Bursa Asia Menguat, Dolar AS Tertekan Seiring Ekspektasi Suku Bunga The Fed Mereda



KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia menguat pada perdagangan Senin (17/8/2026), dipimpin saham-saham China menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting.

Di sisi lain, dolar Amerika Serikat (AS) melemah mendekati level terendah dalam dua bulan seiring investor memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Thailand Kuartal II-2026 Lampaui Perkiraan, Target 2026 Dinaikkan


Mengutip Reuters, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,5%, sementara indeks Nikkei Jepang menguat 0,3%.

Saham-saham unggulan China naik 0,8%, sedangkan indeks Hang Seng Hong Kong melonjak 1,6% menjelang rilis data aktivitas ekonomi China Juli pada Senin.

Pasar memperkirakan pertumbuhan produksi industri China melambat menjadi 4,8% secara tahunan pada Juli, dibandingkan 5,3% pada bulan sebelumnya.

Namun, investor juga mengantisipasi potensi kejutan positif setelah ekspor China meningkat kuat berkat tingginya permintaan global terkait teknologi kecerdasan buatan (AI).

Sementara itu, pasar saham Korea Selatan tidak diperdagangkan pada Senin karena libur nasional.

Baca Juga: Harga Tembaga Menguat pada Senin (17/8), di Tengah Keterbatasan Pasokan Global

Ekspektasi Kenaikan Bunga The Fed Menurun

Pergerakan pasar global turut dipengaruhi meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.

Sejumlah data ekonomi AS yang lebih lemah dari perkiraan, termasuk penurunan penjualan ritel pada Juli, membuat investor mengurangi taruhan terhadap kenaikan suku bunga pada pertemuan September.

Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada bulan depan kini sekitar 30%, turun tajam dari sekitar 50% sepekan sebelumnya.

Ekspektasi tersebut turut menekan dolar AS. Indeks dolar bergerak mendekati level terendah dalam dua bulan, sementara euro mencapai level tertinggi dua bulan di US$ 1,1588.

Dolar Australia dan dolar Selandia Baru juga menyentuh level tertinggi dalam 10 pekan, masing-masing di US$ 0,7105 dan US$ 0,5910.

Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury tenor dua tahun turun 2 basis poin menjadi 4,154%. Sementara yield US Treasury 10 tahun turun 2 basis poin menjadi 4,680%.

Baca Juga: Harga Gandum Naik 4 Hari Beruntun Senin (17/8), Risiko Laut Hitam Jadi Sorotan

Harga Minyak Masih Dibayangi Konflik Timur Tengah

Pergerakan pasar saham Asia masih dibayangi perkembangan konflik di Timur Tengah dan harga minyak yang menguat signifikan pada pekan sebelumnya.

Harga minyak Brent naik tipis 0,2% menjadi US$ 88,67 per barel, setelah melonjak sekitar 6% sepanjang pekan lalu.

Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 0,2% menjadi US$ 82,19 per barel, setelah menguat 5,4% pada pekan sebelumnya.

Iran pada Sabtu (15/8) menyerukan agar AS menerima kekalahan, sementara Presiden Donald Trump meminta masyarakat AS bersiap menghadapi harga bensin yang lebih tinggi selama konflik berlangsung.

"Selama belum ada penyelesaian atas kebuntuan Iran dan Selat Hormuz, skenario dasar kami adalah harga minyak tetap berada dalam kisaran US$ 70-US$ 100 per barel," ujar Shane Oliver, kepala ekonom AMP.

Menurut Oliver, risiko tetap ada jika tidak tercapai kesepakatan damai yang berkelanjutan. Arus minyak dari Timur Tengah disebut masih sekitar 10%-15% lebih rendah dari kondisi normal, sehingga harga minyak berpotensi meningkat ketika cadangan mulai menipis.

Baca Juga: Harga Emas Naik, Didorong Pelemahan Dolar AS dan Spekulasi Kenaikan Bunga Berkurang

Wall Street Berpeluang Melanjutkan Penguatan

Di pasar saham global, kontrak berjangka EUROSTOXX 50 naik 0,3%. Sementara futures S&P 500 naik 0,1% dan Nasdaq menguat 0,3%.

Penguatan saham AS dalam beberapa waktu terakhir didorong oleh menurunnya risiko kenaikan suku bunga The Fed.

Penjualan ritel AS tercatat mengalami penurunan pertama dalam sembilan bulan pada Juli, sementara sentimen konsumen memburuk lebih besar dari perkiraan.

Investor kini menantikan sejumlah laporan keuangan perusahaan besar seperti Home Depot, Target dan Walmart untuk menilai kekuatan konsumsi masyarakat AS.

Selain itu, pasar akan mencermati data S&P Purchasing Managers' Index (PMI) Agustus guna melihat apakah percepatan aktivitas bisnis AS pada pertengahan tahun dapat berlanjut.

Di pasar komoditas, harga emas naik 0,4% menjadi US$ 4.391 per ons, setelah mencatat kenaikan 0,8% pada pekan lalu.

Baca Juga: Yuan China Mendekati Level Tertinggi 3,5 Tahun Jelang Rilis Data Ekonomi