KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sentimen positif menyelimuti pasar keuangan global pada awal pekan. Bursa saham Asia menguat, sementara harga minyak dunia melemah setelah muncul sinyal kemajuan dalam perundingan damai antara Iran dan Amerika Serikat (AS). Optimisme pasar meningkat setelah negosiator Iran menyatakan telah terjadi kemajuan dalam pembicaraan dengan AS. Pernyataan serupa juga disampaikan pejabat Qatar dan Pakistan yang menyebut sesi pertama perundingan telah selesai dan menghasilkan kemajuan dalam penyusunan peta jalan menuju kesepakatan final dalam 60 hari ke depan.
Perkembangan ini meredakan kekhawatiran investor bahwa proses diplomasi kedua negara akan kembali menemui jalan buntu.
Baca Juga: Harga Minyak Turun Lebih dari 4%, De-Eskalasi AS-Iran Meredakan Kekhawatiran Pasokan Sebelumnya, ketegangan sempat meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan baru terhadap Iran, sementara Wakil Presiden JD Vance melakukan pertemuan dengan pejabat Iran dalam pembicaraan pertama sejak tercapainya kesepakatan damai sementara. Pasar juga sempat dibayangi keputusan Teheran yang kembali menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis bagi perdagangan minyak dunia. Namun, kemajuan dalam negosiasi damai membuat kekhawatiran gangguan pasokan energi mereda. Kondisi tersebut langsung tercermin pada pergerakan harga minyak. Kontrak minyak mentah Brent turun 1,9% ke level US$ 79,01 per barel, jauh di bawah puncaknya pada Mei yang sempat mencapai US$ 126,41 per barel. Sementara itu, kontrak minyak mentah AS yang paling aktif diperdagangkan melemah 0,7% menjadi US$ 75,29 per barel. Di pasar saham, indeks Nikkei Jepang melonjak 1,8%, melanjutkan tren positif setelah pekan lalu menguat hampir 8% dan mencetak rekor tertinggi baru.
Baca Juga: Bursa Asia Merosot, Harga Minyak Naik Terseret Konflik Iran dan AS yang Memanas Bursa Korea Selatan juga naik 0,6% setelah pekan sebelumnya melesat lebih dari 11% berkat tingginya minat investor terhadap saham-saham semikonduktor. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang menguat 0,8%, sedangkan saham-saham unggulan China naik 1,6%. Meski demikian, sentimen di pasar saham AS dan Eropa masih cenderung hati-hati. Kontrak berjangka S&P 500 turun 0,3% dan Nasdaq melemah 0,2%. Di Eropa, futures EURO STOXX 50 turun 0,2%, DAX Jerman terkoreksi 0,1%, sementara FTSE Inggris bergerak relatif datar. Di sisi lain, pasar obligasi masih menghadapi tekanan setelah sikap Federal Reserve (The Fed) yang lebih agresif dalam rapat kebijakan pekan lalu. Pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 75% bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga pada September mendatang. Kontrak berjangka suku bunga menunjukkan ekspektasi pengetatan sebesar 38 basis poin hingga akhir tahun. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun bahkan sempat naik ke level tertinggi sejak awal 2025, yakni 4,23%. Kepala Strategi Multi-Aset JPMorgan, Fabio Bassi, menilai risiko kenaikan suku bunga lebih cepat tetap terbuka jika inflasi kembali menunjukkan tekanan. Menurutnya, pasar tenaga kerja yang masih kuat berpotensi membuat suku bunga bertahan tinggi lebih lama.
Baca Juga: Bursa Asia Menguat, Harga Minyak Tertekan Isu Nuklir Iran-AS Perhatian investor pekan ini tertuju pada rilis data inflasi inti AS yang menjadi acuan utama The Fed. Inflasi inti diperkirakan naik menjadi 3,4% pada Mei, yang dapat memperkuat alasan bank sentral AS untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat. Prospek suku bunga tinggi turut menopang penguatan dolar AS. Mata uang Negeri Paman Sam bertahan di level 161,66 yen Jepang, mendekati titik tertinggi dalam dua tahun terakhir. Sementara euro melemah ke US$ 1,1454 setelah menyentuh level terendah tiga bulan pada akhir pekan lalu. Pound sterling juga turun 0,2% ke US$ 1,3208 di tengah meningkatnya ketidakpastian politik di Inggris.
Laporan media menyebut Perdana Menteri Keir Starmer tengah mempertimbangkan masa depan politiknya setelah muncul tekanan dari sejumlah anggota Partai Buruh menyusul kemenangan politik rivalnya, Andy Burnham.
Baca Juga: Bursa Global Menguat, Harga Minyak Turun di Tengah Harapan Gencatan Senjata AS-Iran Sementara itu, harga emas justru menguat 0,4% menjadi US$ 4.178 per ons troi. Logam mulia tersebut mendapat dukungan dari kombinasi sentimen geopolitik dan ketidakpastian arah kebijakan moneter global. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News