Bursa Asia Menguat, Inflasi AS Turun Redakan Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga The Fed



KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Bursa saham Asia menguat pada perdagangan Rabu (15/7/2026) setelah inflasi Amerika Serikat (AS) secara tak terduga melambat. 

Kondisi ini meredakan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed), sehingga mendorong sentimen positif di pasar saham dan obligasi global.

Reli pasar dipimpin oleh indeks KOSPI Korea Selatan yang melonjak 7%, seiring optimisme investor menjelang laporan keuangan ASML, perusahaan pemasok peralatan semikonduktor terbesar di dunia yang menjadi barometer industri kecerdasan buatan (AI).


Sementara itu, indeks Nikkei Jepang naik 1%, sedangkan indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang menguat 2,4%.

Baca Juga: Goldman Sachs Tunda Prediksi Pemangkasan Suku Bunga The Fed ke September 2026

Penguatan bursa Asia mengikuti kenaikan Wall Street pada perdagangan sebelumnya. Laba besar bank-bank AS berhasil menopang penguatan indeks S&P 500 dan Nasdaq, meski saham IBM anjlok 25% setelah proyeksi pendapatannya berada di bawah ekspektasi analis.

Penurunan tajam saham IBM juga memunculkan kekhawatiran bahwa reli saham-saham bertema AI mulai berada di level valuasi yang tinggi dan rentan terhadap kekecewaan pasar.

Sentimen positif terutama datang dari data inflasi AS. Indeks harga konsumen (CPI) AS turun 0,4% pada Juni, menjadi penurunan bulanan pertama sejak pandemi Covid-19.

Sementara itu, inflasi inti tahunan melambat menjadi 2,6%, lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 2,8%.

Data tersebut mendorong investor memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Juli kini turun menjadi sekitar 16%, atau hanya setengah dari perkiraan sebelumnya.

Analis J.P. Morgan menilai kombinasi inflasi yang lebih rendah dan pertumbuhan laba perusahaan yang tetap positif menjadi kabar baik bagi pasar.

Menurut mereka, data tersebut berpotensi menghilangkan kekhawatiran kenaikan suku bunga pada Juli dan mengurangi tekanan menjelang pertemuan September.

Baca Juga: The Fed Tahan Suku Bunga, Powell: Inflasi Masih Tinggi tapi Terkendali

Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor dua tahun turun 11 basis poin menjadi 4,19%, setelah sehari sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi dalam 17 bulan, mendekati 4,3%.

Di pasar valuta asing, dolar AS melemah terhadap sebagian besar mata uang utama, kecuali yen Jepang yang masih berada di bawah tekanan.

Di sisi lain, data ekonomi China menjadi penahan optimisme pasar. Produk domestik bruto (PDB) negeri itu hanya tumbuh 4,3% secara tahunan pada kuartal II-2026, lebih rendah dari perkiraan analis.

Perlambatan dipicu lemahnya permintaan domestik dan dampak kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah, meski produksi industri dan ekspor masih cukup kuat.

Meski demikian, pasar tetap mencermati sejumlah sinyal positif dari China, seperti pemulihan penjualan ritel pada Juni, pertumbuhan nominal PDB yang relatif solid, serta harapan munculnya kebijakan tambahan dari pemerintah untuk menopang ekonomi.

Ekonom UOB Woei Chen Ho menilai pemerintah China kemungkinan belum akan meluncurkan stimulus besar-besaran. Menurutnya, jika ada kebijakan baru, bentuknya akan lebih terarah karena pertumbuhan saat ini masih terkonsentrasi pada sektor teknologi, sementara sektor ekonomi lainnya masih tertinggal.

Di pasar mata uang, yuan China menguat ke level tertinggi dalam satu bulan di 6,7635 per dolar AS. Euro bertahan di atas US$ 1,14, sedangkan dolar Australia mempertahankan penguatan sekitar 0,8% dan menguji level US$ 0,70.

Baca Juga: Harga Emas Turun Dua Hari karena Suku Bunga The Fed Berpotensi Naik

Harga minyak Brent bergerak stabil di kisaran US$ 85,80 per barel setelah melonjak hampir 13% sepanjang pekan ini akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Presiden AS Donald Trump pada Selasa kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan mengancam akan menyerang infrastruktur penting Iran jika negosiasi tidak kembali dilanjutkan.

Namun, pemerintah AS membatalkan rencana mengenakan biaya 20% bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz, sehingga membantu meredakan tekanan di pasar minyak.

Selanjutnya, perhatian investor akan tertuju pada musim laporan keuangan di AS. Sebelum pembukaan perdagangan Wall Street, sejumlah perusahaan besar seperti BNY, Morgan Stanley, Johnson & Johnson, dan BlackRock dijadwalkan merilis kinerja keuangannya, disusul United Airlines setelah penutupan pasar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News