KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia menguat pada perdagangan Kamis (9/7/2026), didorong reli saham-saham semikonduktor setelah sebelumnya mengalami aksi jual. Namun, penguatan pasar tertahan oleh lonjakan harga minyak akibat kembali memanasnya konflik di kawasan Teluk yang memicu kekhawatiran inflasi dan menekan pasar obligasi global.
Baca Juga: Daftar Harga Emas Antam Hari Ini (9/7): Turun Rp 8.000 Jadi Rp 2.633.000 Per Gram Mengutip
Reuters, harga minyak melanjutkan kenaikan untuk hari ketiga berturut-turut setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan kesepakatan sementara dengan Iran untuk mengakhiri perang telah "berakhir". Militer AS juga kembali melancarkan serangan terhadap Iran untuk hari kedua berturut-turut dengan tujuan menjaga Selat Hormuz tetap terbuka bagi pelayaran internasional. Meski demikian, Trump kemudian mengatakan dirinya tidak memperkirakan konflik akan berkembang menjadi perang skala penuh, sehingga sedikit meredakan kekhawatiran pasar. Harga minyak mentah Brent naik 0,8% menjadi US$ 78,65 per barel. Sepanjang pekan ini, Brent telah melonjak sekitar 9% dan sempat menembus US$ 80 per barel untuk pertama kalinya sejak 22 Juni.
Baca Juga: OJK Terbitkan Aturan Baru Perdagangan Karbon Melalui Bursa Karbon, Ini Penjelasannya Kenaikan harga minyak mendorong pelemahan pasar obligasi global dan memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) masih berpotensi menaikkan suku bunga tahun ini guna mengendalikan inflasi. Kontrak berjangka Fed Funds kini mengindikasikan pengetatan kebijakan moneter sekitar 38 basis poin hingga akhir tahun, kembali ke level yang sama seperti sepekan lalu. Di Wall Street, indeks Nasdaq berhasil ditutup naik tipis 0,2% setelah sempat tertekan menyusul komentar Trump. Saham Nvidia melonjak 3,6% setelah muncul laporan bahwa China berencana mengizinkan perusahaan-perusahaan kecerdasan buatan (AI) terkemuka di negara itu membeli chip H200 Nvidia dalam jumlah terbatas.
Baca Juga: LPPI: Buyback Belum Cukup Topang Saham Bank di Tengah Sentimen Watchlist S&P DJI Di kawasan Asia, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,8%. Sementara itu, indeks Nikkei Jepang menguat 2,3%, mengakhiri tren pelemahan selama tiga hari berturut-turut. Indeks KOSPI Korea Selatan melesat 3,8%, ditopang kenaikan saham Samsung Electronics sebesar 3,6% dan lonjakan 7,5% pada saham SK Hynix, seiring aksi beli investor terhadap saham-saham chip yang sebelumnya terkoreksi tajam. Kontrak berjangka indeks saham Eropa naik 0,9%, sedangkan kontrak berjangka Wall Street bergerak relatif datar pada perdagangan Asia. Kepala Riset Pepperstone Chris Weston mengatakan, pelaku pasar masih meyakini konflik Iran pada akhirnya akan mereda dan negosiasi terkait nota kesepahaman (
Memorandum of Understanding) dapat kembali dilanjutkan. "Namun, situasinya masih sangat dinamis sehingga investor tetap harus berhati-hati karena sulit memperkirakan kapan kondisi akan berubah," ujarnya. Sementara itu, risalah rapat Federal Reserve menunjukkan meningkatnya kekhawatiran para pejabat bank sentral terhadap inflasi. Beberapa anggota bahkan menilai terdapat alasan untuk mulai menaikkan suku bunga, meskipun pada akhirnya The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan lalu.
Baca Juga: BEI: Masih Ada 6 Perusahaan Besar Antre IPO, Setelah JELI BACH PRDL Diserbu Investor Yield obligasi melonjak Lonjakan harga minyak juga memicu aksi jual di pasar obligasi. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun naik 1,5 basis poin menjadi 2,880%, level tertinggi sejak September 1996. Di Australia, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik 4 basis poin menjadi 4,924%, tertinggi sejak awal Juni. Sementara itu, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 2 basis poin menjadi 4,5852% setelah sebelumnya menguat 4 basis poin pada perdagangan semalam. Sepanjang pekan ini, yield Treasury AS telah meningkat sekitar 10 basis poin.
Baca Juga: Cek Rekening! Hari Ini (9/7) Pembayaran Dividen Tunai 9 Saham, Triliunan Rupiah Cair Di pasar valuta asing, pergerakan dolar AS relatif terbatas. Dolar terakhir melemah 0,2% terhadap yen Jepang ke level 162,38, masih mendekati level tertinggi dalam 40 tahun yang memicu spekulasi potensi intervensi pemerintah Jepang. Euro naik tipis 0,1% ke US$ 1,1428, sementara poundsterling juga menguat 0,1% menjadi US$ 1,3401. Adapun harga emas relatif stabil di level US$ 4.079 per ons troi. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News