasikan Maersk dilaporkan berhasil keluar dari Teluk dengan pengawalan militer.

Namun, eskalasi konflik menunjukkan bahwa situasi masih jauh dari stabil. Pelaku pasar menilai kebuntuan masih berlangsung, sehingga risiko geopolitik tetap tinggi.

Selain faktor geopolitik, investor juga mencermati musim laporan keuangan. Sejumlah perusahaan besar seperti Advanced Micro Devices dan Pfizer dijadwalkan merilis kinerja terbaru.

Data menunjukkan sekitar 83% perusahaan dalam indeks S&P 500 yang telah melaporkan kinerja berhasil melampaui ekspektasi laba per saham (EPS), sementara 78,2% melampaui proyeksi pendapatan.

Di pasar valuta asing, yen Jepang stabil di kisaran 157,22 per dolar AS setelah sempat menguat tajam pada sesi sebelumnya. Pergerakan ini memicu spekulasi intervensi lanjutan oleh otoritas Jepang.

Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menegaskan pemerintah akan menindak tegas aktivitas spekulatif di pasar valuta asing, yang membuat pelaku pasar tetap waspada terhadap potensi intervensi.

Baca Juga: Berkshire Siapkan Suksesi, Charlie Shamieh Calon Pengganti Ajit Jain

Sementara itu, dolar AS menguat didukung permintaan aset safe haven. Pelaku pasar juga menantikan rilis data ketenagakerjaan AS akhir pekan ini yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan Federal Reserve.

Dengan tekanan inflasi yang masih tinggi akibat lonjakan harga energi, pasar saat ini memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada tahun ini.

Di sisi lain, harga emas naik tipis 0,2% ke US$4.529,19 per ons, mencerminkan sikap hati-hati investor di tengah ketidakpastian global.