KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia menguat pada perdagangan Rabu (21/10/2026), mengikuti kenaikan Wall Street di tengah optimisme investor terhadap kinerja keuangan perusahaan global. Laporan awal musim publikasi kinerja kuartalan menunjukkan mayoritas emiten Amerika Serikat (AS) berhasil melampaui ekspektasi laba analis. Mengutip
Reuters, indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang naik 1,5%. Penguatan dipimpin saham Korea Selatan yang melonjak sekitar 4%, sedangkan indeks Nikkei 225 Jepang meningkat 1,3%. Kontrak berjangka S&P 500 juga naik 0,3%.
Baca Juga: Elon Musk Buka Peluang Merger SpaceX-Tesla, Bisnis AI Jadi Pendorong Sentimen pasar global mulai membaik setelah aksi jual tajam pada pekan sebelumnya. Meski demikian, pergerakan saham di sejumlah pasar masih terbatas karena investor mencermati prospek sektor kecerdasan buatan (AI), kenaikan harga minyak, serta tingginya biaya pinjaman. Di Wall Street, indeks S&P 500 ditutup naik 0,3% pada perdagangan Selasa. Data LSEG menunjukkan, dari 13% perusahaan dalam indeks tersebut yang telah melaporkan kinerja keuangan, sebanyak 86% mencatatkan laba di atas perkiraan analis. Analis Westpac dalam catatannya menyebutkan, kinerja keuangan perusahaan yang solid menopang pasar saham AS. Namun, kekhawatiran terhadap prospek investasi AI, harga minyak yang tinggi, dan mahalnya biaya pendanaan masih membebani sentimen di pasar lainnya. Harga minyak sempat melemah menyusul laporan yang belum terkonfirmasi mengenai kemungkinan dimulainya kembali perundingan perdamaian. Namun, harga kembali menguat setelah laporan tersebut dibantah.
Baca Juga: Manchester City Terancam Dijual Paksa Buntut Kasus Pelanggaran FFP Harga minyak mentah Brent naik 1,1% menjadi US$ 110,03 per barel pada awal perdagangan Asia. Kenaikan ini memperpanjang penguatan setelah harga Brent menyentuh level tertinggi dalam lima bulan pada perdagangan Selasa. Pelaku pasar mencermati perkembangan diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat, termasuk pertemuan Presiden Iran dengan Kepala Angkatan Darat Pakistan yang berperan sebagai mediator. Di sisi lain, serangan kelompok Houthi terhadap infrastruktur Arab Saudi dan laporan serangan terhadap kapal di kawasan Teluk menambah ketidakpastian pasokan energi. Ekspektasi suku bunga dan pergerakan mata uang Di pasar valuta asing, yen Jepang melemah 0,1% terhadap dolar AS menjadi 158,33 yen per dolar AS. Pelemahan terjadi setelah data pemerintah menunjukkan ekspor Jepang pada September tumbuh 16,7% secara tahunan, lebih rendah daripada perkiraan pasar. Permintaan semikonduktor dan produk terkait AI menjadi penopang ekspor Jepang, meskipun sejumlah sektor lainnya masih mencatatkan kinerja yang lemah.
Baca Juga: Bursa Australia Nyaris Stagnan Rabu (21/10), Saham NEXTDC Anjlok 44,8% Sementara itu, mayoritas ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan Bank of Japan (BOJ) akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 30 Oktober. Mereka memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin baru dilakukan pada Desember, kemudian dilanjutkan secara bertahap setiap kuartal. Ekspektasi serupa muncul terhadap kebijakan Federal Reserve AS. Para ekonom memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 28 Oktober sebelum menaikkannya pada Desember. Pasar berjangka suku bunga The Fed menunjukkan probabilitas sebesar 83% bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober, berdasarkan data CME Group FedWatch. Adapun imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun naik 1 basis poin menjadi 5,123%. Di Eropa, saham Prancis tertekan oleh kekhawatiran terhadap rencana pemerintah menangani potensi kerusuhan. Perdana Menteri Sebastien Lecornu menyatakan pemerintah akan mengerahkan tambahan personel keamanan dalam jumlah besar untuk mengantisipasi aksi demonstrasi yang direncanakan berlangsung pada Sabtu. Imbal hasil obligasi pemerintah Prancis bertenor 10 tahun naik 2,7 basis poin menjadi 4,94%. Selisih imbal hasil terhadap obligasi pemerintah Jerman bertenor sama melebar 0,3 basis poin menjadi 153,1 basis poin.
Baca Juga: Indeks Nikkei Jepang Menguat 1,56% Rabu (21/10), Saham AI Jadi Pendorong Investor menanti keputusan Bank Indonesia Di pasar negara berkembang, investor menantikan keputusan kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).
Bank sentral Indonesia menghadapi tekanan untuk menstabilkan rupiah setelah mata uang tersebut melemah di tengah gejolak pasar yang dipicu peringatan MSCI mengenai kemungkinan penghapusan saham Indonesia dari indeks acuan globalnya. Perhatian investor tertuju pada langkah BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mempertimbangkan kondisi perekonomian domestik. Sementara itu, harga aset kripto bergerak menguat terbatas. Bitcoin naik 0,3% menjadi US$ 82.988,76, sedangkan Ether meningkat 0,2% menjadi US$ 2.452,59.
Baca Juga: Ekspor Jepang Tumbuh 16,7% pada September 2026, Ditopang Permintaan Chip AI