KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia menguat pada Kamis (19/2/2026), didorong reli saham teknologi di Wall Street, sementara ketegangan AS–Iran menjaga harga minyak tetap tinggi dan menopang emas sebagai aset
safe haven. Perdagangan relatif sepi karena pasar Hong Kong, China, dan Taiwan tutup dalam rangka libur Tahun Baru Imlek. Meski demikian, indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang naik 0,5%, sedangkan indeks Nikkei Jepang menguat 0,85% dipimpin saham teknologi.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun Tipis Kamis (19/2), Pasar Cermati Arah Ketegangan AS–Iran Indeks Kospi Korea Selatan bahkan melonjak sekitar 3% ke rekor tertinggi. Reli ini mengikuti kenaikan saham teknologi di AS setelah Nvidia mengumumkan kesepakatan multi-tahun untuk memasok jutaan chip kecerdasan buatan kepada Meta Platforms. Kontrak berjangka Nasdaq naik tipis 0,05% dan futures S&P 500 menguat 0,03%, sementara futures EUROSTOXX 50 turun 0,15%. Minyak Bertahan, Emas Didukung Safe Haven Harga minyak mempertahankan sebagian besar kenaikan tajam sesi sebelumnya, ketika pasar mengantisipasi potensi gangguan pasokan akibat risiko konflik antara AS dan Iran. Brent berada di kisaran US$70,31 per barel setelah melonjak 4,35% sehari sebelumnya, sementara WTI di US$65,10 per barel, masih mempertahankan sebagian besar kenaikan 4,6%.
Baca Juga: Emas Melemah Usai Reli 2% Kamis (19/2), Dolar Menguat Jelang Data Inflasi AS Pelaku pasar menilai peningkatan aset militer di kawasan lebih sebagai bagian dari tekanan diplomatik ketimbang sinyal serangan segera. Di sisi lain, emas stabil di sekitar US$4.963,99 per ons, ditopang aliran dana ke aset aman. Prospek The Fed dan Pergerakan Dolar Dolar AS menguat setelah risalah rapat terakhir Federal Reserve menunjukkan para pembuat kebijakan belum terburu-buru memangkas suku bunga. Beberapa bahkan terbuka pada kemungkinan kenaikan suku bunga jika inflasi tetap tinggi. Terhadap dolar, pound sterling melemah mendekati level terendah satu bulan di US$1,3488. Yen Jepang bertahan di sekitar 155 per dolar dan terakhir di 154,80.
Baca Juga: Dokumen Epstein Guncang Dunia: Siapa Saja Nama yang Terseret? Euro berada di bawah tekanan di kisaran US$1,1791, setelah muncul kabar Presiden European Central Bank, Christine Lagarde, berencana meninggalkan jabatannya lebih awal.
Sementara itu, dolar Selandia Baru naik tipis 0,11% ke US$0,5972 setelah sebelumnya anjlok 1,4% menyusul sikap bank sentral negara tersebut yang meredam ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter yang lebih agresif. Secara keseluruhan, sentimen pasar tetap ditopang sektor teknologi, namun investor masih dibayangi ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan suku bunga global.