KONTAN.CO.ID - Mayoritas bursa saham Asia menguat pada perdagangan Rabu (12/8), dengan saham Korea Selatan memimpin kenaikan. Penguatan didorong optimisme terhadap prospek investasi kecerdasan buatan (AI) setelah kinerja sejumlah perusahaan teknologi AS menunjukkan permintaan infrastruktur AI masih kuat. Di sisi lain, mata uang Asia cenderung bergerak terbatas karena kenaikan harga minyak meningkatkan tekanan terhadap negara-negara yang bergantung pada impor energi.
Baca Juga: Bursa Australia Ditutup Turun Rabu (12/8), Saham BHP dan CBA Jadi Beban Melansir
Reuters, Indeks saham negara berkembang Asia, MSCI EM Asia, naik 1,1%. Indeks KOSPI Korea Selatan ditutup melonjak 3,7%. Saham produsen chip Samsung Electronics ditutup menguat 6,7%, sedangkan SK Hynix melonjak 5,5%. Penguatan tersebut didukung optimisme setelah perusahaan komputasi awan AI CoreWeave dan Super Micro Computer menyampaikan rencana belanja modal serta proyeksi yang positif. Kondisi ini memperkuat keyakinan bahwa lonjakan investasi AI masih memiliki ruang untuk berlanjut. "Asia melihat cerita AI secara lebih selektif dibandingkan Wall Street," kata Dilin Wu, research strategist di Pepperstone. Saham teknologi Korea Selatan sebelumnya mengalami koreksi tajam hingga memasuki wilayah bear market karena kekhawatiran mengenai keberlanjutan belanja modal AI yang sangat besar.
Baca Juga: Saham Eropa Stabil, Harga Minyak Naik Jelang Rilis Data CPI AS IHSG Regional Asia Tenggara Menguat Di Asia Tenggara, indeks saham Jakarta memimpin penguatan dengan kenaikan 1,2%. Bursa Filipina dan Malaysia masing-masing naik 0,6% dan 0,3%. Sebaliknya, saham Singapura turun 0,7% setelah mencapai rekor tertinggi pada perdagangan sebelumnya. Pergerakan mata uang Asia cenderung terbatas karena kenaikan harga minyak memberikan tekanan terhadap negara-negara yang bergantung pada impor energi. Rupiah Indonesia melanjutkan pelemahan dan sempat turun 0,3% menjadi Rp17.885 per dolar AS. Dolar Singapura juga melemah tipis menjadi 1,2805 per dolar AS. Sementara won Korea Selatan turun 0,3% setelah reli pada Juli membuat mata uang tersebut menjadi salah satu dari sedikit mata uang regional yang masih mencatat penguatan sejak awal tahun, bersama dolar Singapura dan yuan China.
Baca Juga: IEA Pangkas Proyeksi Pasokan Minyak Dunia, Turun 4,3 Juta Barel per Hari Data Inflasi AS Jadi Perhatian Investor kini menanti rilis data inflasi AS yang akan menjadi petunjuk mengenai arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) selanjutnya. Pasar juga dibayangi meningkatnya ketegangan geopolitik setelah AS dan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran melaporkan serangan terpisah terhadap kapal. Asia juga dikejutkan peluncuran rudal Korea Utara pada Rabu pagi. Dilin Wu mengatakan mata uang negara-negara dengan cadangan transaksi berjalan yang terbatas dan utang dalam dolar AS akan paling rentan jika inflasi AS lebih tinggi dari perkiraan. "Jika CPI panas, cadangan transaksi berjalan yang tipis dan utang dalam dolar AS akan menjadi sumber tekanan. Peso dan rupiah paling terekspos. Won juga rentan," ujarnya. Data CME Group melalui FedWatch menunjukkan pasar memperkirakan peluang yang hampir seimbang antara The Fed mempertahankan suku bunga dan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan September.
Baca Juga: Dolar AS Menguat di Tengah Ketegangan Teluk, Pasar Tunggu Data Inflasi AS Saham India Tertekan
Di India, indeks acuan Nifty 50 turun 0,7%. Saham-saham Tata Group menjadi salah satu pemberat utama setelah pengunduran diri Chairman Tata Sons. Saham Tata Consultancy Services (TCS), perusahaan eksportir perangkat lunak terbesar India, merosot 4%. Di luar Asia, pasar saham Brasil juga tertekan oleh kombinasi inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan, risalah bank sentral yang lebih hawkish, serta penurunan peringkat saham Brasil oleh J.P. Morgan. Indeks saham acuan Brasil turun 2,5% pada Selasa dan mencatat penutupan terendah sejak pertengahan Januari. Mata uang real Brasil juga ikut tertekan.