Bursa Asia Menguat Jumat (3/7), Reli Samsung dan SK Hynix Redakan Tekanan Pasar



KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia menguat pada perdagangan Jumat (3/7/2026), didorong reli saham-saham semikonduktor Korea Selatan serta meredanya kekhawatiran pasar terhadap kenaikan suku bunga lanjutan oleh bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), setelah data ketenagakerjaan AS dirilis lebih lemah dari perkiraan.

Mengutip Reuters, indeks MSCI Emerging Markets Asia naik 2,7%, ditopang lonjakan indeks KOSPI Korea Selatan yang sempat menguat lebih dari 5% selama perdagangan.

Baca Juga: FAO: Harga Pangan Dunia Turun pada Juni 2026, Dipicu Penurunan Harga Gula dan Susu


Kenaikan tersebut bahkan memicu aktivasi mekanisme sidecar, yakni penghentian sementara perdagangan program untuk meredam volatilitas pasar.

Secara mingguan, indeks regional tersebut berada di jalur kenaikan sekitar 1%, menjadi kinerja terbaik sejak pekan yang berakhir 19 Juni.

Penguatan KOSPI dipimpin oleh saham-saham teknologi. Samsung Electronics melonjak 8,2% setelah muncul laporan media yang menyebut perusahaan kecerdasan buatan (AI) Anthropic PBC tengah menjajaki kerja sama dengan Samsung untuk memproduksi chip AI khusus.

Sementara itu, SK Hynix juga melesat 10,9%.

Kenaikan tersebut membuat KOSPI berhasil memangkas sebagian besar penurunan hampir 8% yang terjadi sehari sebelumnya.

Baca Juga: Gelombang Panas Eropa Tewaskan Sedikitnya 3.700 Orang di Prancis, Belgia, dan Belanda

Pada Kamis (2/7), indeks acuan Korea Selatan itu juga sempat memicu penghentian sementara perdagangan akibat volatilitas tinggi, mencerminkan besarnya fluktuasi saham-saham yang berkaitan dengan industri AI.

Meski demikian, KOSPI masih membukukan penurunan mingguan untuk dua pekan berturut-turut.

Dari Amerika Serikat, sentimen positif datang setelah data menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja pada Juni melambat signifikan.

Selain itu, penciptaan lapangan kerja pada dua bulan sebelumnya juga direvisi lebih rendah, menandakan pasar tenaga kerja mulai mendingin.

Kondisi tersebut mengurangi ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.

Baca Juga: Khamenei Dimakamkan, Iran Siapkan Prosesi Akbar

"Data pasar tenaga kerja mendingin secara moderat sehingga pasar kembali berada dalam kondisi Goldilocks. Meski kenaikan suku bunga The Fed masih menjadi skenario dasar, urgensi untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat mulai berkurang dan hal ini mendukung sentimen investor," tulis analis DBS dalam risetnya.

Di kawasan Asia Tenggara, indeks saham utama Indonesia menguat 2,4%.

Sementara itu, indeks acuan Thailand naik 1,7% dan mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh saham Delta Electronics Thailand, pemasok Nvidia, yang naik sekitar 3%.

Menurut analis Krung Thai Bank, Poon Panichpibool, kinerja positif saham Delta juga didorong oleh penyesuaian portofolio investor asing.

"Sebagian investor asing yang sebelumnya membeli saham perbankan Thailand kemungkinan menambah kepemilikan saham Delta untuk menyesuaikan bobot indeks," ujarnya.

Sepanjang pekan ini, indeks SET Thailand telah naik hampir 5%, sedangkan secara tahunan telah menguat sekitar 28%.

Baca Juga: Pemakaman Khamenei Digelar Sepekan, Iran Berupaya Yakinkan Dunia Rezim Tetap Kuat

Bursa saham Singapura juga naik 0,5% hingga mencetak rekor tertinggi baru. Sementara itu, pasar saham Filipina dan Malaysia masing-masing menguat lebih dari 1%.

Di pasar valuta asing, mata uang Asia bergerak relatif stabil terhadap dolar AS. Rupiah bertahan di kisaran Rp 17.960 per dolar AS, sedangkan peso Filipina menguat tipis ke level 61,43 per dolar AS setelah sempat menyentuh level terendah dalam tiga pekan pada 1 Juli.

Ringgit Malaysia dan won Korea Selatan masing-masing menguat 0,3% dan 0,6% terhadap dolar AS.